Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 170


"Heh nape lu," tanya Arman yang kini berada di rumah Vano, sebab semua keluarga berkumpul di sana. Ia pun ingin berbagi kabar bahagia tentang kehamilan istrinya, namun saat ia sampai di sana Arman malah melihat Vano duduk lesehan di teras rumah dengan wajah muram.


"Pusing gw," jawab Vano mengacak rambutnya.


"Kok pusing?" tanya Arman penuh tanya.


"Puasa gw lama banget tau nggak," kesal Vano.


"Aahahhaha," Arman tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang di katakan Vano.


"Lu ngejek gw....iya," Vano berdiri dan hampir memberi bogem mentah pada Arman, namun Arman menahan tangan Vano.


"Gw bukan ngejek lu," Arman mendorong tubuh Vano agar menjauh darinya.


"Terus kenapa lu ketawa!" kesal Vano merapikan kemeja yang ia pakai, masih dengan kekesalan.


"Gw emang ngetawain lu, tapi nasip kita sama bro, gw juga puasa beberapa bulan ke depan," kata Arman dengan kesal, "Tadinya gw kesel dan mau curhat sama lu, tapi pas denger curhatan lu gw jadi pengen ketawa ternyata gw punya teman...kita puasa bareng bro," Arman menepuk bahu Vano.


"Maksud lu apa sih?"


"Bini gw hamil," jawab Vano.


Sinta dan Ratih yang mendengar langsung tertawa dan merasa bahagia.


"Seli kamu hamil nak?" tanya Sinta dengan bahagia.


"Iya Ma," jawab Seli dan langsung memeluk Sinta dengan bahagia.


"Selamat Seli," Ratih juga ikut memeluk Seli yang masih berpelukan dengan Sinta.


"Aku nggak di peluk?" tanya Ziva yang duduk di kursi.


Seli tersenyum dan memeluk Ziva penuh bahagia.


"Selamat ya, Sel," tutur Ziva penuh haru.


"Makasih...." kata Seli.


Daffa dan Daffi yang baru saja sampai mendengar apa yang di bicarakan, keduanya juga turut bahagia.


"Ck....Kak Seli bakalan punya adik bayi, wah jadi Om lagi kita...." kata Daffa pada Daffi.


"Iya tapi aku bingung banget," kata Daffi dengan wajah bersedih hingga membuat yang lain penasaran.


"Bingung kenapa?" tanya Ratih dengan antusias.


"Daffi bingung kalau nanti anak Kak Seli lahir manggil Om, tapi Tantenya belum ada...Daffi harus jawab apa coba," jawab Daffi.


Semua keluarga saling pandang mendengar apa yang di ucapkan Daffi, bayangkan saja mereka semua sudah penasaran dan menunggu jawaban Daffi dengan sangat serius tapi jawaban Daffi sangat konyol.


"Daffi kamu bener-bener ya," Ratih mencubit gemas Daffi.


"Aduh.....ampun Mi," jawab Daffi sambil berusaha menjauhkan dirinya dari Ratih.


"Ahahahahah," semuanya tertawa melihat kekonyolan Daffi.


"Mamai tenang Daffi udah punya incaran tapi," kata Daffi dengan senyum bahagia membayangkan wanita yang sudah ia taksir.


"Oh ya....." tanya Sinta dengan bahagia.


"Iya lah....nggak seperti Daffa yang jomblo terus-terusan," kata Daffi mengejek Daffa yang tak suka berpacaran.


"Aku nanti pacaran pas udah tamat sekolah, langsung di ajak nikah. Bukan pacaran nggak jelas," jawab Daffa dengan apa adanya, Daffa tak suka berpacaran tak jelas seperti Daffi.


"Iya," Arman membenarkan apa yang di katakan Vano, "Dan Kak Vano ini selalu gonta ganti cewek, dia aja lupa udah punya mantan berapa dan parahnya sehari dia bisa ngapelin lima cewek sekaligus," jawab Arman membanggakan Vano.


"Lihat Kak Arman aja udah mengakui kehebatan Kakak," jawab Vano dengan bangga.


Tanpa di sadari Vano jika Arman kini telah membuatnya mendapat tatapan tajam dari Ziva dengan perasaan kesal, sejenak Vano diam dan menatap Arman. Vano melihat Arman tersenyum sambil mengarah pada Ziva, Vano kini mengerti mengapa Arman memujunya ternyata ada maksud di balik pujian itu.


