
Arman numpang lewat.
***
Kini Arman sedang mengemudi dengan kecepatan sedang. Matanya fokus menatap jalanan, namun tiba-tiba matanya menatap seseorang yang cukup ia kenal, yang sedang berlari di pinggir jalan. Ya itu Seli gadis yang di sukai Arman sedang di kejar segerombolan preman di malam hari. Tanpa banyak berpikir Arman menghentikan laju mobilnya.
Ciitttt!.
Arman mengerem mobilnya dengan mendadak. Ia mulai turun dari mobil. Lalu memegang tanggan Seli, Seli takut dan meronta-ronta.
"Lepas" teriak Seli sambil memukuli Arman. Ia pikir orang tersebut salah satu dari preman yang mengejarnya.
"Seli ini aku" kata Arman.
Seli yang mengenali suara itu mulai berhenti memukuli Arman dan juga tidak lagi berteriak.
"Arman" kata Seli dengan reflek Seli memeluk Arman karena ketakutan yang ia rasakan.
"Tenang ada aku" kata Arman sambil menenangkan Seli.
"Hey" kata seorang preman, terlihat tiga orang preman yang berdiri di hadapan Arman. Sementara Seli yang membelakanggi preman itu merasa semakin gemetar saat mendengar suara preman itu.
"Berikan gadis itu pada kami" kata Preman yang lainnya.
"Arman tolong aku" kata Seli.
Arman diam saja namun otaknya sedang memikirkan sesuatau.
"Ayo berikan gadis itu" teriak preman bertubuh kekar itu.
Arman melepas pelukan Seli padanya dan mendorong sedikit tubuh Seli ke belakang agar menjauh darinya.
"Ini" kata Arman memberikan Seli padanya.
"Arman" kata Seli dengan suara gemetar dan juga air matanya yang terus menetes.
"Ahahahahaha. Kau baik sekali" kata Preman itu karena dengan mudahnya Arman memberikan Seli.
"Arman aku mohon. Tolong aku hiks hiks" Seli menagis sekencang-kencangnya.
"Ayo sayang kemari, kita bersenang-senang" preman itu memanggil Seli mendekat padanya.
"Maaf Seli aku tidak bisa menolong mu" kata Arman dengan wajah datar tanpa expresinya.
"Arman aku mohon" Seli terus memelas pada Arman.
"Baiklah aku akan menolong mu. Tapi dengan syarat" kata Arman berbisik di telinga Seli.
"Syarat?" tanya Srli bingung.
"Hey cepat kemari" preman itu mulai menarik tubuh Seli. Arman melepaskan Seli dan membiarkan preman itu memegang Seli.
"Arman apa pun syaratnya aku mau" teriak Seli tanpa ragu.
Dengan cepat Arman menghajar satu-persatu para preman yang ingin menjamah Seli itu. Arman sebenarnya dari tadi sudah ingin menberi bogem pada ketiga preman jalanan itu, namun tidak ada salahnya ia pikir menggunakan cara yang sedikit licik agar mendapat keutungan yang besar.
"Ampun tuan" kata Ketiga preman itu karena sudah mengeluarkan cairan merah di beberapa bagian wajahnya. Dan mungkin tangan juga kakinya patah.
"Kau!!!" kata Arman pada salah satu preman yang tadi memegang Seli. Arman mematahkan tanggan yang berani menyentuh gadis yang di cintainya itu.
"Ampun tuan. Ampun" pria yang berada di bawah kungkungan Arman terus memohon.
"Sepertinya tangan mu yang kotor ini harus ku cuci dengan air mendidih" ucap Arman dengan suara berat dan tertahan.
"Ampun tuan. Saya minta maaf" kata preman itu lagi.
"Tuan kami tidak akan mengganggu nona itu lagi" kata Preman satunya yang terkulai di tanah.
"Tidak ada ampun dalam kamus ku. Yang ada hanya hukuman" jawab Arman dengan mata yang tajam memerah berkabut emosi.
