Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 133


Pagi ini Ziva dan Vano ada jadwal pemeriksaan di rumah sakit, Vano terlihat bahagia dan bersemangat sebab usia kandungan Ziva berusia empat bulan yang artinya jenis kelaminnya sudah bisa di prediksi.


"Sayang," Vano masuk kekamar melihat sang istri sudah memakai dress berukuran sangat besar.


"Mas, Ziva gemuk banget ya," Ziva mendadak kehilangan kepercayaan diri dengan kegemukannya kini.


"Sayang, bidadari Mas, mau kamu gemuk atau kurus cinta Mas nggak pernah luntur, makin hari makin nambah, kayak berat badan kamu," kata Vano dengan percaya dirinya.


"Jadi kalau Ziva kurus lagi cinta Mas juga berkurang?" kesal Ziva.


Kejebak sendiri gw jawab apa? Salah jawab nggak di kasih jatah. Mana bentar lagi puasa lama karena bidadari gw ngelahiri.


"Sayang Ziva ku, Mas tetap cinta kamu ya, yuk," Vano dengan cepat memeluk Ziva lalu melangkah keluar dari kamar.


Kini Ziva dan Vano sudah berada di ruang tamu, terlihat Zie bersama Oma dan Opanya yang sedang bermain di sana.


"Bunda," Zie berlari menghambur kepelukan Ziva.


"Uluh-uluh anak Bunda," Kata Ziva yang tak bisa tertunduk.


"Bunda," Zie meloncat-loncat minta di gendong, sementara Ziva sudah tidak bisa menggendong Zie karena merasa susah. Di tambah lagi badan Zie yang sangat gemuk.


"Gendong Ayah aja ya," Vano menggendong Zie dan mendekan Zie pada Ziva.


"Bunda mamam," kata Zie.


"Tapi Zie baru siap mamam," kata Ziva mencubit gemas pipi Zie.


"Nanti Ayah bawa boneka buat Zie, tapi sekarang Bunda sama Ayah pergi dulu ya," kata Vano menurun kan Zie dari gendongannya.


"Um, tua, ya," Zie mengangkat empat jarinya.


"Zie dua begini," Vano menunjukan dua jari Zie, dan Zie tersenyum.


"Tua," tutur Zie lagi dengan bangga.


"Dua Zie, bukan tua, kalau tua Oma, Oma tua," seloroh Vano.


Sinta yang mendengar Vano mengejeknya merasa kesal, dan melepar mainan Zie tepat mengenai kepalanya.


"Au," Vano mengosok-gosok kepalanya yang terasa sakit.


"Mulut mu ya," kesal Sinta.


"Dasar Mama durhaka!" kesal Vano.


"Kamu bilang Mama durhaka? Yang ada kamu adak durhaka," kesal Sinta.


"Oma," Zie malah memberikan mainannya ke tangan Sinta untuk memukul sang Ayah.


"Zie, udah ya Nak," Ziva menengahi sebab Zie selalu membela sang Oma.


"Ma Ziva bergi dulu ya," pamit Ziva.


"Iya hati-hati ya," kata Sinta tersenyum tulus.


"Vano juga ya Ma," pamit Vano.


"Hem," jawab Sinta cuek.


"Perasaan gw kayak anak angkat sama emak gw sendiri," gumam Vano, yang kesal sebab Sinta selalu ketus padanya.


***


Rumah Sakit.


Kini Ziva dan Vano sudah berada di ruang dokter untuk melakukan pemeriksaan, Ziva sedang berbarin sementara Vano berdiri di dekat Ziva.


"Wah nyonya Ziva, ke empat bayinya aktip sekali," kata dokter Sintia.


"Apa benar anak saya kembar empat dok?" Vano masih belum percaya dengan hal itu sebab ia tahu sedari dulu dari pihak Sinta maupun Hardy tidak ada yang kembar.


"Iya Tuan, ini empat," tutur sang dokter dengan bahagia.


"Laki-laki atau perempuan Dok?" tanya Vano lagi.


"Wah, sayang makasih ya," Vano menciumi wajah Ziva dengan bahagia.


"Mas," Ziva mendorong tubuh Vano agar berhenti menciuminya, "Malu," Ziva kesal dan menunjuk dokter yang tersenyum melihat tingkah Vano.


