
Tiga hari sudah berlalu semenjak kejadian itu. Dan sudah tiga hari pula Ziva tidak masuk kantor untuk bekerja. Dan pagi ini Ziva memutuskan untuk bekerja. Karena ia sudah memutuskan untuk menabung lalu pergi dari kehidupan Vano.
Ziva sudah tidak perduli lagi dengan Vano. Semua yang di kerjakan Vano bukan lagi urusan nya. Bahkan Vano ingin pergi dengan siapa pun Ziva tidak tau dan tidak mau tau.
Ziva sudah bertekat setelah ia memiliki tabungan. Dan menunggu kelulusan adik nya di SD yang hanya tinggal enam bulan lagi. Ia akan pergi dan membawa ke dua adiknya. Ia sudah lelah terus di hina dan di rendahkan oleh Vano. Bahkan Ziva juga meminum pil KB menghindari kehamilan dalam waktu dekat ini. Karena ia memang belum siap. Karena tingkah Vano yang labil.
Pagi ini Ziva sudah berada di luar rumahnya. Ia sedang menunggu taxi. Namun sudah hampir tiga puluh menit ia belum juga mendapat kan taxi. Dan Ziva ingin menelpon Pirman tapi Ziva mengurungkan niatnya. Karena Pirman baru berduka cita atas meninggal ibunya kemarin.
Sampai akhirnya ada mobil Hammer H3 berhenti tepat di hadapan Ziva. Ziva tidak perduli karena biasanya Vano yang datang dan suka berganti-ganti mobil. Namun ternyata Ziva salah. Ternyata orang lain.
"Hay" sapa orang tersebut.
Ziva bingung siapa orang tersebut dan ia merasa pernah melihat orang itu. Tapi di mana ia pun binggung.
"Hay" orang itu kembali memanggil Ziva.
"Apa kita pernah berjumpa sebelumnya?" tanya Ziva dan berusaha mengingat orang tersebut.
"Club 500 juta. Ingat" kata orang tersebut.
Sesat mendengar ucapan orang itu. Ingatan Ziva kembali memutar kejadian malam itu
"Oh. Om Bilmar?" tanya Ziva.
Ya Bilmar adalah orang yang hampir membeli Ziva di malam itu. Namun tidak jadi karena Bilmar malam itu meninggalkannya. Karena ada urusan.
"Ah. Akhirnya kau ingat aku" kata Bilmar.
"Ada apa ya Om?" tanya Ziva.
"Bisa tidak memanggil ku tidak udah pakai Om" kata Bilmar karena ia sedikit merasa tua karena Ziva memanggilnya Om. Padahal ia masih single.
"Lalu saya panggil apa?" tanya Ziva bingung.
"Panggil Mas saja" kata Bilmar.
Bilmar melihat pakaian yang Ziva kenakan. Ziva mengunakan kemeja hitan dan rok mini. Bilmar dapat menebak sepertinya wanita itu akan berangkat bekerja.
"Kamu pasti mau bekerja ya?" tanya Bilmar.
"Iya Om eh Mas" jawab Ziva.
"Ayo saya antar" kata Bilmar.
"Tidak usah Mas saya menunggu taxi saja" jawab Ziva.
Bilmar menarik tangan Ziva dengan lebut. Lalu membuka pintu mobil nya dan mendorong Ziva pelan agar Ziva duduk di mobilnya.
"Maaf ya aku maksa kamu" kata Bilmar.
Kini Bilmar mulai menyalakan mesin mobil nya. Dan mulai melaju dengan sangat pelan. Entah apa yang sedang Bilmar pikirkan.
"Mas kalau jalan nya begini aku telat ke kantor nya" kata Ziva.
"Ya Hehehe"
"Kamu kerja di mana biar aku antar" kata Bilmar.
"Di Pt.mk.tbk. Mas" jawab Ziva.
"Vano?" tanya Bilamr.
Ziva bingung kenapa Bilmar tau Vano. Ziva diam saja dan tidak menjawab karena rasa benci Ziva pada Vano sudah sangat besar. Mungkin Ziva tidak akan pernah memaaf kan Vano. Ziva bukan lah wanita lemah yang mudah di tindas. Lalu bisa di rayu lagi. Dalam hal itu Vano salah besar. Ziva tidak akan semudah yang Vano bayangkan.
