Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 176


Kini Arman dan Vano tengah berada di ruang cctv untuk melihat hasil rekamantentang wanita yang mencoba melenyapkan Daffa, Vano dan Arman terus memperhatikan wanita itu namun tak sedikit pun wanita itu bisa di kenali.


"Siapa ya?" Arman masih terus memperhatikan gerak-gerik wanita itu.


"Tadi wanita ini juga menabrak Ziva di depan, coba lihat mungkin saja wajahnya sempat tertangkap kamera," tutur Vano meminta petugas melakukan apa yang ia pinta.


"Sewaktu wanita itu teejatuh apa dia menyentuh Ziva?" tanya Arman pada Vano.


"Iya, tuan lihat hasil rekaman ini orang itu sempat memegang pundak Nyonya. Itu artinya jidik jari wanita ini ada pada pakaian Nyinya tuan," kata si petugas yang mengutarakan pendapatnya.


"Ya kau benar sekali, kalau begitu biar kita selidiki bersama polisi saja," kata Arman.


"Baiklah," jawab Vano yang juga setuju dengan ide Arman, "Kita harus bergerak cepat, orang ini sangat berambisi menghabisi Daffa," tutur Vano lagi.


*


Dua jam kemudian.


Kini Ziva di bawa ke rumah kosong yang terletak di sudut kota jakarta ini, ia di sana bersama Vano juga Arman tentunya. Ziva tak tau sama sekali mengapa ia di bawa kesana, bahkan berulang kali ia bertanya tapi Vano tak menjawab ia hanya di minta untuk ikut saja.


"Mas, Ziva takut," Ziva menatap banyak pria bertubuh lekar di sana, ruangannya pun minim penerangan sangat membuat Ziva berkeringat padahal cuaca cukup dingin di malam ini.


"Nggak papa," Vano memeluk Ziva sambil terus berjalan ke ruangan yang mereka tuju.


"Mas......kenapa mereka liatin kita terus, wajahnya serem semua lagi. Ziva kan takut," kata Ziva semakin mempererat pelukannya sambil terus berjalan bersama Vano.


"Heh, berhenti menatap istri ku seperti itu atau saya congkel mata mu!" tutur Vano pada pria yang di maksud Ziva.


"Ziva, kamu nggak usah takuk mereka wajahnya memang sudah begitu," kata Arman.


"Tapi aku takut Arman," jawab Ziva.


Kini mereka sampai di ruangan di mana ada dua orang wanita yang tengah duduk di kursi dan terikat tali, wajah keduanya pun di tutup dengan kain hitam hingga tak bisa terlihat.


"Mas mereka siapa? Dan kenapa mereka di ikat begitu?" berbagai pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Ziva.


"Buka!" Vano memerintahkan pada pengawal membuka penutup wajah keduanya, tak lupa mengguyur dengan air agar keduanya tersadar.


BYUUR.


Keduanya tersadar dan mentap Ziva dan Vano.


"Ziva?" Tia juga tak kalah terkejut melihat Ziva ada di hadapan mereka.


"Mas....." Ziva menatap Vano penuh tanya.


"Mereka yang mencelakai Daffa," jawab Vano yang mengerti istrinya kini tengah kebingungan.


"A......apa?" Ziva melonggo mendengar penuturan Vano, "Tante kenapa tega? Apa belum cukup apa yang selama ini kalian lakukan pada kami," tanya Ziva dengan amarah yang meninggi.


"Iya kenapa, kau tau mertua mu itu sudah membuat aku janda, mereka membuat Hutomo meninggal dengan cara yang sadis. Dan kalian pun harus merasakan apa yang aku rasakan!" teriak Tia tak kalah kesal.


"Tunggu Ziva, Nenek memang terlibat dalam pelenyapan Papa mu. Tapi Nenek tidak tau menau tentang masalah sekarang," kata Mirna berusaha membeladiri.


