Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 73


Saat ini tubuh Ziva yang lemah dan belum sadarkan diri sedang tarbaring di ranjang. Dokter Anggia mulai memeriksa Ziva dan ia juga terpaksa memasang selang infus di tangan Ziva, karena Ziva kekurangan cairan dan itu sangat berpengaruh pada janin yang ia kandung. Maka dari itu dokter Anggia dengan cepat mengambil tindakan.


"Kenapa istri saya belum sadar" tanya Vano pada Dokter Anggia karena ia sangat takut melihat tubuh lemah Ziva yang lemah tak sadarkan diri.


"Ya tuan. Sebentar lagi nyonya akan sadar" jawab Anggia.


"Sampai kapan?" tanya Vano lagi.


"Nyonya masih terlalu muda tuan, dan tubuhnya masih berusaha menyesuaikan diri dengan kehamilan nyonya Ziva di usia sangat muda ini. Dan itu juga sangat beresiko tuan. Di tambah lagi nyonya Ziva tidak mampu mengendalikan dirinya, mungkin itu penyebab usia yang masih muda dan tubuhnya belum mampu menyesuaikan diri." kata Anggia menjelaskan sedetil-detil nya agar Vano tau resiko kehamilan Ziva di usianya yang terbilang masih sangat muda ini.


"Resiko?" tanya Vano ia kini duduk di sisi ranjang sebelah tanganya memegang kepala Ziva. Lalu sebelah lagi memengan tangan Ziva dengan hati yang harap harap cemas.


"Nyonya mengalami Anemia dan itu dapat membuat tubuh nyonya menjadi lemah dan lelah, hingga bisa berpengaruh pada tumbuh kembang janin. Dan kondisi nyonya Ziva yang hamil di usia terlalu muda bisa menyebabkan pendarahan saat melahirkan"


Karena Anggia merasa Vano terlalu meremeh kan keadaan Ziva, Ia terlalu menganggap kehamilan itu hal yang wajar dan juga terlalu sepele tanpa ia ketahui kalau kondisi istrinya sangat memprihatinkan.


"Apa separah itu?" tanya Vano lagi.


"Ya tuan. Dan kalau dalam waktu tiga puluh menit lagi nyonya belum sadarkan diri. Nyonya harus kita bawa ke rumah sakit, untuk melakukan tindakan lebih lanjut secepat mungkin" kata Dokter Anggia lagi.


Vano menunduk ia membenamkan wajahnya di kepala Ziva. Sambil terisak ia menyesal karena tidak menuruti permintaan Ziva. Ia pikir hamil semudah itu dan istrinya tidak mengalami apa apa namun setelah ia tau ia sangat menyesal sudah memperlakukan istrinya seperti yang sudah lewat.


Ziva mulai menggerakan tangannya dan kelopak matanya mulai bergerak. Dengan pelan Ziva mulai membuka matanya, Vano yang melihat Ziva sadar dengan cepat memeluk tubuh lemah Ziva. Anggia tersenyum saat melihat Ziva sudah sadarkan diri.


"Anda memang wanita kuat nyonya" gumam Anggia. Ia pergi meninggalkan kamar Ziva tidak lupa ia menutup pintu.


Vano yang berada di dalam kamar bersama Ziva. Mulai menciumi wajah istrinya rasa takutnya sedikit terbayarkan saat melihat mata Ziva terbuka. Vano menciumi tangan Ziva dan tangan Ziva basah karena air mata Vano.


"Sayang kau sudah sadar" kata Vano.


Ziva mulai mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Ia mengingat setelah ia masuk ke kamar pandangannya berubah gelap dan setelah itu ia tidak ingat apa apa lagi. Dan sekarang ia melihat tubuhnya berbaring di ranjang dengan selang infus yang terpasang di tangannya.


"Aku tidak papa Mas" jawab Ziva menguat kan dirinya.


Ziva mencoba bangun dan ia berusaha mendudukan dirinya.


"Sayang kau mau apa?" tanya Vano yang mencoba menahan istrinya saat Ziva mencoba bangun.


