
"Tadi Papa bilang wanita ni pernah berkerja di Club malam. Itu berarti dia sudah tidur dengan banyak lelaki. Vano kamu sadar dia wanita bayaran semua lelaki sudah meniduri nya" kata Keyla meremeh kan Ziva.
"Maaf tuan kalau saya lancang. Tapi satu hal yang ingin saya sampai kan agar semua tau. Saya memang benar pernah bekerja di Club malam dan memang benar saya menjadi wanita bayaran. Tapi satu hal yang harus kau tau nyonya Keyla yang terhormat kesucian saya di beli oleh suami Anda. Dan setelah itu saya hanya menjadi pelayan saja di sana tidak lebih. Dan satu hal lagi yang harus anda garis bawahi. Saya di paksa menikah dengan suami anda bukan saya yang memohon agar dia menikahi saya. Silahkan Anda tanya sendiri kepada suami Anda" kata Ziva dengan tegas.
"Aku tidak yakin kau hanya tidur dengan Vano saja" kata Keyla.
"Cukup Keyla!. Seharus nya di sini kau sadari kesalahan mu apa. Sehingga suami mu mencari wanita lain di luar sana" kata Hardy yang mulai mengepalkan tangan nya. Karena menantu nya itu terus menyalah kan orang lain tanpa menyadari kesalahan nya.
"Tapi wanita ini yang salah Pa" kata Keyla menujuk Ziva.
"Ziva di sini tidak bersalah justru di sini dia lah korban" jawab Hardy.
"Korban apa?. Keyla di sini korban Pa. Ziva pelakor" jawab Keyla.
Braak!.
Hardy mengebrak meja. Semua diam termasuk Keyla. Karena jelas wajah Hardy menahan kemarahan.
"Suami mu ini pergi mencari wanita lain karena kau tidak pernah satu kalipun melayani dia dengan baik. Dan Ziva menikah dengan suami mu karena suami mu ini memanpaat kan kelemahan nya. Gadis yang tidak berdaya yang masih berusia belasan tahun." kata Hardy.
"Kamu mengerti Keyla?" tanya Hardy.
"Pa. Vano tau di sini Vano yang salah. Tapi apa pun kata Papa Vano tetap bersama Ziva dan itu tidak bisa lagi di ubah" kata Vano dengan tegas.
"Lalu bagai mana dengan ku?" tanya Keyla.
"Tidak usah merasa korban Keyla. Aku tau selama kau menikah dengan ku kau masih berhubungan dengan mantan pacar mu itu" kata Vano.
"Keyla apa itu benar?" tanya Sinta.
"Tidak Ma. Vano bohong karena dia ingin menutupi kesalahan nya" jawab Keyla.
Vano mengambil ponsel di saku nya. Lalu menunjuk kan sebuah photo Keyla sedang berpelukan bersama seorang laki-laki yang sedang duduk di Restaurant.
"Lalu itu apa?" tanya Vano.
"Ini bohong. Ini tidak benar" kata Keyla.
"Apa perlu aku membawa orang itu kemari?" tanya Vano.
Keyla menelan sativanya. Jantung nya berdetak kencang. Wajah nya mendadak pucat. Dan rasa takut mulai terlihat di wajah nya.
"Keyla Mama tidak menyangka kamu seperti itu. Kamu menghina Ziva karena di wanita bayaran. Namun derajat dia jauh lebih tinggi dari kamu" kata Sinta yang mulai geram.
"Mama kenapa bicara begitu?" tanya Keyla.
"Dia menjual diri nya karena terpaksa dan dia masih sendiri. Sedangkan kamu masih punya suami tapi pergi dengan laki-laki lain. Apa pantas kamu di sebut wanita terhormat?" kata Sinta.
"Sudah cukup!" kata Hardy.
"Sekarang apa Ziva dan Keyla mau di poligami?" tanya Hardy.
"Tidak " jawab Keyla.
"Ziva. Apa kamu mau di poligami" tanya Hardi.
