Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 124


"Au," Seli merasa kepalanya berat dan ia reflek mendudukan tubuhnya sambil memijat dahinya, sejenak ia mengingat kejadian semalam di mana seorang pria menindih tubuhnya. Dengan perasaan wawas Seli menunduk dan melihat tubuhnya yang polos dan hanya tertutup selimut.


"Enggak," Seli berteriak sambil menjabak rambutnya sendiri ia mengira telah ternodai oleh pria semalam, "Hiks, hiks," Seli menangis dengan tubuh bergetar dan meremas selimut.


Arman yang masih tertidur lelap pun mulai terusik mendengar suara Seli yang menangis, dengan perasaan cemas Arman juga mendudukan tubuhnya menyentuh pundak Seli yang mebelakanginga.


"Sayang," tutur Arman.


"Lepas, hiks, hiks," Seli malah semakin menjerit ia sama sekali belum mengingat di mana Arman menjemputnya.


"Sayang ini Kakak," Kata Arman memutar tubuh Seli agar menatapnya.


Dengan perlahan Seli dan nafas yang tak beraturan membuka mata dan melihat Arman yang kini memegang lengan bagian atasnya.


"Kak hiks,hiks," Seli reflek memeluk Arman ia benar-benar takut.


"Udah jangan nangis," Arman mengelus kepala Seli dan menciumi pucuk kepala Seli.


"Kak semalam Seli.....hiks, hiks," Seli benar-benar berpikir ia telah di nodai pria bajingan yang membawanya kesebuah kamar.


"Sayang, lihat Kakak," Arman menangkup wajah Seli dengan kedua tangannya dan menghapus jejak air mata Seli dengan ibu jarinya.


"Kak, Seli udah...hiks, hiks," Seli lagi-lagi hanya menangis.


"Jangan takut tidak ada yang terjadi antara kamu dan pria brengsek itu," Arman meyakin Seli dan mencoba menenangkan sang istri yang tampaknya sangat terpukul.


"Tapi semalam Seli ingat dia peluk Seli Kak," ingatan itu lagi-lagi muncul hingga Seli merasa jijik dengan dirinya sendiri.


"Ngga ada Kakak yang semalam lakuin itu sama kamu," tutur Arman membuat Seli reflek menatap Arman dan mencoba mengingat kembali, "Coba kamu ingat semuanya, nggak ada yang terjadi antara kamu dan dia, kamu semalam sama Kakak," Arman kembali merengkuh tubuh kecil Seli kedalam pelukannya.


"Beneran Kak?" tanya Seli mulai tenang.


"Iya sayang, kamu jangan takut ya ada Kakak," Kata Arman kembali membaringkan tubuhnya dan menarik Seli juga ikut berbaring.


"Kak kok tidur lagi?"


"Sayang kita baru dua jam tidur Kakak ngantuk banget, kita tidur lagi ya," tutur Arman dengan memeluk tubuh Seli yang polos di bawah selimut, "Seli Kakak minta maaf ya, Kakak janji nanti Kakak bakal bicara ke Yuli untuk nggak terlalu dekat lagi sama Kakak, Kamu jangan pergi lagi ya," pinta Arman.


"Janji ya Kak," kata Seli sambil menahan malu mengetahui tubuh polosnya di peluk Arman.


"Iya janji," Arman semakin mengeratkan pelukannya di bawah sana.


Tangan Seli hanya saling remas, mukanya memerah setelah sedikit demi sedikit potongan ingatan di mana Arman menyentuhnya semalam muncul di otaknya. Arman menyadari pipi Seli yang memerah tapi ia tidak mengerti karena apa.


"Sayang kamu nggak nyaman Kakak peluk begini?" tanya Arman.


"Ish," Seli kesal tapi malu bila mengatakannya, "Kak Seli mandi dulu ya, Seli mau pakek baju juga," pinta Seli dengan suara kecil tapi masih bisa di dengar Arman.


"Nggak usah pakek baju, Kakak juga udah hapal sama tubuh kamu," tutur Arman dengan tangan yang mulai tak terkondisikan di bawah sana.


