Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Ektra part 7


"Cepat katakan di mana si dekil itu?" tanya Bilmar lagi.


"Di kantor," jawab Ziva dengan berbohong, tapi tangannya menunjukan arah gorden.


"Jangan bohong!" kesal Bilmar.


"Aku nggak boong!" jawab Ziva dengan kesal sambil tangannya masih menunjuk arah gorden.


"Zi......." ucapan Bilmar terhenti karena ia mengerti dengan kode yang di berikan Ziva, "Aku ngerti," kata Bilmar.


"Dari tadi kek!" kesal Ziva.


Bilmar mengangguk ia meloncati sofa dan bersembunyi di belakang sofa tersebut, sementara Anggia langsung duduk saja di sofa bersama Ziva.


"Kurang ajar Vano sialan, Ziva aku ke kantor Vano saja sekarang," kata Bilmar berpura-pura berpamitan, dan seolah ia pergi.


"Iya," jawab Ziva, beracting seolah Bilmar benar-benar pergi.


Tak lama berselang Vano keluar dari persembunyiannya, ia mendekati Ziva dan Anggia.


"Si gesrek tadi udah pulang?" tanya Vano.


"Suami Anggi Mas!" kesal Anggia.


"Iya suami mu, siapa bilang suami ku. Najis," jawab Vano.


"Ck....." Ziva hanya geleng-geleng melihat tinggkah Vano, tak lama berselang Bilmar keluar dari persembunyiannya.


BUUUKK.....


Bilmar memukul Vano, dari belakang. Vano yang terkejut langsung berdiri dan menatap Bilmar, yang sedang mentapnya kesal.


"Lu bener-bener Kakak sepupu durhaka ya, lu mau bikin rumah tangga gw ancur," kesal Bilmar sambil kembali melompati sofa, hendak memukul Vano.


Vano berlari dengan cepat, bersembunyi di belakang Ziva, "Heh, gw juga ribut sama Ziva. Gara-gara Zie ngomong sama Ziva kalau gw nikah lagi sama gurunya," jelas Vano.


"Terus kenapa lu suruh Zie, ngomong begitu ke bini gw. Gw udah ribut sama Anggi, gara-gara lu," Bilmar kesal dan ia ingin memberi bogem mentah pada Vano, namun Vano masih menjadikan Ziva sebagai tempat berlindungnya.


"Mas, jangan tarik-tarik dong," kesal Ziva karena piama tidurnya di tarik oleh Vano, "Lepasin," Ziva mencoba melepaskan tangan Vano, tapi tidak bisa.


"Tunggu yang, Mas harus berlindung ada iblis di depan," Vano mengejek Bilmar.


"Lu buiang gw iblis?"


"Emang lu iblis!" jawab Vano.


"Lu Kakak nya iblis," terang Bilmar.


"Kalian berdua sama, sama-sama gila. Lepas," teriak Ziva.


"Deddy sama Ayah sama Bunda ngapain?" tanya Zie yang baru saja melihat apa yang tengah orang-orang dewasa itu lakukan.


"Pasti Daddy sama Ayah lagi main tarik tambang," tebak Alma yang datang bersama Zie.


"Zie ikut main," teriak Zie.


"Alma juga, Alma di pihak Ayah," Alma langsung berlari kebelakang Vano dan memeluk pinggang Vano, sebab Vano tengah memeluk pinggang Ziva dambil membungkuk.


"Zie di pihak Daddy," teriak Zie sambil berlari kebelakang Bilmar, "Mommy Anggi, ngapain jadi penonton, ayo sini!" teriak Zie lagi meminta Anggia ikut bermain.


"I......iya," kata Anggia yang mulai mengikuti keinginan Zie.


"Eh.....tunggu, Zie ambil talinya dulu," Zie berlari ke kamar Ziva dan mengambil satu selendang milik sang Bunda, dan membawanya keruang keluarga, "Nggak ada tali, ini aja ya," kata Zie memberikannya pada Anggia.


Anggia dan Ziva paling depan menarik selendang tersebut, sementara Zie kembali berlari ke belakang Bilmar.


"Aku itu sampek tiga," teriak Zie lagi. "Satu......tiga," teriak Zie.


"Duanya mana?" tanya Vano"


"Kan Zie bilang satu sampek tiga, bukan itung satu, dua, tiga, ayo tarik," kata Zie yang terus bersemangat.


"Dasar ompong!" kesal Vano.


"Ayah geslek," jawab Zie.


"Bukan geslek, tapi serek!" tambah Alma.