"Ck," Vano mundur dan menggaruk tengkuknya, presdir yang super dingin itu mendadak kehilangan wibawa karena kebahagiaan yang ia rasakan.


"Nyoya Ziva sudah selesai, saya bantu bangun ya," tutur Dokter Sintia berusaha bangun.


"Ya Dok, makasih," jawab Ziva.


Vano dan Ziva keluar dari ruangan dokter Sintia keduanya tersenyum bahagia.


"Mas," Vano memeluk lengan Vano dan telunjuknya menunjuk orang-orang yang mengantri, "Kapan-kapan kita juga ngantri aja ya Mas," pinta Ziva.


"Sayang, yang punya rumah sakit Suami mu, kenapa harus mengantri," kata Vano dengan angkuhnya.


Ziva hanya memanyunkan bibir sambil terus melangkah dengan Vano, Ziva kesal Vano kembali menjadi orang sombong.


"Tapi Ziva pengen loh, Mas," kata Ziva lagi.


"Sayang, kamu lagi hamil pewaris rumah sakit ini ya, jadi jangan turunkan harga diri keempat jagoan Mas itu," tutur Vano dengan begitu bangga.


"Mas apa sih," tutur Ziva sambil terus memeluk lengan Vano.


"Yang," Vano berhenti melangkah dan kini menatap Ziva begitu juga Ziva, "Mas hebat kan? Empat loh yang, laki-laki semua lagi waw," Vano mencolek hidung Ziva dan tersenyum dengan sombongnya.


"Ck," Ziva menggeleng-geleng mendengar bertapa sombongnya sang suami, "Gimana Ziva nggak hamil empat, Mas ngapel aja setiap hari," ketus Ziva.


"Hehehe," Vano merangkul leher Ziva dan keduanya kembali berjalan masuk kedalam mobil.


"Mas kita jagung bakar yuk," pinta Ziva.


"Ayo," Vano melayukan mobilnya dengan kecepatan sedang sampai akhirnya kini keduanya turu karena menemukan penjual jagung.


Ziva dan Vano duduk di pinggir jalan menunggu jagung pesanannya masak, Vano merasa sangat tidak nyaman ia sangat tak terbiasa dengan jajanan pinggir jalan.


"Mas panas baget deh," kata Ziva meniup jagung miliknya.


"Sini Mas tiupin," Vano memegang jagung Ziva dan menipkan untuk istrinya, " Enak kan yang?" tanya Vano.


"Enak banget Mas," jawab Ziva sambil mengunyah jagung yang di suapi Vano.


"Kan Mas tiupnya pakek cinta yang," Vano menggoda Ziva.


"Mas modus."


"Jangungnya besar banget ya yang," tutur Vano sambil terus menyuapi Ziva.


"He'um Mas enak banget."


"Ziva suka?" tanya Vano.


"Suka dong..." jawab Ziva semangat.


Vano tersenyum mendalat ide menjaili sang istri.


"Besaran mana sama jagung Mas?"


"Uhuk, uhuk, uhuk," Ziva malah tersedak saat mendengar pertanyaan konyol sang suami, Ziva tau apa yang di maksud Vano. Bahkan saat ia tersedak Vano malah tersenyum padanya, dengan menaik turunkan kedua alis matanya menggoda sang istri.


"Kamu pasti udah bayangin jagung Mas ya yang, makanya kamu kesedak," Vano terkekeh melihat wajah Ziva yang memerah, sontak membuat Vano makin bersemangat menggoda Ziva.


"Gimana nggak Ziva sekali hamil empat anak kembar coba? Mas aja nggak pernah sekali pun libur dari otak mesum Mas yang tidak pernaj beres itu."


"Tapi kamu suka kan," Vano menconcolek dagu Ziva, "Kamu kok diem nggak jawab, jangan-jangan kamu lagi bayangin ya yang" tutur Vano lagi.


"Mas, hiks, hiks," Ziva kesal dan rasanya tak kuat mendengar sang suami yang selalu menggodanya.


"Uluh-uluh, istri ku sayang, jangan nangis nanti Mas kasih ya," Vano mengelus kepala Ziva layaknya anak kecil.


"Mas...." Ziva tidak mengerti entah mengapq Vano memiliki kebiasaan baru menggodanya.