
Kini Ziva dan Vano sedang bebelanja perlengkapan bayi mereka, Ziva yang ingin memilih sendiri untuk keperluan bayinya. Vano sebenarnya melarang dan biar semua di selesaikan oleh pekerjanya saja, namun Ziva sekarang ingin mengelilingi mall dan mebeli sendiri sesuai dengan keinginannya.
Ziva ingin mempersiapkan semua lebih awal karena ia berencana untuk tidak lagi bepergian bila usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tujuh, Ziva kini lebih hati-hati ia takut apa yang dulu terjadi saat melahirkan Zie terulang kembali. Bahkan ada dokter yang selalu menemaninya setelah usia kandungannya memasuki bulan ke tujuh.
"Mas warna ungu bagus ya," Ziva menunjukan kaos kaki pada Vano.
"Yang anak Mas cowok, apa iya warna ungu?" Vano malah kesal di buat sang istri yang malah memilih warna aneh menurutnya.
"Cantik loh Mas," Tutur Ziva yang terus meliat-liat kaos kaki di tangannya.
"Masalahnya anak Mas ganteng yang, bukan cantik," Jawab Vano lagi butuh banyak stok kesabaran untuk bisa berkomunikasi dengan baik kalau bersama Ziva.
"Oh iya, Ziva lupa," Ziva meletakan kaos berwarna ungu dan mengambil warna hitam lalu menunjukannya pada Vano.
"Iya itu baru bener," Jawab Vano tersenyum.
"Jadi menurut Mas dari tadi Ziva salah!" Kesal Ziva.
"Nggak salah sayang ku, cinta ku, cuman pilihannya kurang tepat kalau buat anak cowok kita," Vano merangkul pundak Ziva agar emosi ibu hamil itu mereda, Vano sudah belajar banyak dari kehamilan Ziva yang pertama kini ia sangat tau dengan suasana hati Ziva.
"Hehehe, iya Ziva ngerti," Ziva bahagia karena Vano menjelaskan dengan benar tanpa melukai hatinya.
"Iya dong, suami siapa dulu!" Kata Vano sambil mencolek Ziva.
"Suami Ziva gitu loh," Jawab Ziva dengan bahagia.
"Iya dong," Kata Vano lagi.
Selesai keduanya memilih baju bayi kini Ziva ingin mengisi perutnya yang sudah berdemo minta di isi, Vano membantu Ziva duduk dan memesan makanan dengan jumlah porsi yang banyak. Sebab ia tau Ziva tidak akan cukup makan satu porsi saja, ibu hamil itu kini jika di hadapkan dengan makanan seperti orang kelaparan. Yang tak pernah makan.
"Sini Mas suapin," Vano menyuapi sang istri dengan sangat hati-hati bayak pengunjung yang lainnya berbisik-bisik dengan kerakusan Ziva, tapi ada juga yang memuji Vano menjadi suami yang siaga saat istrinya sedang hamil tua, ada juga yang terlihat tidak suka dan ada juga yang malah ingin di perlakukan demikian oleh suaminya.
"Ziva minum Mas," Pinta Ziva, Vano langsung memberikannya pada sang istri.
"Mau lagi," Tanya Vano.
"Ziva udah kenyang, makasih Mas ku," Ziva tersenyum bahagia dan mengecup pipi Vano.
Cup.
"Yang kok cuman sekali?" Vano bukannya bersyukur tapi malah perotes dengan apa yang di berikan Ziva, Ziva mendekatkan mulutnya di telinga Vano lalu berbisik.
"Nanti yang hot Ziva kasih di rumah," Bisik Ziva membuat Vano mengacungka jempol dan tersenyum.
"Yuk," Vano malah dengan semangat mengajak Ziva pulang, tapi Ziva tidak mau ia masih ingin jalan-jalan.
"Mas, Ziva pengen beli perhiasan, kok pulang sih," Ziva malah cemberut karena belum mendapatkan hal yang sebenarnya ia inginkan, alasan utama Ziva mengajak Vano berbelanja adalah untuk membeli perhiasan yang sedang ia inginkan.
"Oh, hehehe, kirain sekarang," Vano mengurungkan niatnya untuk pulang, malah ia menggaruk tengkuknya.
"Nyesel Ziva bisikin sama Mas tau gitu," Kesal Ziva.
"Udah ayo kita beli perhiasan," Vano menarik Ziva ke toko langganan Sinta.