"Kalian berdua jahat, setelah melenyapkan Papa dan Mama sekarang kalian masih ingin melenyapkan kedua adik ku?" Ziva tak habis pikir dengan kedua wanita tak punya jiwa kasihan iru sedikit pun.


"Kau tau Ziva, Kakek mu dulu yang tidak adil memberikan kasih sayang. Kakek mu lebih menyayangi Papa mu dari pada saya, saya juga anak kandungnya. Saya dan Papa mu memang berbeda Ibu. Tapi kami terlahir dengan Ayah yang sama dan kau tau? Papa mu selalu mendapatkan yang lebih," kata Tia yang masih saja meneriaki Ziva, bahkan kalau tangan tia tidak terikat mungkin saja ia kini sudah melayangkan tanggannya pada Ziva.


"Tante manusia berhati iblis, wajah cantik tante tak sesuai dengan busuknya hati tante. Bertahun-tahun perusahaan Papa di bawah kendali Tante, setelah Tante lenyapkan Papa dan Mama. Dan itu pun belum membuat Tante puas? Sampai kapan dendam itu terus tertanam dalam hati Tante, sampai kapan? Tante seharusnya sadar dengan semuanya," tanya Ziva.


"Kau masih anak bau kencur yang tak tau apa-apa," tandar Tia lagi.


"Tapi berdasarkan semua data yang saya dapatkan kau bukan anak kandung dari Idris Asidiq, atau Kakek Ziva," tutur Vano yang kini membaca data yang di berikan Arman tentang Tia.


"Kau jangan asal bicara, aku anak Ayah. Kau masih anak bau kencur tidak tau apa-apa, kau hanya orang asing bahkan kau baru melihat ku setelah menikah dengan Ziva!" kata Tia lagi.


"Iya kau benar, tapi di sini jelas tertulis kau bukan anak dari Idris Asidiq, Nyonya Mirna bisa kau jelaskan yang sebenarnya?" tanya Vano pada Mirna atau wanita tua yang madih duduk bersebelahan dengan Tia putri kandungnnya.


Mirna diam saja ia menatap Tia dan beralih menatap Ziva.


"Nek jawab?" tanya Ziva yang semakin di landa penasaran.


"Iya, aku hamil saat satu bulan saat menikah dengan Kakek mu dengan pria lain. Tapi aku tidak menjebak Kakek mu, dia yang menawarkan diri untuk menjadi Ayah dari janin yang ku kandung. Dengan syarat aku harus merawat dan menyayangi Ayah mu seperti anak kandungku sendiri, Kakek mu juga meminta aku menutupi semua itu dari Tia. Tapi setelah mereka besar aku merasa Kasih sayang yang di berikan Kakek mu lebih besar pada Papa mu. Dan aku benci akan hal itu hingga aku gelap mata dan semuanya terjadi sampai aku menghabisi Mama dan Papa mu," jelas Tia menundukan kepala menyesal pun sudah percuma kini ia siap bila di beri hukuman apa saja.


"Ibu bilang aku bukan anak Ayah?" Tia shock akan hal itu, setahunya tak ada yang membuktikan ia bukan anak dari Idris Asidiq bahkan akta kelahirannya saja tertulis nama Idris Asidiq.


"Iya Tia, kau memang bukan anak kandung dari Kakeknya Ziva," jelas Mirna lagi.


"Nggak! Aku nggak percaya, Ibu bohong! Selama ini Ibu bilang aku anak Ayah dan Ibu yang mengatakan kalau Ayah selalu pilih kasih," kata Tia tak bisa menerima kenyataan yang ia terima kini.


Selama ini ia hanya tau ia terlahir dari keluarga berada, namun kini Ibunya sendiri mengakui jika ia hanya anak orang lain yang di tanggung jawab pi oleh Kakek Ziva. Bahkan semua kenyataan itu ia tahu setelah ia tumbuh menjadi dewasa seperti ini. Bahkan setelah banyak yang menjadi korban.