
...🌻Readers baik hati Vote🌻...
Setelah Vano keluar dari Apartement Keyla ia langsung pulang untuk memastikan kalau Ziva baik-baik saja. Vano mulai mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang ia memang memiliki hobi mengemudi jadi ia sering kali tidak mau menggunakan sopir peribadi. Kalau pun ia butuh sopir ia hanya meminta Arman yang menjadi sopir nya.
"Sayang" kata Vano setelah ia sampai di rumah.
"Mas" kata Ziva yang merasa aneh karena Vano baru saja pergi ke kantor tapi sudah kembali lagi.
"Kamu baik-baik saja" tanya Vano khawatir sambil melihat keadaan Ziva.
"Aku baik-baik saja. Memang nya aku kenapa?" tanya Ziva.
"Tidak. Aku hanya khawatir Keyla melukai mu dan anak kita" kata Vano sambil memegang perut Ziva yang masih rata.
"Aku tida apa-apa Mas" jawab Ziva sambil memeluk lengan Vano.
Vano tersenyum wajah nya terlihat jelas memancarkan kebahagiaan. Karena kini Ziva sudah mencintai nya dan Ziva kini mulai bermanja pada dirinya. Sungguh kini semua sudah sangat berubah dari yang dulu kedua nya yang selalu ribut dan tidak pernah ada hal yang romantis. Tapi kini keduanya sudah benar-benar saling mencintai dan saling melengkapi.
"Mas boleh enggak Seli datang ke sini buat temani aku. Soal nya aku sepi Mas tidak ada teman ngobrol di rumah" kata Ziva meminta ijin pada Vano.
"Boleh tapi kalian tidak boleh keluar. Kalau kalian keluar harus ada pengawal" kata Vano.
"Tuan kita ada meeiting" kata Arman yang baru saja datang dari kantor untuk menjemput Vano. Karena dari tadi Arman menghubungi Vano tapi tidak di jawab sama sama sekali panggilan telpon dari Arman.
"Arman" kata Ziva.
"Ya nyonya" jawab Arman.
"Nanti Seli kemari" kata Ziva.
"Waw" kata Arman melebarkan senyum nya.
Sedangkan Vano mengerutkan alisnya. Karena ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Arman dan Ziva. Yang keduanya saling tersenyum saat membicarakan Seli. Dan siapa Seli itu. Vano memang pernah mendengar Ziva menyebut nama Seli dan ia pernah melihat Seli di kampus bersama Ziva. Tapi ia sama sekali tidak mengerti maksud Arman membicarakan Seli saat ini.
"Apa kau butuh asisten?" tanya Ziva.
"Seperti nya begitu" kata Arman.
"Kalian berbicara apa?" tanya Vano.
"Nyonya Ziva saya pernah membantu anda. Dan sekarang giliran anda yang membantu saya!" kata Arman.
"Okey tidak masalah. Asal nanti kau mau memanjat pohon jambu tetangga sebelah" kata Ziva.
"Tidak masalah nyonya asal anda membantu saya" kata Arman.
"Kalian tidak mengangap saya ada di sini?" tanya Vano dengan jengkel.
Karena dari tadi Vano hanya di anggap pajangan di antara Ziva dan Arman yang sedang membicarakan hal yang tidak di mengerti oleh Vano. Vano benar-benar kesal karena Ziva juga tidak memperdulikannya.
"Bos Vano ini masalah hati. Bos enak sudah dapat teman. Nah saya belom. Jadi nyonya Ziva harus membatu saya" jawab Arman.
"Membatu apa. Itu bukan urusan saya" kata Vano pada Arman.
"Sayang ayo kekamar" kata Vano menarik tangan Ziva dengan sangat lembut.
"Tuan!!!" Arman setengah berteriak. Karena Vano sudah berjalan menjauh dari nya.
"Em" jawab Vano dengan malas dan menghentikan langkah kaki nya menuju kamar.
"Kita akan ada meeiting dan hanya tinggal beberapa menit lagi" kata Arman.
"Batal kan saja. Aku mau meeiting dengan istri ku" jawab Vano dan kembali menarik tangan Ziva ke kamar.