"Ish, Kakak apa sih ngomongnya harus banget gitu ya," wajah Seli benar-benar memerah mendengar perkataan Arman.


"Kenapa? Ingat kamu nggak boleh lagi ulangi seperti semalam," Arman kesal mengingat tubuh Seli yang hampir di nodai.


"Sayang Kakak minta maaf dan janji nggak ulangi lagi," tutur Arman meyakinkan Seli.


"Janji ya," mata Seli kembali mengeluarkan cairan bening dengan cepat Arman menghapusnya.


"Iya nanti kamu dan Kakak pergi kita temui Yuli, Kakak bakalan ngomong kalau Kakak nggak bisa lagi seperti dulu sama dia," Arman sangat mencintai Seli ia sangat takut terjadi hal-hal seperti semalam pada istrinya.


"Janji ya Kak?"


"Janji sayang."


DEEG.


Seli baru menyadari Arman sedari tadi memanggilnya sayang, sebelum menikah Arman tidak pernah memanggilnya semanis itu dan beberapa hari menikah pun tidak pernah, tapi pagi ini? Seli rasanya ingin bersembunyi dan tersenyum bahagia. Dengan cepat Seli menutup wajahnya yang memerah dengan selimut putih yang menutup tubuhnya.


Arman tau istrinya sedang malu-malu, Arman juga ikut masuk kebawah selimut, dan mendekatkan wajahnya pada Seli.


"Kak Arman ngapain," Seli mendorong wajah Arman.


"Sayang kamu semalam sexy banget deh," Arman mulai menggoda Seli dengan keduanya masih di bawah selimut.


"Kak Arman apa sih," Seli membuka selimut dan Arman juga ikut keluar dari bawah selimut.


"Kita lanjut lagi yang yuk," Arman menaik turunkan kedua alis matanya, membuat wajah Seli semakin merah.


"Nggak," jawab Seli dengan malu.


"Kenapa?"


"Kak Arman nggak usah ngomongin itu, lupain aja," teriak Seli yang hampir menangis.


"Nggak bisa yang, mulai sekarang itu udah jadi makanan sehari-hari Kak," Kata Arman tangannya melempas selimut yang mereka pakai kelantai.


"Kak," Seli berusaha bangun untuk mengambil selimut menutupi tubuhnya.


"Biarin aja," Arman menahan Seli dan mulai menindih kembali.


"Sssstttt," Seli menutup mata merasakan tangan Arman yang mengulangi hal semalam lagi.


"Sayang," tutur Arman sambil terus meliuk-liuk seperti ular.


Seli menutup mata pikirannya kini di kuasai oleh kenikmatan dunia yang di tawarkan Arman, ia hanya menderima dan menerima semua sentuhan indah itu. Seli lupa dengan rasa malu nya kini bibirnya malah mengeluarkan desahan.


Arman tersenyum menatap wajah Seli yang kini juga penuh damba. Dengan perasaan yang semakin mengelora Arman menghentakan sesuatu yang keras pada Seli. Seli meremang tak kata mendapat hantaman bertubi-tubi dari Arman.


Rasa sakit bercampur nikmat seolah menjadi satu menjadi sesuatu yang terasa indah, Arman yang memang belum pernah merasakan yang namanya manis madu wanita kini seperti mulai candu setelah merasakan manis madu yang di keluarkan Seli.


Tidak sampai di situ saja setelah keduanya selesai dengan bermain di ranjang, Arman mengangkat Seli ke kamar mandi untuk mandi bersama. Alih-alih mandi bersama justru Arman kembali menghantam tubuh Seli.


Seli hanya menerima dan menerima, keduanya yang baru pertama kali merasakan yang namanya surga dunia itu. Tampak sangat menikmatinya, Seli juga ikut membalas semua yang Arman berikan padanya, beberapa kali Arman mengucap kalimat cinta yang seolah mampu membuat Seli kehilangan akal sehatnya. Keduanya hanya berada di dalam kamar satu hari penuh sampai malam menjelma dengan istirahat hanya untuk makan, itu pun Arman yang memesan makanan untuk di antar kekamar mereka.