Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 95


"Dokter bagaimana dengan menantu dan cucu saya?" tanya Sinta saat melihat dokter yang menangani Ziva sudah keluar dari ruangan.


"Ibu dan bayinya baik-baik saja nyonya. Beruntung pasin cepat di tangani dan kami bisa mengabil tandakan dengan cepat" ujar sang dokter setelah berjam-jam menangani istri pewaris rumah sakit itu.


"Anak saja juga sudah lahir dok?" tanya Vano dengan suara bergetar.


"Sudah tuan, selamat bayi anda perempuan" ucap sang dokter bertag Alfin itu.


"Saya boleh masuk"


"Silahkan tuan" sang dokter mempersilahkan Vano masuk melihat istri dan anaknya.


***


Pov Vano.


^


Dengan kaki yang terasa berat aku terus berjalan masuk dengan hati yang bergetar. Aku terus mendekat hingga aku dapat melihat seorang wanita yang ku ikat dalam pernikahan sepuluh bulan yang lalu. Ya dia adalah kekasih halal ku, ku lihat dia sedang berbaring bersama seorang makluk kecil yang di balut dengan kain. Hati ku berdesih seakan tubuh ku terasa hangat, aku melihat wanita yang ku cintai sudah memberikan seorang malaikat kecil untuk ku.


Ku pandangi wajah bayi kecil ku dan ku azani buah cinta ku bersama kekasih halal ku. Setelah itu ku pandangi wajah wanita ku, aku melihat bertapa lemahnya wanita itu. Tubuhnya yang masih terbaring dengan selang infus yang terpasang di tangannya, wajahnya sangat pucat tapi aku melihat senyumnya tak pernah luntur, dari bibir manisnya. Bibir yang selalu membuat ku candu.


"Terimakasih" ucap ku padanya, ia tersenyum pada ku, ku kecup keningnya, pipi kanan dan pipi kirinya, hidungnya, dagunya dan bibirnya, hingga akhirnya ku satukan dahi ku dan dahinya.


""Terimakasih sayang" lagi-lagi hanya kata itu yang mampu ku ucapkan. Dia membalas dengan senyuman yang begitu indah di mata ku.


Kebahagian ku saat ini sungguh tidak bisa di ukur, rasa terimakasih ku padanya tidak bisa ku ganti dengan seluruh kekayaan yang ku miliki. Aku hanya mampu memberikan ucapan terimakasih, perjuangannya untuk anak ku sungguh sampai di titik keringat terakhir, air mata ku tiada hentinya tumpah hingga mengenai pipinya.


"Aku mencintai mu istri ku, terimakasih sudah melahirkan anak ku" ucap ku lagi-lagi, rasanya aku tak pernah puas mengucapkan kata itu.


"Mas itu udah kewajiban aku, sebagai seorang istri" jawab istri ku, aku terus munciumi telapak tangannya di mana ada cincin pernikahan yang dulu ku sematkan di jari manisnya.


Aku mengingat bertapa besar perjuangannya tapi apa yang sudah aku berikan padanya, bagi ku apa yang sudah aku berikan padanya tidak sebanding dengan apa yang ia berikan pada ku. Dia memberiku seorang malaikat kecil oh Tuhan tiada yang sempurna kecuali engkau, dan terimakasih kau sudah memberi ku istri yang bisa menutupi kekurangan ku, hingga dengannya aku merasa sempurna.


Ayah. Istri ku berani mengorbankan nyawanya demi memberi gelar itu. Lagi-lagi ku kecupi seluruh wajah istri ku. Dengan bangga aku memberikan nama pada putri kecil ku.


"Apa mas sudah punya nama pilihan untuk putri kita?" tanya istri ku yang masih kupeluk dengan erat.


"Ziezie Zavano" ucap ku.


"Nama yang bagus" jawabnya.


Aku memeluk buah hati ku dan mencoba memangkunya. Sungguh tak pernah aku memiliki keberanian dalam memangku bayi kecil yang masih berwarna merah, namun entah mengapa rasa takut ku hilang saat aku melihat bayi ku, dengan hati-hati aku memangkunya kupandangi wajah mungil itu sungguh membahagiakan.


