
Kini Ziva sudah di pindahkan keruang rawat super ViP, di mana kamar itu memang di khususkan untuk keluarga Zavano sang pemilik rumah sakit. Pagi ini ruangan itu sudah di ributkan oleh tangisan bayi-bayi mungil kembar berjumlah empat itu.
"Ooe, Ooe."
"Sayang kamu haus ya," Ziva yang sedang menyusui bayinya merasa sedikit kesulitan, sebab yang satu menangis dan yang lain ikut menangis karena merasa terganggu dengan tangisan yang lainnya.
"Ziva Mama buat susu formula aja ya," Sinta merasa kasihan pada cucunya yang haus dan harus mengantri kalau mau minum asi.
"Ya Ma, ide bagus biar Vano ikut kebagian kalau nggak di bantu susu formula, gimana nasip Vano," kata Vano yang mengacak rambutnya.
"Mas apa sih ngomongnya nggak jelas banget deh," Ziva kesal pada suami tercintanya yang hanya memikirkan dirinya sendiri, padahal anak-anak mereka sedang menangis.
"Hehehe..." Vano malah tertawa mengingat keanehannya.
"Kamu jangan mikirin nasip kamu terus, nama anak kamu udah di pikirin belum?" kata Sinta dengan kesal, karena Vano belum juga memberi nama pada anak-anaknya.
"Udah Ma, Vano udah punya nama buat empat jagoan Vano," kata Vano yang duduk di ranjang Ziva, Ziva hanya sibuk menyusui si bungsu yang sedang haus.
"Namanya siapa?" tanya Sinta.
"Alfa Zavano, Bastian Zavano, Chandra Zavano, dan yang bungsu Davit Zavano, jadi panggilannya jelas A, B, C, D," jelas Vano dengan bahagia.
"Jangan dong, nama panggilannya, Al, Bas, Chan dan Dav, oh......Mami suka sekali," Sinta sangat bahagia begitu juga dengan Hardy.
"Assalamualaimum," Seli baru saja datang dengan Arman setelah semalam ia pulang, pagi ini Seli sangat antusias dan bersemangat ke rumah sakit karena bayi boy Ziva yang sangat menggemaskan.
"Walaimumsalam," jawab Sinta.
"Halo baby," Seli mengambil satu bayi sulung di boks bayi dan menggendongnya, "Tante Seli kangen banget deh," Seli menciumi wajah bayi itu.
"Seli kamu datang ke sini bukan tanya keadaan aku dulu tapi langsung aja gendong Al, aduh aku berasa di lupakan," Ziva sedikit kesal pada Seli, biasanya Seli selalu memeluknya terlebih dahulu setelah itu baru yang lainnya tapi kini tidak sama sekali.
"Kamu ada Vano yang setia ngurusin, aku juga usah bosan sama kamu, aku sukanya sekarang sama anak kamu," jawab Seli yang kini duduk di sofa namun apa yang di katakan Seli mengundang tawa dari keluarga Zavano.
Lama keluarga terdiam dan tak menyadari jika Seli menangis menatap wajah Al yang tertidur di pangkuannya, rasa sedih Seli datang tiba-tiba menghampirinya bayangan kehamilannya dulu kini sudah tiada lagi. Padahal seharusnya ia sudah bisa melihat jenis kelamin anaknya, sudah berbelanja perlengkapan bayi dengan bahagia tapi semua lenyap saat bayinya di nyatakan meninggal dunia, hati Seli terluka karena ia masih berpikir ia lah penyebab bayinya meninggal dunia.
"Seli kamu kenapa nangis?" Sinta yang duduk tidak jauh dari Seli mulai menyadari itu, Sinta duduk di samping Seli dan ingin tau penyebabnya.
"Ma, Seli berdosa banget ya Seli udah jadi penyebab kematian janin Seli sendiri," tutur Seli di selingi tangisan yang terasa menyesakan dada.