Ziva tidak menjawab ia hanya menunduk dan menggelengkan kepala nya. Ia binggung harus bagai mana karena ia masih menghargai kedua orang tua Vano dan apa pun keputusan nya ia akan menerima. Ziva merasa kalau pun ia banyak berbicara itu hanya akan semakin membuat semua orang beranggapan kalau ia wanita perebut suami orang. Karena orang ketiga tetap lah bersalah di mata orang lain.
"Saya tidak tau harus apa Bu." kata Ziva.
"Panggil saya Mama. Kamu juga menantu saya" kata Sinta.
"Mama kenapa Mama membela pelakor" kata Keyla.
"Dia bukan pelakor. Kalau dia pelakor dia yang memohon untuk di nikahi. Tapi ini suami mu yang mengancam dia" jawab Sinta.
"Biar Ziva saja yang pergi Ma. Ziva...." tiba-tiba Ziva pingsan.
"Ziva" Sinta mulai menggoyang-goyang kan tubuh Ziva.
"Sayang" teriak Vano.
"Bawa ke kamar" kata Sinta.
Vano mengangkat Ziva kedalam kamarnya Vano tidak perduli Keyla yang berteriak tidak mengijin kan nya.
"Arman telpon Dokter Riana" kata Sinta memerintah kan Arman.
Kini semua ada di dalam kamar Vano hanya Hardy yang masih duduk di ruang keluarga itu. Hanya lima belas menit Dokter keluarga Vano datang dan mulai memeriksa Ziva.
"Sebentar tuan" kata Dokter itu. Karena Vano terus berusaha membangun kan Ziva. Dan tidak berniat pergi dari samping Ziva.
"Bagai mana Dok?" tanya Vano yang sudah tidak sabar mengetahui keadaan Ziva.
"Nona ini sedang mengandung tuan. Dan untuk lebih jelas nya Anda bisa membawa kerumah sakit agar bisa di periksa oleh Dokter kandungan" kata Dokter Riana.
"Hamil Dok?" tanya Vano.
"Iya. Kondisi nona ini dan kandunganya sangat lemah tuan. Dan saya harap dia lebih banyak istirahat tiidak banyak pikiran. Karena seperti nya dia seperti tertekan dan itu dapat berdampak buruk pada janin nya" kata Dokter Riana menjelas kan pada semua yang ada di kamar itu.
Vano diam dan ia mulai menyadari selama ini Ziva selalu bekerja dan malam Vano selalu membuat nya bergadang di tambah lagi banyak keributan yang sering terjadi antar ia dan Ziva.
"Saya permisi nyonya" Dokter Riana berpamitan pada Sinta.
"Iya terimakasih" jawab Sinta.
Sinta dari tadi hanya diam. Dan ia sangat bingung mendengar apa yang di katakan Dokter Riana yang mengatakan Ziva hamil. Ada rasa bahagia yang ia rasakan di balik semua ketegangan yang tadi terjadi. Namun ada rasa bersalah juga karena kejadian tadi membuat Ziva semakin tertekan.
Ziva mulai mengerjab kan mata nya. Dan ia mulai sadar mata nya memandang ruangan itu. Ia menyadari itu bukan kamar nya. Lalu Ziva melihat Vano yang berada di samping nya. Dan wajah Sinta yang tersenyum pada nya dan di sebelah Sinta ada Keyla yang jelas sekali menatap nya tajam.
"Sayang kamu sudah sadar" kata Vano.
"Ziva selamat ya Nak. Kamu akan jadi Ibu" kata Sinta sambil berjalan mendekati Ziva dan memeluk Ziva.
"Jadi Ibu?" tanya Ziva bingung.
"Iya sayang" kata Vano.
"Dokter tadi yang periksa kamu bilang kalau kamu hamil" kata Sinta dengan wajah yang berbinar
"Tidak mungkin" jawab Ziva. Karena ia mengingat ia meminum pil kb lalu sekarang kenapa ia hamil.
"Apa aku pernah lupa meminun Pil itu" batin Ziva.