
Saat Daffa keluar dari gerbang rumahnya, tiba-tiba mobil dari kejauhan menabraknya.
BRUUK.
Semua orang yang ada di sana melihat apa yang terjadi, mobil yang menabrak Daffi pangsung melaju dengan kencang tanpa melihat keadaan Daffi. Ziva yang duduk di balkon shock melihat saat sang adik tertabrak oleh sebuah mobil.
"Daffa," teriak Ziva sambil berlari menuruni tangga.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Vano yang berada di ruang tamu bersama Arman, namun matanya menatap sang istri yang melewatinya begitu saja. Sambil berlari bahkan Ziva seperti tak mendengar jika Vano memanggilnya ia terus berlari.
"Daffa, bangun," terlihat banyak darah yang mengalir di jalanan, Ziva memangku kepala sang adik yang sangat ia sayangi.
"Sayang kamu kenapa?" Vano ikut berlari dan masuk di antara kerumunan orang, hingga matanya menata Daffa yang berlumur darah di pangkuan Ziva.
"Daffa bangun.....hiks, hiks," Ziva terus menangis hingga tak berapa lama ambulace datang dan membawa Daffa, Ziva tak mau ikut dengan mobil Vano ia justru ikut naik menemani Daffa, Vano juga ikut naik tak mungkin ia membiarkan istrinya di sana.
Kini Daffa sudah di tangani oleh dokter, air mata Ziva tak pernah henti menetes melihat keadaan sang adik. Dulu juga Daffa harus di operasi karena tumor, dan kini adiknya harus kembali berbaring di sana dalam keadaan tak berdaya.
"Kak Ziva?" Daffi yang baru saja datang langsung memeluk Ziva, ia tau saudara kembarnya kecelakaan dari Arman. Padahal ua sedabg berada di perusahaan sementara Daffa baru akan pergi.
"Daffi, hiks....hiks...." Ziva menangis sambil memeluk Daffi dengn erat.
"Daffa gimana Kak?" tanya Daffi yang terus memeluk Ziva.
"Kakak, nggak tau," kata Ziva yang juga masih menangis.
"Tuan kami membutuhkan donor darah sekarang, dan stok darah golongan O sedang kosong tuan," kata seorang dokter, ber tag Darmawan pada Vano.
"Golongan darah saya juga O dok," kata Ziva pada dokter tersebut.
"Saya juga dok, darah saya saja," kata Daffi yang juga menawarkan diri.
Vano diam ia tak mungkin membiarkan Ziva mendonorkan darahnya, Ziva kini harus merawat empat bayi kembar mereka. Sebab anak-anaknya tak mau meminum susu formula, sementara Daffi masih terlalu kecil.
"Biar Mas saja yang, golongan darah Mas juga O," kata Vano menawarkan diri.
Ziva mengangguk, ia tak tau harus berkata apa yang jelas adiknya kini adalah hal yang paling utama di tangani.
"Makasih Mas," kata Ziva memeluk Vano.
"Tidak usah bilang makasih, kita keluarga," kata Vano.
CUP.
Vano mengecup kening sang istri dan Vano melangkah masuk, bersama dengan seorang dokter untuk melamukan transfusi darah.
"Ziva, Daffi," terdengar suara Sinta yang datang bersama Seli.
"Sabar Nak, Daffa pasti baik-baik saja," kata Sinta mengelus punggung Ziva.
"Ziva hiks, hiks," Seli juga ikut menagis dan memeluk Ziva juga bersama Ratih.
"Makasih ya Sel, kamu selalu ada di setiap aku sedang musibah," kata Ziva melepas pelukan Sinta dan memeluk Seli.
Ziva ingat saat ia susah Seli selalu ada, sampai saat ini pun Seli ada untuknya. Seli memang hanya lah orang lain tanpa ada ikatan datah dengannya namun persahabatan mereka melebihi dari saudara, tak ada teman seria Ziva selain Seli sedari mereka sekolah bersama hingga kini. Bahkan tanpa di duga mereka memiliki mertua yang sama, walau pun Arman hanya anak angkat namun Sinta tak pernah membedakan Arman dan juga Vano.