"Ziva mau kalung ya Mas," Kata Ziva.
"Iya ayo," Kata Vano membawa Ziva ke sebuah toko yang sudah sangat mengenal Vano.
"Tunjukan perhiasan yang terbaru untuk istri saya," Kata Vano kembali menjadi pria dingin.
"Ayo nyonya ikut saya," Seorang karyawan tersebut sangat sopan pada Ziva.
Lama Ziva memilih perhiasan hingga matanya menangkap seorang wanita yang pernah ia lihat, Keyla. Ia Ziva tidak salah lihat Keyla adalah seorang wanita yang berada di dekatnya. Ziva mencari keberadaan Vano dan Vano masih sibuk dengan ponselnya.
"Mas," Ziva menghampiri Vano.
"Udah yang," Vano menyimpan ponselnya di saku karena berpikir Ziva sudah selesai berbelanja.
"Ziva udah selesai belanjanya, tapi itu Keyla kan Mas," Telunjuk Ziva mengarah pada seorang wanita yang kini berkerudung panjang bersama seorang pria yang tengah memilih perhiasan.
Vano diam dan melihat dengan jelas dan memang benar itu Keyla, namun yang membuat Vano merasa aneh adalah Keyla dengan hijab panjangnya. Hal yang tak pernah Vano duga sama sekali.
"Iya yang," Jawab Vano membenarkan, "Tapi itu bukan urusan kita ayo kita pergi," Vano yang tidak mau ambil pusing tentang hal demikian lebih memilih pergi, selain bukan Ziva ia sangat malas memikirkan hal lainnya.
"Iya, kita pulang yuk Mas, Ziva juga udah selesai," kata Ziva.
"Yuk," Keduanya pulang karena sudah selesai berbelanja.
Di rumah Arman duduk di sofa dengan perasaan tak karuan, Arman seperti orang gila dengan rambut acak-acakan kemeja kusut bahkan ia hanya memakai sendal jepit saja.
"Arman kamu kenapa begini?" Sinta yang tau Arman adalah pria yang rapi dan bersih sangat terkejut kini melihat penampilan yang di tunjukan Arman.
"Nggak papa Ma," Arman membaringkan tubuhnya di sofa dan menutup wajahnya dengan bantal sofa.
"Seli mana?" Tanya Sinta, sebab tidak biasannya Arman datang sendiri tanpa ada menantu tercintanya itu.
"Di rumah Bunda Ma," Jawab Arman.
"Arman kamu nggak lagi ribut sama Seli kan?" Tanya Sinta dengan perasaan khawatir.
"Arman sore mau ke luar negeri Ma ngerjain kerjaan di sana," Jawab Arman, ia datang menemui Sinta memang ingin pamit, sebab jika ia tidak pamit nanti pasti Sinta mencarinya.
"O begitu," Sinta lega, di pikiran Sinta adalah Arman menitipkan Seli di rumah Lastri karena Arman akan berangkat keluar negeri untuk bekerja.
"Assalamualaikum," Terdengar suara Ziva yang masuk bersama Vano dan juga pekerja yang membawa banyak belanjaan Ziva.
"Walaikumsalam," Jawab Sinta tersenyum melihat menantu dan anaknya sudah pulang.
"Arman lu ngapain," Tanya Vano yang duduk di sofa bersama Ziva juga.
"Gw mau urus proyek yang di luar negeri, gw cuman mau pamit aja, gw berangkat dulu ya," Pamit Arman mencium punggung tangan Sinta lalu pergi.
Vano dengan cepat menyusul Arman yang sudah masuk ke dalam mobil, ia tau adik anggkatnya itu sedang dalam masalah. Vano tidak mau bertanya di depan Sinta, takut kalau Sinta shock mengetahui apa yang akan di katakan Arman.
"Heh, lu ada masalah sama Seli?" Tanya Vano yang kini masuk ke mobil Arman dan duduk menatap Arman.
"Gw dan cerai sama Seli," Jawab Arman.
"Cerai?" Vano shock ia tidak yakin akan apa yang di katakan Arman sebab Vano tau seberapa besar cinta Arman pada Seli.
"Iya, lu turun dan jangan bilang sama Mama dulu ya, gw mau nenangin diri sambil ngurus perusahaan yang di luar negeri," Jawab Arman meminta Vano turun segera dari mobilnya.