
"Ayo lah yang" kata Vano yang terus merayu istrinya.
"Mas Ziva lagi sakit. Mas nggak kasian sama istri Mas?" tanya Ziva dengan wajah melasnya..
"Ya udah nggak usah sedih" kata Vano.
Vano menarik Ziva kedalam pelukannya dan Vano memeluk Ziva. Namun Ziva memain kan tangannya di dada Vano, sementara Vano sudah mulai menutup matanya karena malam semakin larut.
"Mas" kata Ziva sambil tangannya kini sudah mengelus rahang keras Vano.
"Em" jawab Vano masih menutup matanya.
"Mas bikin nasi goreng yuk" kata Ziva.
"Nasi goreng" tanya Vano mulai membuka matanya.
"Ziva lapar Mas. Terus pengen nasi goreng" jawab Ziva.
"Ya sudah ayo bangun. Dan kita bangunkan mbok Yem" kata Vano yang kini sudah duduk di ranjang begitu juga dengan Ziva.
"Mas Ziva maunya Mas yang bikin" kata Ziva.
"Tapi Mas nggak bisa masak Yang " jawab Vano.
"Ayo lah Mas. Ziva maunya Mas yang bikin kan bisa liat di youtube" kata Ziva.
"Ya sudah ayo. Tapi Mas nggak jamin dengan rasanya" kata Vano mengatakan kehawatirannya.
"Iya"
"Yuk"
"Mas tunggu" Ziva menahan langkah Vano.
"Ada apa lagi yang?"
"Mas masak sambil pakek daster ya" kata Ziva.
"Sayang kamu jangan bercanda. Apa ia Mas pakek daster" kesal Vano.
"Ayo lah Mas. Hanya kita berdua kan nggak ada yang liat, dan Mas pakek dasternya pas sedang masak saja" kata Ziva mulai memasang wajah sedihnya.
"Ya sudah mana dasternya" kata Vano dengan wajah masamnya.
"Sebentar" Ziva membuka lemari miliknya dan mengambil daster miliknya yang ukurannya paling besar.
"Ini Mas" Ziva memberikan daster berwarna pink pada Vano.
Dengan berat hati Vano menerima dan ia melihat daster yang di berikan Ziva. Vano tidak yakin daster itu muat di tubuhnya.
"Sayang ini dasternya kekecilan"
"Ayo Mas pakek. Terus kita buat nasi goreng abis itu lepas" kata Ziva.
"Mas pakek pas di sapur saja ya. Dan kamu harus jaga jaga jangan sampai ada yang lihat Mas pakex daster selain kamu" kata Vano memperingatkan Ziva.
"Okey"
Keduanya keluar dari kamar dan menuju dapur. Vano terus berdo'a semoga Ziva berubah pikiran. Dan kini keduanya sudah berada di dapur.
"Pakek Mas" kata Ziva.
Vano tidak mau membantah Ziva karena ia sudah sangat trauma dengan Ziva yang uring uringan tidak jelas. Di tambah lagi Ziva akan menangis lalu ia akan berhadapan lagi dengan Sinta, jadi kalau ia tetap menolak maka akan lebih banyak rintangan yang akan ia hadapi. Tanpa pikir panjang Vano memakai daster milik Ziva dan daster itu membuatnya sesak bahkan jahitan daster itu sedikit robek.
"Sayang kau pastikan tidak ada yang lihat. Dan ini demi kamu dan anak Mas, kalau ada orang yang lihat Mas berdaster orang orang tidak akan ada yang segan sama Mas" kata Vano.
"Iya. Cepat sebelum ada yang lihat" kata Ziva.
Vano mulai membuka ponselnya dan melihat tutorial membuat nasi goreng, dan ia mulai mengerjakan apa yang ia lihat. Dengan susah dan banyak rintangan akhirnya setelah beberapa kali nasi goreng buatan Vano gosong dan ini nasi goreng yang ke lima kalinya. Dan Vano berhasil.
Namun itu hanya bagian memasaknya yang berhasil, rasa nya belum ada yang tau. Vano membawa nasi gorengnya ke meja makan namun Ziva yang duduk di meja makan sudah tertidur dengan melipat tangannya di meja dan meletakan kepalanya di atas meja.
Huufp.
Vano menarik napasnya dan membuka daster yang ia pakai. Vano mendudukan dirinya di kursi meja makan, ia bingung dengan Ziva. Vano yang berperang di dapur demi membuat nasi goreng sampai satu jam dan ternyata Ziva sudah terlelap di meja makan.