"Kita kan sahabat, kamu yang sabar ya," kata Seli menepuk punggung Ziva.
Arman duduk di kursi ruang tunggu tepat di depan ruangan Daffa, Arman menarik Daffi duduk di sampingnya. Daffi duduk dan menunduk, sesekali ia mengusap air matanya ia bingung dan takut jika saudaranya pergi meninggalkannya.
"Sabar ya!" Arman mengusap pundak Daffi, yang di jawab dengan anggukan.
Setelah beberapa lama kemudian Vano kembali dan ia duduk di kursi tepat di sebelah Daffi.
"Sabar ya," kata Vano.
"Makasih Kak," kata Daffi tersenyum.
Tidak berselang lama dokter keluar dari ruanga Daffa, Ziva dengan cepat berdiri mendekati sang dokter begitu pun dengan keluarga yang lain.
"Bagaimana dengan adik saya dok?" tanya Ziva.
"Kami sudah berusaha nyonya, selebihnya kita serahkan pada Tuhan yang maha kuasa, kondisi pasien saat ini sedang tidak baik-baik saja," kata dokter Darmawan, ia tak tega menjelaskan bagaimana keadaan Daffa pada Ziva sebab Vano mengatakan untuk tidak mengatakan secara jelas pada sang istri, agar Ziva tak semakin down karena ini. Tapi Vano akan berusaha melakukan yang terbaik termasuk mendatangkan dokter dari luar negeri atau mungkin Daffa yang akan di bawa keluar negeri bila sampai besok Daffa belum juga lebih baik dari kondusinya saat ini.
"Tolong adik saya dokter saya mohon hiks...hiks," Ziva menangis dan menarik kerah jas dokter Darmawan.
"Sayang sabar," Vano menarik Ziva dan memeluknya dengan erat berharap istrinya bisa tenang.
"Mas, hiks...hiks....aku takut kehilangan Daffa," kata Ziva.
"Sabar sayang, dokter akan melakukan yang terbaik demi Daffa. Kamu harus kuat, semuanya membutuhkan kamu, Daffi juga butuh kamu dan di rumah ada lima anak-anak kita, kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana nasip mereka semua," kata Vano mengelus jepala Ziva, dan merapikan rambut sang istri yang berantakan.
"Tapi Daffa Mas, hiks...hiks," Ziva masih belum bisa berhenti menangis.
"Kak," Daffi mendekati Ziva, dan ketiganya saling berpelukan.
"Sabar ya, kalian nggak cuman berdua lihat di sini banyak keluarga yang sayang sama kalian," kata Vano.
Ziva melihat di sana, ada Ratih juga bersama Rianda, dan Bilmar yang baru saja datang. Ia terharu kini ia melewati cobaan hidup tak sendirian seperti dulu yang harus berjyan sendiri demi adik-adiknya, tak ada kata yang bisa ia katakan selain terima kasih.
Ziva menatap Daffa yang terbaring lemah dari luar melalui kaca, entah siapa yang tega melakukan ini pada Daffa. Bila ini murni kecelalaan lantas mengapa orang itu harus melarikan diri, namun bila ini sengaja maka siapa pelaku dari semua ini dan apa maksud dari semua ini.
Sejenak Ziva diam dan mendudukan tubuhnya, ia mengingat tak memiliki musuh. Lalu apakah Daffa memiliki musuh? Rasanya tidak mungkin anak sekecil itu sudah memiliki musuh, mau bertanya pada Daffi pun rasanya tidak mungkin untuk saat ini. Sebab Daffi masih terlihat terpukul dengan keadaan Daffa dan Ziva pun tak percaya jika Daffa memiliki musuh, pak Hutomo sudah tidak ada lagi, lalu siapa?.