Seli yang bersandar di mobil semakin gemetar dan ketakutan. Keringat dingin mulai membasabi tubuhnya, Sali tidak tau ternyata Arman sekejam itu. Ini benar-benar di luar dugaan Seli. Arman melirik Seli ia melihat Seli ketakukan, Arman mulai pematahkan tangan dan kaki preman itu dan menendangnya. Arman bangun dan pergi mendekati Seli, sebenarnya Arman ingin menghabisi preman itu namun ia takut Seli akan trauma bila melihat kekejamannya itu.
"Masuk" kata Arman mulai membuka pintu untuk Seli.
"Ayo turun" kata Arman.
Seli seperti robot ia hanya menurut saja. Arman dan Seli mulai duduk di kursi taman itu. Hari mulai larut terlihat kota semakin sepi juga hanya lampu yang berkelap-kelip mengelilingi mereka.
"Kenapa diam" kata Arman sambil menyandar kan tubuhnya di kursi, tanpa melihat Seli yang duduk di sampingnya.
"Ti-tidak ada" jawab Seli dengan gemetar.
Arman bangun dari duduknya. Lalu kembali ke mobil yang tidak jauh dari mereka. Seli menangis karena ia pikir Arman pergi meninggalkannya di taman itu tengah malam begini.
"Hiks hiks hiks" terdengar suara tangisan Seli sambil menutup majahnya.
"Ini" terdengar suara berat itu di samping Seli.
Seli mulai melihat siapa yang berada di dekatnya. Ternyata Arman tidak meninggalkannya, namun mengambil sebotol air mineral di mobil.
"Terimakasih" jawab Seli dan mulai mendenguk air mineral yang tadi di berikan Arman.
"Kenapa masih menagis" tanya Arman yang kini duduk di samping Seli.
"Aku pikir kau meninggalkan aku tengah malam begini di sini" jawab Seli.
"O. Jadi kau tidak mau aku tinggak kan?" tanya Arman dengan senyum penuh kemenangan.
"Enak saja. Sana pergi" ketus Seli merasa jengkel dengan ucapan Arman.
"Okey" Arman berdiri.
"Jangan" dengan reflek Seli memegang tangan Arman agar tidak meninggalkannya.
"Jangan" tanya Arman kembali menggoda Seli dan juga kembali mendudukan dirinya di samping Seli.
"Arman!!" teriak Seli.
Arman tersenyum miring dan mulai melanjutkan ide gila yang dari tadi sudah ia susun.
"Kau masih ingat dengan syarat ku tadi?" tanya Arman.
"Iya. Syaratnya apa biar aku berikan" kata Seli dengan enteng tanpa tau apa yang ada di otak Arman.
"Kau tidak boleh menolak. Karena kau sudah berjanji" kata Arman menatap Seli dengan tajam.
"Iya" teriak Seli tepat di wajah Arman.
"Kau harus mau menikah dengan ku. Dan sekarang kita sepasang kekasih" kata Arman dengan entengnya.
Seli melebarkan matanya dan menelan saliva dengan kasar.
"Syarat macam apa ini" ketus Seli.
"Kau sudah berjanji menerima syarat dari ku. Atau kau ku serahkan pada preman nanti di persimpangan jalan sana" kata Arman menunjuk jalanan yang terkenal banyak preman yang sedang mabuk bila malam hari di tempat itu.
"Arman apa ada syarat yang lain?" tanya Seli mencoba bernegosiasi.
"Tidak!" jawab Arman tegas.
"Ayolah Arman" kata Seli lagi.
"Panggi aku sayang" jawab Arman dengan entengnya.
Huffp.
Seli menghempaakan nafasnya dengan kasar. Dan mulai menuruti ucapan Arman dari pada harus di serahkan pada preman jalanan itu. Lebih baik ia menyerahkan dirinya pada Arman.
"Oke!!" jawab Seli dengan emosi.
"Ayo pangil aku sayang" kata Arman lagi karena ia merasa menang.
"Tapi besok beliin aku cincin berlian" kata Seli karena Seli yakin Arman pasti lebih memilih meninggalkannya dari pada membelikan berlian untuknya. Seli tersenyum dengan bahagia.