Vano mengangkat tubuh Ziva dan tidak lupa ia juga membawa nasi goreng buatannya ke kamar. Karena ia takut kalau Ziva terbangun dan menagih nasi goreng itu kembali, Vano mulai membaringkan Ziva di ranjang dan ia pun ikut berbaring di samping Ziva.
"Mas" kata Ziva sambil berbaring dan kepalanya berbantal tangan Vano.
"Em" kata Vano sambil bangun dari tidurnya.
"Mas nasi gorengnya mana?" tanya Ziva.
"Ada yang. Semalam kamu tertidur" kata Vano yang sudah mengumpulkan nyawanya. Vano mulai memiringkan tubuh nya dan Ziva terlentang di sampingnya, sebelah tangan Vano mengelus perut Ziva.
"Mas lama banget semalam bikin nasi goreng nya. Ziva nungguin sampek ketiduran" kata Ziva.
"Maaf sayang itu pertama kalinya Mas masak dan kamu tau sayang, hal apa yang membuat Mas bangga?" tanya Vano dengan senyum bahagia.
"Apa?" tanya Ziva.
"Mas udah tau mana spatula" jawab Vano.
"Whahahahaaa" Ziva tertawa ia sudah sangat serius mendengarkan apa yang di ucapkan Vano dan ternyata ucapan Vano membuatnya tidak bisa menahan tawanya.
"Sayang apa nya yang lucu?" tanya Vano bingung.
"Whahaa, Mas sebesar ini nggak tau spatula?" tanya Ziva sambil terus tertawa.
"Hehehe, nggak yang" jawab Vano sambil tersenyum terpaksa.
"Ya sudah mana nasi goreng nya?" tanya Zuva.
"Sudah tadi malam yang di buat pasti sudah tidak enak" jawab Vano.
"Tapi Ziva mau cicipi satu sendok" kata Ziva.
"Ya udah" kata Vano.
Ziva dan Vano duduk di ranjang. Vano mengambil nasi buatannya semalam di atas nakas dan memberikannya pada Ziva. Ziva melihat nasi goreng buatan Vano tampilannya sangat berantakan namun Ziva tidak mempermasalahkan ia menghargai nasi goreng buatan Vano. Ziva mulai memasukan satu suapan pada mulutnya dan ia mengunyah nya tanpa ekspesi, sementara Vano menunggu apa yang akan Ziva kata kan.
"Mas nasi goreng nya enak" kata Ziva.
"Oh ya?" tanya Vano dengan bangga.
"Iya Mas" jawab Ziva dengan senyuman.
"Iya dong siapa dulu yang buat. Mas Vano" kata Vano sambil menepuk nepuk dadanya karena Ziva sudah memuji masakannya.
"Tapi" kata Ziva menggantungkan ucapannya.
"Tapi apa yang. Apa tapi kurang banyak?" tanya Vano masih dengan merasa bangga.
"Tapi lebih enak Mas nggak usah masak" jawab Ziva.
"Sayang. Kamu tadi menerbangkan Mas seteinggi tingginya, lalu tiba tiba kamu hempaskan ya?" kata Vano dengan kesal.
"Hahahahahaa. Rasanya pahit Mas" kata Ziva.
Vano mengambil nasi goreng yang ada di tangan Ziva dan ia meletakannya di atas nakas. Vano mulai mendekati Ziva dan mulai menkelitiki Ziva.
"Ampun Mas!!!" teriak Ziva.
"Tidak ada ampun" kata Vano yang terus mengkelitiki Ziva tanpa henti.
"Whahahahaaa" Ziva terus tertawa.
"Geli Mas!" teriak Ziva.
Sementara Sinta yang berdiri di depan pintu kamar Ziva dengan tangannya yang memegang napan, dan di atas napan itu ada roti dan susu. Sinta yang hendak mengetuk pintu mengurungkan niatnya karena mendengar teriakan Ziva.
"Mas geli Mas"
"Ampun Mas"
"Hahahahahaaa" itulah suara yang di dengar Sinta.
"Wah lagi itu rupanya. Sudah lah mungkin mereka mau cepat menambah cucu lagi untuk ku. Jadi mereka harus kejar target" kata Sinta.
Sinta pergi sana dan kembali membawa sarapan untuk Ziva dengan pikiran negatip nya.
"Papa di mana ya. Mama juga jadi pengen" gumam Sinta.