"Mas" Ziva berhenti dan Vano pun ikut berhenti.
"Apa sayang" kata Vano sambil membuka pintu kamar. Tapi Ziva kembali menutup pintu yang di buka oleh Vano.
"Kenapa di tutup kita belum masuk" jawab Vano.
"Mau ngapain di kamar. Aku lagi malas di kamar" kata Ziva.
"Ayolah Yang" kata Vano.
"Mas lupa ya. Apa kata Doter?" tanya Ziva dengan hati-hati.
"Mas ini demi anak kita. Kamu mau terjadi sesuatu pada anak kita?" tanya Ziva.
"Enggak Yang tapi gimana dengan nasip aku?" tanya Vano.
"Mas ini demi anak kita" kata Ziva.
"Ya sudah. Aku kekantor saja dari pada di sini mau apa-apa pun tidak bisa" kata Vano dengan wajah jengkel nya.
"Mas sabar" kata Ziva.
"Kamu bilang sendiri sama adik Mas jangan sama Mas" kesal Vano.
Ziva tertawa mendengar jawaban Vano. Ziva baru tau wajah garang yang selama ini ia lihat bisa bertingkah seaneh saat ini. Biasa nya suami nya itu selalu berbicara dengan nada yang tinggi tapi sekarang sudah seperti anak kecil yang merengek minta di beli es krim.
"Yang" Vano memanggi Ziva sambil melingkarkan tangan nya di pinggang Ziva.
"Apa Mas. Ayo sana pergi kasihan Arman sudah menunggu" kata Ziva sambil berusaha melepaskan diri dari Vano.
"Yang kalau tidak bisa pakai cara yang biasa. Pakai cara lain saja" kata Vano sambil mengigit dan menghisap lekuk Ziva. Bahkan sampai meninggalkan jejak kepemilikan.
"Issh apa sih Mas" kata Ziva.
"Ayo lah Yang" kata Vano.
"Mas!!!" kata Ziva dengan nada meninggi.
"Iya sudah jangan marah Mas tidak jadi meminta" kata Vano sambil melepas pelukannya dan mengangkat kedua tangan nya.
"Sudah sana pergi. Kasihan Arman" kata Ziva.
Huuufp.
Vano menarik napas nya dengan kasar karena ia tidak ingin pergi jauh-jauh dari Ziva.
"Ya sudah Mas pergi" kata Vano.
"Iya hati-hati" kata Vano.
"Kiss" kata Vano menunjuk bibir nya.
Cup!.
Ziva memberikan apa yang di minta Vano. Tapi sayang ciuman itu di pipi bukan di bibir. Dan itu membuat Vano jengkel.
"Sayang di sini" kata Vano sambil menunjukan bibir nya.
"Sama saja" jawab Ziva.
"Beda Yang kalau di pipi itu kamu lagi cium bayi" kata Vano.
"Kalau di bibir?" tanya Ziva sambil memutar bola mata nya dengan malas.
"Di bibir itu baru ciuman buat Ayah si bayi" kata Vano.
"Issh Mas apa sih sama saja" jawab Ziva.
"Sayang di sini" kata Vano.
Ziva tidak mau berpikir terlalau lama. Ia langsung memberikan apa yang di minta Vano. Agar Vano bisa lebih cepat pergi berkerja karena ia merasa sedikit kasihan pada Arman yang harus menghadapi rekan bisnis yang memarahi nya. Karena Vano selalu mengundur waktu meeiting.
Tapi sayang Vano memang tidak bisa menepati janji nya. Ia menahan lekuk Ziva dan c***** itu berubah panas dan ia mulai m**** bibir Ziva dengan rakus. Bahkan tangan nya mulai bermain di gudukan Ziva.
"Mas" Ziva memundurkan diri nya menjauh dari Vano.
"Ayo lah Yang" kata Vano melas.
"Mas bukan aku enggak mau. Tapi Dokter belum mengijinkannya karena kandunganku sangat lemah" kata Ziva.
"Ya sudah Mas pergi ya. Kamu hati-hati nanti Seli datang kalian tidak boleh keluar ya" kata Vano tersenyum pada Ziva.
"Iya Mas" jawab Ziva.