"Ck....tidak ada yang benar," kata Bilmar.


Akhinya Ziva menarik selendang tersebut, dan Bilmar juga dengan Anggia menarik. Sementara Zie di belakang Bilmar sudah seperti kain yang di tiup angin, karena terhuyung tak sejas. Begitu juga dengan Alma yang memeluk Vano.


"Buktiin kalo lu kuat!" tantang Bilmar yang masih meluapkan kekesalannya pada Vano.


"Siapa takut, lu pikir gw banci!" balas Vano tak mau kalah.


"Alma ayo tarik......" teriak Zie.


"Iya, aku harus menang," jawab Alma juga berteriak.


KREEEK.......


Selendang itu terbagi menjadi dua.


BUUKKK.....


Ziva dan Vano juga Alma terjatuh.


BUUKKK.....


Bilmar dan Anggia juga Zie juga berjatuh dalam bersamaan.


"Aduh Daddy sakit," teriak Zie sebab ia tertindih.


"Maaf, Daday nggak sengaja," kata Bilmar sambil membatu Zie.


Karena Sinta penasaran dengan keributan di ruang tamu, akhinya ia datang dan melihat apa yang terjadi.


"Kalian sedang apa?" tanya Sinta, "Ngapain pada tiduran di lantai?" tambah Sinta lagi.


"Kami lagi tarik tambang Oma," jawab Zie.


"O....." Sinta mengangguk mengerti hingga matanya menatap selendang berwarna coklat, dan Sinta mengambilnya karena ia seperti menganali selendang itu, "Ini," Sinta menatap nanar selendang kesayangannya, yang ternyata di jadikan sebagai tali tambang. Dan sekarang selendang itu rusak, "Siapa yang membawa selendangnya kemari dan dari mana kalian mengambilnya?" tanya Sinta.


"Zie ambil dari kamar Bunda," jawab Zie.


Ziva ingat kemarin Sinta menitipkan sesuatu padanya, sebab Sinta masih harus menjenguk temannya di rumah sakit.


"Aduh....." Ziva menepuk jidad karena takut.


"Vano......Bilmar......Ziva........Anggia........." teriak Sinta dengan berapi-api.


"Ampun Ma," kata Ziva dengan takut.


"Ini selendang kesayangan Mama kalian buat rusak!" kata Sinta lagi masih dengan emosi.


Bilmar dan Anggia saling pandang sambil menelan saliva, keduanya kini mengerti ternyata mereka sedang dalam masalah.


"Bilmar nggak tau papa Mi," kata Bilmsr membela diri.


"Kalian," Sinta berjalan mendekati Bilmar karena berani membantah, dan dalam sekejap tiba-tiba Zie berdiri di hadapan Sinta.


"Oma," Zie mendongkak sambil menggerakan kaki sang Oma.


"Apa lagi," tanya Sinta yang masih kesal.


"Tadi Oma bilang, Vano, Bilmar, Ziva, Anggia. Padahal di sini kan ada Zie sama Alma juga. Tapi kok nggak di sebutin?" tanya Zie dengan wajah polosnya.


"Iya Oma, Alma juga sebutin dong," kata Alma yang kini juga berdiri di hadapan Sinta, sungguh hal itu sangat membuat Sinta semakin emosi namun Vano dan Bilmar menahan tawa karena Sinta tak bisa juga menghadapi dua bocah itu.


"ZIEZIE ZAVANO.......ALMA RIANDA........" teriak Sinta dengan sangat kencang, bahkan keempat orang itu sampai menutup telinga. tapi tidak dengan Alma dan Zie, karena keduanya malah cengengesan karena tak tau Sinta ternyata tengah emosi.


"Mantap, Oma lagi latihan vokal," kata Zie memberi jempol pada Sinta.


"Suara Oma bagus," tambah Alma.


"Vano, Bilmar kalian harus tanggung jawab. Ini selendang mahal dan Papa yang belikan untuk Mama, jadi kalian berempat harus pel semua rumah Mama. Abis itu kuras kolam renang Mama juga," kesal Sinta dengan tegas.


"Ma," Vano menggaruk kepala mendengar perintah Sinta.


"APA!" teriak Sinta.


"I.....iya," jawab Vano terbanta-banta.


"Ahahahah.....Ayah kayak kucing imut, si puspus," kata Alma, menginggatkan wajah Vano saat ini seperti kucing kesayangannya.


"Huuuu......" Vano menarik napas dengan berat mendengar hinaan Alma.