"Ku menangis............" teriak Daffi dengan senyuman.


"Jadwal puasa di tambah bro," seloroh Arman menepuk bahu Vano, tapi dengan cepat di tepis oleh Vano.


"Sialan lu," kesal Vano dan mendekati Ziva.


"Enak ya Mas, segari apelin lima cewek," kata Ziva sambil melihat kukunya.


"Nggak gitu yang," Vano berjongkok dan menggaruk tengkuknya tak tau harus berkata apa, dia tau istrinya kini sangat cemburu bila menyangkut mantan sang suami.


"Udah Kak, balik sama Kak Firman aja," selorih Daffi yang langsung mendapat tatapan tajam dari Vano, "Hehehe, maaf Kak," Daffi menangkup kedua tangannya takut jika Vano malah menghajarnya habis-habisan.


"Sayang itukan cuman masa lalu, sekarang cuman ada kamu," kata Vano berusaha merayu sang istri tercintanya.


"Iya Ziva tau, udah sana jauh-jauh," Ziva tau itu hanya masa lalu sang suami, tapi tetap saja da rasa kesal di hatinya mengetahui bertapa playboy nya dulu Vano.


"Yang jangan marah dong," Vano menarik dagu Ziva.


"Nggak marah...."Ziva menjauhkan wajahnya, "Sana jauh-jauh aja dulu," kata Ziva, ia memang tak marah pada sang suami tapi rasa cemburu tak bisa ia tutupi.


"Caelah Kak Ziva segitu aja marah, Kakak juga dulu sama Kak Firman suka pigi bareng," kata Daffi yang ingin mendamaikan Ziva dan Vano, namun yang ia dapat justru tatapan tajam dari Vano dan Ziva.


"Jangan bawa-bawa mantan ya Daffa, nggak lu tau nggak," kesal Ziva pada sang adik.


"Tau ni Daffi mulut lu lemes bener," kata Daffa yang ikut menimpali.


"Maaf!" kata Daffi lagi.


"Udah-udah....masalah mantan aja di ributin, itu cuman masa lalu nggak usah di bahas," kata Sinta menegahi permasalah anak-anak tercintanya.


"Tapi Vano masih kesal Ma, Daffi ngomongin Firman terus, bikin emosi aja," kata Vano lagi.


"Ampun Kak Vano," kata Daffi dengan rasa takut.


"Udah.....Kok kalian ributin Kak Firman sih, nggak jelas banget deh," kata Daffa yang ikut kesal.


"Makanya nggak usah bahas Firman, udah nggak ada dia di dunia ini mungkin," kata Vano.


"Mas kamu ngomong apa sih!" kesal Ziva.


"Sayang kamu belain dia?" Vano malah semakin kesal tidak jelas.


"Kok Mas malah marah sama Ziva," kata Ziva yang tak kalah kesal.


"CUKUP!" teriak Sinta yang malah pusing menyaksikan perdebatan Vano dan Ziva.


"Paan nih ribut-ribut, perkara mantan lagi," kata Bilmar yang baru saja datang bersama Anggia, namun ia sudah di sambut perdebatan antara Vano dan Ziva perihal mantan.


"Ini Kak Vano dan Kak Ziva ributin masalah Kak Firman," kata Daffi yang kini menggendong Zie.


"Firman di ributin, Firman buat mantu lu aja," kata Bilmar tanpa dosa, lalu ia mengambil Zie yang berada dalam gendongan Daffi dan berkata, "Zie, Om Firman itu, Dosen, pengusaha juga, Daddy Bilmar denger-denger dia belum nikah, Om Firman keren loh, Ayah Zie lewat," Bilmar mengarahkan jempolnya pada Vano dan dengan posisi kebawah, "Keren lagi, Zie mau nggak jadi pacarnya Om Firman?" seloroh Vano.


"Au," jawab Zie mengangguk padahal ia belum mengerti apa yang di maksud Bilmar, dan ia pun berbisik pada Zie untuk memgatakan mau.


"Bilmar kurang ajar, ajaran lu musrik banget tau nggak," kesal Vano ingin menonjok wajah Bilmar.