
Setelah tadi Anggia dan juga Ziva sepakat untuk makan malam bersama kini ia sudah sampai di kediaman Anggia.
"Assalamualaikum...." Ziva bersama Vano langsung masuk, keduanya duduk santai di ruang keluarga sambil menunggu sang pemilik rumah datang. Namun tidak lama berselang Ziva dan Vano mendengar ada suara yang seperti suara Anggia dan Bilmar.
"Apa Anggia sama Bilmar lagi berantem Mas?" tanya Ziva pada Vano.
"Sepertinya begitu, tapi kenapa ya?" Vano juga mendengar keributan itu, dan hingga akhirnya Anggia sampai ke ruang keluarga masih dengan perdebatannya tanpa menyadari Vano dan Ziva yang menonton mereka.
"Anggi jangan begitu dong, kenapa karena anak-anak jadi imbasnya ke Abang," Bilmar masih tidak terima jika dirinya harus mendapat hukuman karena kesalahan yang tidak ia lakukan.
"Terus Anggi, haru salahin anak-anak?" Anggia masih keras dan ia tidak mau mengalah.
"Heh.....ini ada apa?" Ziva mulai bersuara, karena kedua pasutri itu masih terlalu fokus dengan keributan mereka hingga tidak mentarai kehadiran dirinya dan sang suami.
Anggia dan Bilmar mendengar suara itu dan mereka kini dapat melihat ternyata Ziva dan Vano duduk di sofa menonton mereka.
"Apa kalian udah lama?" tanya Bilmar dan Anggia secara bersamaan, dan kemudian keduanya saling tatap.
"Kalian ini kenapa sih?" Ziva tertawa kecil melihat Anggia dan Bilmar, keduanya terlihat kompak walau pun tadi sempat bertengkar bahkan belum satu menit pun berlalu.
"Nggak tau lah Ziva, aku pusing," kata Anggia dan sesat kemudian Alma datang bersama Zie.
"Bunda Ziva," teriak Alma dan ia langsung memeluk Ziva.
"Ayah," Zie langsung berlari memeluk Vano.
"Kalian sedang apa?" menciumi Zie, walau pun Zie berusaha menjauh tapi Vano tetap saja berusaha mencium pipi gembul Zie.
"Kita abis belajar Papa," jawab Zie.
"Belajar apa?" tanya Vano.
"Matematika...." jawab Zie, "Pa mulai sekarang Zie nggak akan main di selokan karena cari kecebong, karena ternyata Daddy punya banyak kecebong buat makanan ikan Zie di rumah," terang Zie yang mengingat beberapa saat lalu, Ziva dan Bilmar bicara soal kecebong.
"Kecebong?" Vano menatap Bilmar, begitu juga dengan Ziva, keduanya bingung karena kecebong yang di maksud Zie sepertinya kecebong ajaib milik Bilmar.
"Iya, Ayah.....tadi Zie dengel sendiri kata Mommy, Deddy punya kecebong."
"Iya, Alma juga dengar," timpal Alma.
"Tukan," Zie tersenyum bangga karena ia tidak salah dengar dan berbicara sebenarnya di hadapan Vano dan Ziva.
"Zie sama Alma pergi main keluar dulu ya, di luar ada Alif juga," kata Vano yang memerintahkan agar anak-anak yang terlalu pintar itu pergi dan tidak mendengar pembicaraan mereka.
Sementara Vano kini tengah menatap Bilmar dan ia butuh sedikit penjelasan mengenai kecebong yang di maksud Zie dan Alma barusan.
"Jangan bilang kalian berdua melakukan itu di hadapan anak-anak?" tanya Vano to the point.
"Bukan ngelakuin itu Mas Vano, tapi anak-anak ini buat aku pusing.....nggak Zie nggak Alma bikin kepala aku mau pecah," jelas Anggia, lalu ia ikut duduk di sofa.
"Memangnya ini ada apa? Kenapa anak-anak ngomongin kecebong Bilmar?" Ziva juga penasaran dengan kecebong yang di bicarakan Zie.
