Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 40


Kini Ziva dan Vano sudah berada di ruangan nya. Ziva yang sedang tidak memiliki pekerjaan hanya bersantai di sofa ruangan itu. Vano yang sedang menatap layar komputer nya mulai menyadari Ziva yang sedang berbaring di sofa. Vano tersenyum sambil mengangkat sebelah alis nya. Sepertinya ide mesum nya akan segera muncul. Namun sebelum Vano bangun dari duduk nya pintu terbuka. Vano menghentikan gerakannya dan kembali duduk.


Clek!.


Pintu terbuka. Ziva juga dengan cepat membetulkan duduk nya.


"Hay" kata Bilmar. Ya orang yang datang dan membuka pintu adalah Bilmar.


"Mas Bilmar" kata Ziva.


"Ehem Mas" kata Vano. Dengan jengkel nya.


"Hay Ziva sayang" kata Bilmar.


"Mulut loe " kata Vano.


"Apa sih? Loe enggak jelas banget" ketus Bilmar.


"Ziva. Aku di suruh Mami sama Mama jemput kamu. Kan kamu sudah janji hari ini" kata Bilmar.


"Iya. Ayo" kata Ziva.


"Siapa yang mengijin kan kamu pergi" kata Vano. Vano bangun dari kursi nya dan berjalan mendekati Bilmar dan Ziva yang berdiri saling berhadapan.


"Ya ampun Vano. Ini Mama sama Mami yang suruh. Apa kamu tetap tidak mengijinkannya" kata Bilmar.


"Saya ijinkan kalau saya juga ikut" kata Vano.


"Sorry. Bro kita mau pacaran dan tidak bisa di ganggu" kata Bilmar.


Vano memegang kerah jas Bilmar. Dan ia mulai melayangkan tangannya yang sudah terkepal dengan sangat kuat di udara. Ziva hanya diam saja ia tau Bilmar pasti sedang memanas-manasi Vano. Ziva pun ingin tau apa Vano akan mengatakan kalau ia adalah istri Vano juga.


Atau Vano akan tetap menutupi semua nya. Bagaimana pun Ziva juga memiliki perasaan ia pun ingin merasakan di akui sebagai seorang istri di depan umum bukan hanya sekedar penghanggat ranjang saja. Yang seolah tidak di harap kan sama sekali. Ziva juga butuh kejelasan dan kepastian dalam hubungan yang ia jalani.


"Bro loe apa-apaan" kata Bilmar melepas tangan Vano yang memegang kerah jas nya.


"Berhenti mendekati Ziva!!" kata Vano dengan tegas.


"Apa hak loe. Melarang kita dekat" kata Bilmar.


"Karena dia istri ku!" kata Vano.


Ziva dan Bilmar saling tatap keduanya merasa tidak percaya. Mendengar Vano mengakui itu. Ziva juga merasa sedikit lega karena dengan begitu berarti Vano benar-benar membuktikan ucapannya yang meminta maaf pada nya di malam kemarin.


"Tunggu. Kenapa loe biasa aja?" tanya Vano.


"Terus gue harus apa? apa gue harus loncat-loncat sambil tepuk tangan?" tanya Bilmar.


"Apa loe tau selama ini hubungan gue sama Ziva?" tanya Vano.


"Iya" jawab Bilmar.


Vano sedikit tersenyum mendengar jawaban sepupunya itu. Namun Vano sedikit bingung sejak kapan dan kenapa Bilmar bisa tau.


"Dari mana loe tau Ziva istri gua dan sejak kapan?" tanya Vano.


"Dari buku nikah loe yang loe selipin di sana" kata Bilmar sambil menunjuk susunan rak buku.


"Sejak sebelum resepsi pernikahan loe sama Keyla" kata Bimar lagi.


"Terus kalau loe udah lama tau. Kenapa loe masih deketin istri gua?" tanya Vano.


"Karena gua liat loe engga pernah nenghargai dia. Dan kalau loe engga engga bisa biar gua yang bahagia kan dia" jawab Bilmar.


"Bilmar cukup! Aku bukan mainan yang bisa di berikan pada siapa saja bila sudah bosan." kata Ziva.


"Maaf Ziva. Aku hanya ingin memperingatkan suami mu ini" kata Bilmar sambil tersenyum sinis pada Vano.


"Iya dulu mungkin aku begitu. Tapi tidak untuk sekarang. Dan jangan pernah dekati istri ku lagi!" kata Vano.


"Ok tidak masalah" jawab Bilmar.


