
Malam harinya.
Setelah kejadian tadi siang di perusahaan milik Vano. Keyla langsung menceritakan semua kepada Sinta ibu mertua nya. Dan Sinta menceritakan semua pada suami nya tentang Vano ternyata sudah menikahi Ziva. Hardy diam saja ia tidak berbicara apa-apa pada Sinta.
Namun Hardy meminta semua keluarga berkumpul malam ini termasuk Ziva. Karena Hardy ingin masalah anak nya segera selesai dan Hardy juga tidak mau di rumah nya memiliki banyak masalah dan di sini lah semua di kediaman Hardy. Sinta, Hardy, Vano, Keyla dan Ziva di tambah lagi Arman. Mereka semua sudah duduk di ruang keluarga.
"Vano. Apa alasan mu menikahi Ziva" tanya Hardy dengan suara berat nya.
"Tidak ada Pa" jawab Vano.
"Papa tau apa yang selama ini kau lakukan. Papa tau kau sudah mengancam Ziva untuk menikah dengan mu" kata Hardy.
"Papa selama ini tau?" tanya Sinta karena ia sedikit shock mendengar pengakuan suami nya. Yang ternyata mengetahui pernikahan Vano.
"Iya" jawab Hardy.
Sinta diam ia tidak berani lagi bertanya. Karena ia pun takut melihat wajah serius suami nya saat ini. Jadi ia lebih memilih diam dan mendengar saja. Apa yang akan di kata kan suami nya.
"Kalau Papa tau Vano sudah menikah lagi. Kenapa Papa diam saja?" tanya Keyla.
"Vano Papa sudah tau semua nya. Dan tidak ada satu hal pun yang tidak Papa tau. Namun Papa ingin mendengar dari mulut mu" kata Hardy. Hardy meletakan beberapa lembar photo pernikahan Vano dan Ziva di atas meja.
"Papa tau dari mana semua ini?" tanya Vano.
"Apa kau lupa siapa Papa mu ini?" tanya Hardy dengan suara berat dan tegas nya.
Vano menatap tajam Arman.
"Kau pikir Papa hanya punya Arman saja sebagai tangan kanan Papa. Papa punya banyak mata-mata" kata Hardy lagi.
"Ya Pa. Aku memang benar sudah menikahi Ziva. Dan benar aku yang memaksa Ziva menikah dengan ku" jawab Vano.
"Apa alasan mu menikahi Ziva" tanya Hardy.
"Dulu aku tidak punya alasan Pa. Tapi sekarang alasan ku adalah aku sudah sangat mencintai Ziva" jawab Vano dengan tegas.
"Lalu kenapa kau tetap mempertahan kan Keyla. Kalau kau sudah mencintai wanita lain?" tanya Hardy.
"Keyla tidak mau aku cerai kan Pa" jawab Vano.
"Keyla apa yang kau ingin kan saat ini?" tanya Hardy.
"Aku ingin Vano meninggal kan dia" kata Keyla sambil menunjuk Ziva.
"Ziva lihat wajah saya" kata Hardy dengan tegas.
Karena dari tadi Ziva hanya menunduk duduk di samping Vano. Ia tidak mau bicara ia yakin saat ini orang tua Vano pasti menyalahkan nya. Ziva tidak mau terlalu memikirkan hal itu ia sudah berpikir untuk meninggal kan Vano. Lagi pula Ziva yakin orang tua Vano saat ini pasti membenci nya. Ziva mendongkak dan menatap wajah Hardy.
"Apa kamu mencintai Vano?" tanya Hardy.
"Tidak Pak. Saya tidak pernah mencintai Mas Vano" jawab Ziva.
Sebenar nya saat ini ia pun tidak yakin kalau ia tidak mencintai Vano karena di hati nya ada rasa tidak rela bila ia harus berpisah dengan Vano. Namun ia tetap berusaha mengatakan tidak karena ia tidak mau terlihat lemah. Dan kalau pun keluarga Vano tidak menyukainya ia siap untuk pergi.
"Apa kau siap bila harus pergi dari hidup Vano?" tanya Hardy.
"Tidak. Aku dan Ziva akan selalu bersama" jawab Vano.
"Tapi dia tidak mencintai mu" kata Keyla dengan emosi.
"Ya Vano. Kali ini Keyla benar. Ziva tidak mencintai mu jadi kau tidak bisa tetap memaksa nya bersama mu" kata Hardy.
"Tidak. Dia mencintai ku atau tidak. Dia tetap istri ku dan aku tidak akan melepaskan nya" Vano kembali menegaskan.
Hardy tersenyum samar entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Melihat wajah anak sematawayang nya begitu ingin mempertahan kan Ziva. Yang mengatakan tidak mencintai Vano.
"Di sini kamu yang salah Vano. Papa tau semua dari awal. Dan bagai mana Ziva kamu ancam agar ia tetap bekerja di perusahaan Papa tau semua. Hanya Papa tidak ingin mencampuri urusan mu. Namun Papa lihat kau tidak bisa tegas dalam menyelesaikan masalah yang kau buat. Dan Papa tidak mau kau menyakiti dua wanita di sini. Dan malam ini kau harus memutus kan salah satu dari mereka!" kata Hardy.
"Tapi Pa. Keyla istri sah Vano. Seharus nya Vano tidak perlu memilih dan wanita ini lah yang di usih saat ini juga!!" kata Keyla dengan jengkel.
"Ziva juga istri sah Vano" kata Hardy.
"Istri sah. Bukan kah mereka hanya menikah siri?" tanya Keyla yang heran.
"Arman" kata Hardy.
Arman mengambil buku dua buku nikah milik Vano dan Ziva dari dalam tas kerja nya dan meletakan nya di atas meja yang di kelilingi keluarga itu. Sinta mengambil satu buku itu dan mata nya melebar ternyata Ziva juga menantu nya.
"Ini benar?" tanya Sinta dengan wajah kaget nya.
"Iya Nyonya" jawab Arman.
"Papa tau selama ini tapi tidak bercerita pada mama?" kesal Sinta.
"Ini tidak benar kau harus mencerai kan dia. Karena dia tetap lah orang ketiga di dalam rumah tangga kita" kata Keyla pada Vano.
"Tidak!" jawab Vano.
"Ziva saya tau semua nya. Bahkan tentang kamu yang bekerja di Club malam pun saya tau. Dan sekarang saya ingin kamu berbicara. Karena kamu selama ini di ancam oleh Vano dan bila kamu ingin pergi kali ini Vano tidak akan bisa menahan mu dengan mengancam mu, karena di akan berhadapan dengan saya." kata Hardy dengan suara berat nya.
"Saya sadar Pak. Di sini saya lah orang ketiga. Dan karena saya rumah tangga Keyla dan Mas Vano berantakan dan saya akan pergi meninggalkan Mas Vano" jawab Ziva dengan yakin.
"Bagus kalau kau sadar" jawab Keyla.
"Tidak. Kau tidak boleh meninggalkan ku" kata Vano.
"Vano biarkan Ziva memilih jalan hidup nya sendiri dan kalau dia mau pergi biarkan dia pergi" kata Hardy.
"Tapi aku mencintai nya Pa" jawab Vano.
"Kau mencintai nya tapi kau tidak bisa membahagiakan nya. Maka dari itu dia memilih pergi dari mu" kata Hardy.
"Ziva aku mohon jangan tinggal kan aku" kata Vano memohon pada Ziva.
"Mas aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga mu. Dan aku hanya orang ke tiga apa pun alasannya aku lah di sini yang salah" kata Ziva sambil memegang kedua tangan Vano.
"Tuhan kenapa sakit sekali" batin Ziva.