***


Pov Author


^


"Kenzi Zavano selamat ya nak" Sinta tersenyum pada Vano dan ia mengambil alih Zie dari pangkuan Vano.


"Papa azani cucu papa dulu" ucap Sinta memberikannya pada Hardy, memang Ziezie sudah di azani oleh Vano namun Hardy juga ingin mengazani cucu pertamanya itu.


"Sini ma" pinta Hardy, Sinta memberikannya pada Hardy yang sedang duduk di sofa.


"Cantinya pa cucu kita" ucap Sinta mengelup pipi cucu yang ia nantikan.


"Ziva" terdengar suara Seli yang baru saja masuk, dari tadi ia sedang di toilet.


"Sel" Zìva merentangkan tangannya dengan cepat Seli berlari dan memeluk sahabatnya yang tengah berbaring di sana sengan rasa bahagia.


"Selamat ya Zi" ucap Seli dengan bahagia.


"Makasih juga aku terharu liat kamu nangis-nangis di tengah jalan. Sekali lagi makasih" ucap Ziva dengan tulus.


"Terimakasih ya Seli" tutur Vano itu adalah pertama kalinya Seli mendengar Vano berbicara padanya, setelah dulu ia di marahi Vano dan ini pertama kalinya.


"Hehehe" Seli tersenyum kikuk.


"Masih sakit Zi?" tanya Seli.


"Lumayan, bekas oprasinya" Ziva menunjuk bagian perutnya.


Lagi-lagi Vano memeluk Ziva dengan sangat hati-hati, walau pun Vano merasa bahagia namun ada rasa sedih juga, di sana sungguh ia tidak bisa menutupinya.


"Maaf ya sayang" ucap Vano.


"Kenapa" tanya Ziva menangkup wajah Vano yang masih dekat dengan wajahnya.


"Kau udah berkorban banyak. Bahkan tubuh kamu rusak karena memberi ku satu hadiah istimewa di hari valentine ini" ujar Vano menatap manik mata Ziva.


"Mas ku sayang, udah ya makasihnya Ziva udah kenyang" ucap Ziva sambil tangannya sebelah menangkup wajah Ziva dan sebelah lagi menyisir rambut sang suami yang terlihat acak-acakan.


Cup.


Vano mengecup bibir Ziva, Ziva merasa malu bayangkan saja di sana ada kedua mertua, ada Arman dan Seli juga. Sunguh Vano tidak tau situasi sedikit pun ia tidak mengerti keadaan. Seli sedikit demi sedikit mundur ia mendenguk salivanya karena Vano berkali-kali mengecup bibir Ziva.


"Mas udah malu" Ziva mendorong wajah Vano yang lagi-lagi hampir mendekat padanya.


"Malu sama siapa?" tanya Vano.


"Mas nggak lihat di sini banyak orang selain kita" ucap Ziva sambil melihat keepat pasang mata itu. Sinta dan Hardy tanpaknya tau apa yang Vano lakukan, hanya saja keduanya terlalu sibuk dengan cucu mereka jadi mereka tidak perduli. Bagi keduanya terserah kedua manusia itu mau apa, yang mereka inginkan hanya cucu mereka saja. Dan kalau boleh Sinta ingin membawa cucunya pulang Ziva dan Vano masih berada di rumah sakit ya silahkan.


Beda halnya dengan Seli, Seli merasa merinding. Gadis perawan itu merasa matanya ternodai karena ulah Vano dan Ziva. Tapi kalau Arman. Ia hanya biasa saja pemandangan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-harinya, itu lumayan hanya mencium saja biasanya juga di jok mobil Vano menyusu pada Ziva dengan kepala Vano di tutup jas agar dada Ziva tidak terlihat, pikir Arman.


"Zi aku pulang dulu udah malam, besok aku balik lagi" pamit Seli.


"Ya hati-hati" ucap Ziva.