"Ziva. Kenapa diam" tanya Bilmar lagi.
"Ya Mas. Nama presdir saya memang Vano. Dan saya Asisten nya" kata Ziva.
"Oh. Ya sudah kita kesana. Kebetulan saya juga memang mau ke sana" kata Bilmar.
"Mas mau ke sana juga?" tanya Ziva. Jujur saja Ziva sebenarnya bingung apa hubungan Bilmar dan Vano. Apalagi Bilmar juga ingin menemui Vano. Tapi Ziva merasa terharu Bilmar sama sekali tidak membahas atau pun mempertanyakan perihal Ziva yang dulu hampir tidur dengan Bilmar pada malam itu.
"Kamu yakin cuman Asisten nya Vano?" tanya Bilmar sedikit menggoda Ziva.
Deeg!.
Jantung Ziva seperti terpacu mendengar ucapan Bilamr.
"Ya saya Istri simpanan nya sekaligus asisten nya. Mas nya lucu apa mungkin saya seperti itu" kata Ziva.
"Ah. Kamu ternya ta pintar juga bercanda ya" kata Bilamar.
Ziva tersentum dengan terpaksa. Dan mereka pun kini samapai di perusahaan Vano. Kedua nya turun dan memasuki lift kusus petinggi.
Ting!.
Kedua nya keluar dari dalam lift dan mulai masuk ke ruangan Vano.
Clek!.
"Selamat pagi" Ziva masuk. Dan tidak lama kemudian Bilmar juga ikut masuk.
Vano tersenyum melihat Ziva yang masuk. Tapi senyum nya menghilang saat Ziva masuk bersama Bilmar.
"Hey," sapa Bilamar.
Ziva duduk di meja kerjanya dan memeriksa apa saja pekerjaan nya.
Vano juga langsung mendudukan dirinya di sofa. Vano juga bangun dari duduk nya dan berjalan menuju sofa. Yang di duduki Bilmar.
"Belum pulang ke Amerika loe" tanya Vano.
"Rencana sih satu minggu lagi. Setelah acara resepsi loe selesai. Abis itu gue cabut dah ke Amrik" jawab Bilmar.
Bilamar terus menarap Ziva. Vano menyadari itu tapi ia berpura-pura tidak perduli akan hal itu.
"Tapi sepertinya gua tunda dulu deh pulang ke Amerika" kata Bilmar lagi. Pandangannya tidak pernah putus pada Ziva.
"Kenapa?" tanya Vano.
"Tu Asisten elu. Kayak nya jauh lebih berharga dari pada ngurus perusahaan di Amerika" jawab Bilamar.
Vano mulai diam. Ia tidak mengerti kenapa Ziva bisa memikat semua laki-laki. Bahkan dengan mudah nya laki-laki bisa tertarik padanya.
"Woy. Kenapa loe?" tanya Birmar karena Vano malah larut dalam pikiran nya.
"Emang cewek elu yang segudang itu mau di kemanain. Apa belum cukup" tanya Vano cuek.
"Kalau demi yang ini. Semua gua tinggalin Asal dia mau sama gua" kata Bilmar dengan semangat.
"Ziva Mas pulang dulu ya" kata Bilamar.
"Iya mas" jawab Ziva. Sambil tersenyum.
"Nanti Mas jemput deh" kata Bilmar lagi.
Vano sudah sangat menahan emosi nya. Ia benar-benar tidak suka melihat Ziva di dekai oleh laku-laki lain. Karena ia sama sekali tidak rela hal itu teejadi. Vano bangun dari duduk nya. Dan berjalan ke arah Ziva yang sedang mengerja kan pekerjaan nya.
"Ziva" Vano kini berdiri di depan meja kerja Ziva. Mata nya menatap tajam pada Ziva.
Ziva yang menunduk mulai mendongkak kan kepalanya. Menatap Vano.
"Kenapa kau selalu bersikap murahan pada setiap laki?" kata Vano.
Ziva berdiri dari duduk nya. Dan tersenyum pada Vano.
"Aku harap kau tidak akan menyesali semua perbuatan mu Mas setelah ini. Karena dalam kamus ku tidak ada yang nama nya kesempatan kedua" kata Ziva.
Ziva keluar dari ruangan itu meninggalkan Vano yang berdiri mematung. Sambil menjambak rambut nya.