"Aku nggak ngertilah Zie, kemarin Alma dan Zie bilang udah jatuh cinta sama Pak satpam di sekolahnya, terus Zie jadi istri kedua dan Alma jadi istri ketiga.... anak-anak itu bener-bener bikin otak aku pusing Ngi, terus kemarin Alif malah buka rok gurunya di sekolah karena katanya lihat jangkrik," Anggia menatap Bilmar dengan tajam, karena itu terjadi karena Bilmar ketahuan dan di lihat Alif tengah memeluk Anggia saat Alif bertanya Bilmar pansung bilan ada jangkrik di sana.
"Emmmmfffff....." Ziva malah menahan tawa melihat Anggia yang terlihat sangat tertekan dengan kelakukan para bocah ingusan itu.
"Ziva kamu kok ketawa sih, ini anak-anak udah kelewatan banget.....di ajarin eh....malah akhirnya kita yang dapat pelajaran dari dia," Anggia memijat tengkuknya karena pusing.
"Ahahahhaha......kamu kayak nggak ngerti aja dengan Zie, guru private nya aja Sampek angkat tangan ngajarin Zie," Ziva ingat saat terakhir kali guru Zie di siram ia langsung melarikan diri tanpa mau menerima uang dari dirinya, karena ia benar-benar ingin cepat pergi.
"Memangnya Zie udah punya guru private berapa?" tanya Anggia ikut penasaran.
"Kalau yang aku ingat lima belas, tapi itu yang aku ingat sialnya paling lama mereka ngajar Zie tiga hari, dan yang paling cepat mengundurkan diri setelah satu hari," kata Ziva lagi yang terus tertawa, karena menangis pun percuma itu hanya membuat imun menjadi tidak baik. Walau pun hati kecilnya menangis dan bertanya-tanya mengapa bisa anaknya seperti itu, tapi semua harus di syukuri.
"Aduh Zie, ada-ada aja," Anggia menggeleng mendengar cerita Ziva mengenai Zie yang sungguh membuat perut geli dan mengundang tawa.
"Kalian pernah nggak pas lagi enak-enak nya ya terus anak mendadak gedor-gedor pintu, aduh....Zie iya, pas lagi terang-terangan nya pula," kata Vano mengingat bertapa ia sedang baru masuk tapi Zie menggedor pintu kamar, dan menangis di luar sana. Ziva dan Vano panik takut terjadi sesuatu dengan putri kesayangan mereka, tapi ternya Zie begitu karena mainannya di rebut oleh saudara-saudaranya sendiri. Sungguh sangat menjengkelkan.
"Ngomong di sensor dong Mas," Ziva kesal karena Vano berbicara hal itu dengan jelas, suaminya itu suka sekali berbicara tanpa berpikir.
"Kita juga pernah kan Ngi?" kata Bilmar.
"Abang apasih, itu rahasia suami istri nggak usah di umbar," Anggia juga malu kalau suaminya berbicara hal itu di hadapan Vano dan Zie.
"Santai Ngi, Vano ini orang gila jadi nggak usah di ambil pusing kalau pun kita cerita ke dia," celetuk Bilmar.
"Sialan lu," Vano kesal pada saudaranya itu.
"Emang bener," kata Bilmar, "Eh....kemarin itu ya, pas gue lagi Ehem nya.....Alif datang dan pintu lupa di kunci sangking kebeletnya, pas gw lagi merayap itu tiba-tiba pintu kebuka dan di sana Alif masuk, dia tanya Daddy sedang apa? Aku jawab ada jangkrik tadi di baju Mommy dan Daddy sedang mencarinya karena Mommy ketakutan, aku suruh dia cepet-cepet keluar dan aku kunci pintu," Bilmar menggeleng, karena itu memang murni kecerobohan diri nya.
"Ahahahhaha.......gila lu nyari jangkriknya di situ amat!" seloroh Vano sambil tertawa.
"Sialan lu," Jawab Bilmar kesal.