Dreett Dretttt!.


Phonsel Bilmar berdering dan dengan cepat Bilmar menjawab pamggilan itu.


"Ya mi" kata Bilmar setelah panggilannya terhubung.


"Ziva nya mana. Kenapa lama sekali" kata Ratih dari seberang sana.


"Cepat pulang ya Mama sama Mami nunggu dari tadi" kata Ratih..


Bip.


Ratih memutuskan panggilannya.


"Ziva mami sama mama nunggu kamu" kata Bimar.


"Ayo" kata Vano sambil memarik tangan Ziva.


***


Ziva dan Dan Vano turun dari mobil. Begitu juga dengan Bilmar. Ketiganya masuk dan saat ini mereka ada di rumah Sinta orang tua Vano. Karena Ratih dan Sinta sepakat untuk masak bersama Ziva di rumah Sinta.


"Ziva" kata Ratih setelah Ziva masuk.


"Kamu sama siapa?" tanya Sinta.


"Sama tuan Vano dan tuan Bilmar Ma, Mi" jawab Ziva.


"Loh kok sama Bilmar panggil nya tuan" kata Ratih.


"Ah sudah lah apa saja boleh. Ayo kita ke dapur kita bikin kue" kata Ratih yang di angguki Sinta.


"Iya ayo" kata Sinta.


"Sayang" tiba-tiba Keyla muncul dan langsung memeluk Vano dengan bahagia. Karena ia pikir Vano pulang untuk menemui nya.


"Minggir" kata Vano. Vano melepas pelukan Keyla pada tubuh nya dan ia menaiki tangga menuju kamar nya.


Semua nya melihat apa yang dilakukan Vano barusan pada Keyla namun semua hanya diam. Tidak ada yang berbicara. Dan Keyla mulai berlari menyusul Vano ke kamar.


"Sayang ayo kita bikin kue nya di dapur" kata Sinta pada Ziva.


Sinta, Ratih dan Ziva mulai membuat kue. Ketiga nya sesekali bercanda dan tertawa bersama sampai kue-kue yang mereka buat selesai. Tapi mata Sinta mulai menatap jari-jari Ziva Sinta tau yang tersemat di jari-jari Ziva itu adalah cincin pernikahan Sinta sangat yakin.


"Ziva. Apa mama boleh bertanya?" kata Sinta.


"Tanya apa Ma?" kata Ziva.


"Apa kamu sudah menikah?" tanya Sinta.


"Mbak apa sih tanya yang begituan. Ya jelas belum." kata Ratih.


"Bukan itu aku hanya penasaran apa itu cincin pernikahan?" tanya Sinta.


Ratih juga ikut melihat jari-jari Ziva dan ia juga mulai penasaran.


"Iya Ziva. Ini cincin apa?" kali ini Ratih juga ikut bertanya.


Ziva diam saja ia bingung harus menjawab apa. Namun disaat dia bingun harus memjawab pertanyaan Ratih dan Sinta. Tiba-tiba ponsel Ziva berdering dan Ziva melihat ternyata pembantu nya yang menghubungi nya.


"Halo mbok" jawab Ziva.


"Den Daffi jatuh dari sepeda Neng, kaki nya terluka dan dia memanggil Neng Ziva terus" kata Mbik yem dengan sedikit panik.


"Ya mbok saya pulang sekarang!" kata Ziva.


Bippp!.


"Ma, Mami. Ziva harus pulang. Adik Ziva jatuh dari sepeda dan dia sekarang nannya in Ziva terus jadi Ziva pulang sekarang ya mi" kata Ziva dengan sedikit panik.


"Ya sayang hati-hati di jalan ya" kata Ratih.


Ziva mencium punggung tangan Ratih dan Sinta. Lalu ia berjalan keluar setengah berlari karena merasa panik dengan keadaan adik nya.


"Ayo aku antar" kata Bilmar.


Ziva tidak banyak berpikir ia langsung menaiki mobil Bilmar karena sudah merasa panik. Tanpa Ziva ketahui Vano melihat dari balkon kamarnya saat Ziva menaiki mobil Bilmar.


"Kenapa Ziva pergi dan dia pergi bersama Bilmar" batin Vano. Sambil menahan emosinya.


"Sayang" kata Keyla yand dari tadi memeluk lengan Vano.


"Keyla cukup!" kata Vano.


Vano pergi meninggalkan Keyla dan ia ingin menyusul Ziva kenapa Ziva pergi bersama Bilmar.