"Sayang," Arman menghapus air mata Seli, ia juga sedih dengan apa yang terjadi pada mereka namun semua sudah terjadi, dan sekarang hanya perlu iklas semua kesalahan akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga, untuk kedepannya agar menata hidup menjadi lebih baik lagi.
"Kakak juga pasti sebenarnya marah kan sama Seli? Karena Seli nggak bisa jaga kandungan Seli?" tanya Seli dengan perasaan bersalah.
"Seli, kamu jangan berpikir begitu nanti pasti di berikan lagi sama Allah, yang penting terus berusaha dan berdoa," kata Sinta yang juga memeluk Seli dari samping.
Seli yang awalnya menangis kini malah di buat kesal, Arman kini rasanya sudah mulai menunjukan jati dirinya di hadapan Seli, Arman yang berbicara tanpa di saring dan di tambah lagi banyak keluarga yang mendengarnya, lengkap sudah rasa malu yang di berikan Arman padanya.
"Kakak apasih nggak jelas banget deh," kesal Seli menyenggol Arman yang menyandarkan kepala pada pundaknya.
"Iya Kakak kan cuman menjelaskan apa yang Mama bilang supaya kamu paham," jelas Arman lagi lalu ia berbisik di telinga Seli agar tak ada yang mendengar, "Biar usaha kita cepet dapat hasil kita seminggu nggak usah keluar kamar," kata Arman dengan suara sangat pelan bahkan Sinta pun yang duduk di samping Seli di buat bingung sebab ia tak mendengar.
"Ish, apa sih," Seli benar-benar di buat kesal hingga ia menatap tajam Arman, tapi Arman malah mencolek dagunya.
"Ahahaha," Arman tertawa dan tangan Arman di tepis oleh Seli.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Sinta penasaran, "Mama merasa jadi kambing congek tau nggak," Sinta sebenarnya ingin tau apa yang menjadi topik pembahasan Arman dan Seli tapi ia juga takut kalau pembahasan kedua anak itu adalah mengenai ranjang, itu sangat memalukan.
Arman dan Seli kembali saling pandang mendengar pertanyaan Sinta.
"Ahahahaaa," keduanya tertawa yang justru membuat Sinta makin bingung.
"Mama nggak usah di tanya, kayak nggak pernah muda aja," Vano juga ikut menimpali pembicaraan ketiga orang itu.
"Vano, gw pinjem satu ya? Bayi lu, ini namanya siapa?" Arman menanyakan nama bayi yang di gendong Seli.
"Namanya Al, dan apa tadi lu bilang pinjem?" Vano rasanya ingin membenturkan kepala Arman ke tembok.
"Iya pinjem sehari kali bro, kasihan tau bini gw," kata Arman dengan wajah di buat semelas mungkin.
"Apaan pinjem, buat dong!" ketus Vano.
"Vano, kamu ya mulut asal ngomong aja nggak ada di pikir dulu," Sinta malah kesal mendengar Vano yang berbicara sembarangan, bagaimana pun Seli masih bersedih dengan kehilangan bayinya tapi Vano malah asal bicara.
"Siang malam gw usaha terus, gw tidur cuman beberapa jam aja demi banting tulang peras keringat buat dapat bayi, sekarang gw tinggal tunggu hasilnya aja." Jawab Arman yang tak mau kalah.
"Kak.....Arman nggak usah ngomong gitu juga," Seli geram dan mencubit lengan Arman dengan kecang meluapkan segala ke kesalannya.
"Aduh, aduh.....aduh, sakit yang," Arman menutup mata dan berusaha lepas dari jepitang kuku Seli yang masih tertancap setia di lengannya.
"Makanya ngomong yang bener, jangan suka asal," Seli melepaskan Arman dengan kesal.
"Nggak Vano, nggak Arman dua-duanya nggak ada yang beres," gerutu Sinta.
***
Pembaca yang baik mohon berikan jembol kalian ya, jangan lupa LIKE, terimakasih buat kakak baik hati.