"Aku haus Mas. Aku mau mengambil minum" jawab Ziva.


Vano tidak mampu lagi membendung air matanya. Air mata Vano yang sudah kering kembali menetes karena ucapan Ziva. Ziva bahkan sudah tak mengharapkannya lagi walau hanya untuk mengambil minuman saja. Vano kembali memeluk Ziva. Sementara Ziva bingung dengan apa yang terjadi pada Vano.


"Kenapa kau tidak meminta Mas saja yang mengambil?" tanya Vano setelah menghentikan tangisannya.


"Memangnya Mas mau?" tanya Ziva.


Deeg!.


"Sayang kamu kenapa bicara begitu?" tanya Vano.


"Tidak Mas. Aku hanya takut Mas menolak apa yang ku inginkan dan aku bisa melakukan semua nya sendiri" kata Ziva.


"Mas ambil minum buat kamu" kata Vano ia tidak mau mendengar ucapan Ziva lagi hati nya terasa sakit mendengarkan apa yang Ziva rasakan.


Vano bangun dari duduknya dan ia keluar dari kamar lalu ia memanggil Art untuk mengambilkan minuman dan makanan untuk Ziva. Karena Ziva dari semalam sampai siang hari ini belum makan nasi sedikit pun. Tidak berselang lama Vano kembali masuk dengan membawa napan berisi nasi dan minum untuk Ziva. Ia meletakannya di atas nakas.


"Duduk sayang" kata Vano sambil berusaha membantu Ziva duduk bersandar di kepala ranjang.


"Mas aku minum aku sangat haus" kata Ziva.


Vano memberikan Ziva minum dan Ziva mendeguk habis air di gelas yang Vano berikan padanya. Vano mulai menyuapi Ziva tapi Ziva menolak.


"Buka mulut nya sayang" kata Vano sambil mengangkat sendok yang sudah di depan mulut Ziva.


"Aku tidak lapar Mas" kata Ziva sambil menjauhkan sendok itu dari mulutnya.


"Tapi kau belum makan dan kau harus makan sedikit saja" kata Vano mencoba merayu Ziva agar Ziva mau makan.


"Tidak Mas. Aku tidak sanggup dengan bau nasi ini" kata Ziva sambil terus mendorong sendok yang yang berisi nasi dan lauk di hadapannya.


"Kalau begitu kau mau makan apa. Dan apa kau mau Mas yang membuatkan nya atau kau mau Mas yang mencaraikannya" tanya Vano dengan berbagai pertanyaan.


"Tidak Mas. Aku sedang tidak ingin papa. Aku hanya ingin istirahat" jawab Ziva yang sudah tidak berselera bila membayangkan atau pun memakan sesuatu.


"Ayo lah yang. Makan sedikit saja" kata Vano lagi dengan tangannya kembali mengisi sendok dengan nasi dan lauk.


"Mas jauh kan. Aku tidak kuat dengan bau makan itu" kata Ziva.


"Sedikit saja" kata Vano.


"Huuuekk" Ziva sudah tidak tahan dengan bau makanan yang di dekatnya. Ia memuntahkan isi perutnya tanpa sempat ia bangun dan berjalan ke kamar mandi. Dan muntahannya tepat mengenai suaminya.


"Maaf Mas aku tidak sengaja" kata Ziva dan entah mengapa Ziva merasa takut kalau Vano akan memarahi nya.


"Tidak apa sayang" jawab Vano tersenyum dengan tangan nya mengelus pipi pucat Ziva. Vano tau istrinya itu sedang merasa takut dan ia baru sadar ternyata kehamilan Ziva ini sangat berpengaruh pada tubuh dan keadaan Ziva.


"Maaf Mas" jawab Ziva lagi sambil menundukan kepalanya.


"Sayang tidak perlu minta maaf. Mas sayang sama kamu. Sekarang nanti dan selama nya." jawab Vano dengan memandang wajah Zuva dan berusaha terus meyakinkan Ziva kalau Zuva tidak perlu takut dengan hal itu.


"Sayang" kata Vano lagi.