Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II □ BAB 159


Arman kini merasa kesal sebab semalam Ziva menipunya habis-habisan mengatakan Seli sudah boleh di jenguk, namun ternyata semuanya salah yang ada Arman kesal sampai di rumah sebab malam sudah larut dan istrinya pun sudah tertidur lelap.


"Kakak kenapa?" Seli merasa bingung dengan tingkah suaminya saat ini, bangun tidur bukan ceria tapi malah sibuk mengacak-acak rambutnya.


"Kakak di kerjain abis-abisan semalam sama Ziva," Arman kembali membayangkan wajah Ziva menertawainya bila tau kini ia sangat frustari akibat kekonyolan Ziva.


"Emang Kakak di kerjain apa?" Seli juga ikut penasaran apa yang sudah di lakukan Ziva pada suaminya hingga Arman bisa seberantakan saat ini.


"Dia bilang kamu udah bisa di tengok!"


Seli tersenyum melihat wajah suaminya, ia merasa lucu Arman seperti amak-anak saat ini. Terlalu semangat pulang semalam yang justru hanya membuatnya ingin menelan istri Kenzi Zavano itu hidup-hidup.


"Tapi besok udah bisa kok Kak," tutur Seli dengan malu-malu. La tidak melakukan hubungan itu sungguhbmembuat Seli seperti gadis yang belum tersentuh.


"Serius yang?" Arman berubah bahagia, hilang sudah kesedihan yang sedari tadi ia rasakan kini justru berganti dengan perasaan yang sangat membahagiakan.


"Iya serius, Kak jangan deket banget, Seli malu tau," wajah Seli merah merona saat Arman hamya berjarak beberapa senti darinya.


"Kok malu sih, bukannya udah biasa juga di kasih pisang ambon biar jinak kamunya," seloroh Arman yang membuat pipi Seli semakin jelas memerah.


"Kak Arman," Seli kesal dan melepar guling pada sang suami.


"Ahahahahaa," Arman semakin tidak kuasa menahan gemas melihat wajah Seli yang malu-malu itu, padahal bila terjadi pun itu bukan pertama kali tapi sudah seeing kalinya.


"Kak Arman cukup! Kalau nggak besok Seli nolak ya," Ancaman ampuh dan mujarap, seketika tawa Arman hilang berganti rasa takut karena ucapan sederhana sang istri namun terasa sangat menteramkan.


"Jangan dong yang," Arman buru-buru meminta maaf pada sang istri, libur selama ini saja sudah sangat menyiksa jangan sampai si tambah lagi.


"Okey, tapi mulai hari ini Seli ikut Kakak ke kantor lagi ya," kata Seli karena kini Arman tak mengijinkan Seli ikut dengannya ke kantor.


Bukan tanpa alasan Arman tak mengijinkan Seli ikut dengannya, tapi karena Seli baru selesai di oprasi dan masih sangat rentan. Jadi Arman tidak mau mengambil resiko kalau terjadi sesuatu pada sang istri.


"Tapi ku belum sembuh total kan yang," Arman masih berat mengijinkan sang istri untuk ikut dengannya, sebab Seli belum boleh terlalu aktif Arman juga takut Seli terpeleset dan luka bekas oprasinya sakit kembali.


"Udah Kak, cuman sedikit lagi aja, lagian Seli janji di kantor nggak akan ngapa-ngapain selain duduk dan tidur," Seli berusaha merayu Arman agar memberikannya ijin, semenjak kejadian hari itu kini Seli sudah sangat takut berjauhan dengan Arman.


"Ya udah, mandi ayo," Arman mengijinkan sang istri ikut dengannya, ia kasihan melihat sang istri dengan memohon agar ikut dengannya ke kantor juga.


"Yeee," Seli masuk ke kamar mandi, masih seperti biasanya, Seli di mandikan oleh Arman. Selama sang istri sakit, Arman sangat rajin membantu istrinya untuk mandi, Arman merasa kasihan pada sang istri di sesali pun percuma semua sudah terjadi kini Arman hanya berusaha memperbaiki agar semua menjadi lebih baik lagi.


Di kantor.


Kini Seli tengah duduk di kursi kerja Arman dengan permen yang ada di mulutnya, dan tangannya sibuk mengotak-atik ponsel sang suami. Bukan tidak sopan tapi kini selama Seli dan Arman rujuk razia ponsel sangat sering Seli lakukan, ia kini semakin posesif pada Arman. Ia tak sanggup lagi jika hal yang lalu terulang kembali.


"Sayang," Arman baru masuk keruangannya, sebelumnya ia meeting dengan beberapa rekan bisnisnya, Seli yang mendengar sang suami meletakan ponselnya. Ia turun dari kursi dan berjalan mendekati Arman tidak lupa Seli bergelanjut manja di leher sang suami.


"Kamu pendek banget yang, Kakak harus jongkok begini loh," tutur Arman terkekeh.


"Gendong," Seli meloncat dan Arman menggendong sang istri di pinggangnya seperti anak kecil yang di gendong ibunya, dengan kaki Seli yang melingkar di pinggang Arman.


"Kamu ringan banget sih," Arman mencolek hidung Seli dengan sebelah tangannya, sementara sebelah lagi memegang pinggan Seli agar tak terjatuh.


"Kakak menghina banget deh," kesal Seli sambil masih memakan lolipot di mulutnya.


"Bagi dong," Arman duduk di sofa bersama Seli yang ikut duduk di pangkuannya, kaki Seli masih setia melingkar di penggang Arman.


"Kakak mau," Seli melepas lolipop di mulutnya dan mengacu kan pada Arman, "Beli dong," Seli kembali memasukan pada mulutnya.


"Kamu nakal ya," Arman mengkelitiki Seli sebab sudah berani mengerjainya.


"Ahahaha," Seli tertawa lepas melihat wajah kesal Arman.


"Bagi," gengan cepat Arman mengambil lolipop di mulut Seli saat sang istri tengah tertawa, dengan cepat Arman memasukannya kedalam mulutnya, agar Seli tak mengambilnya kembali.


"Seli masih punya banyak tau Kak," Seli mengambil banyak lolipop dari saku rok yang ia pakai, Arman prustasi melihat istrinya seperti anak-anak yang menyimpan lolipop sangat banyak di sakunya.


"Dari tadi Kak rebut sisa kamu, ternyata lolipop di saku kamu masih banyak banget begini ya," Arman hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya seperti anak kecil.


"Kakak tadi nggak minta, Kakak minta yang Seli lagi nikmati, ish Seli kesel tau," Seli kembali mebuka kemasan lolipopnya dan memasikannya kedalam mulut.


"Yang kamu tadi di sini Kaka tinggal ngapain aja?" Arman tau ia pergi hampir dua jam ia pikir istrinya akan meminta supir untuk di antar pulang, namun ternyata sang istri masih setia menunggunya.


"Nggak ada, cuman tidur, makan terus main game," jawab Seli.


"Itu aja?"


"He'um, Kakak tadi di sana nggak senyumin cewek kan," tangan Seli menarik dasi Arman hingga Arman merasa tercekik.


"Nggak yang, beneran," Arman kini justru semakin takut pada Seli yang semakin terlihat galak.


"Okey," Seli merenggangkan dasi Arman, agar sang suami tidak tercekik. Ia juga sebenarnyatak tega itu hanya gertakan saja agar suaminya ingat bila berniat ingin bermain gila di belakangnya.


"Kamu tambah galak si yang," Arman memeluk mendekankan pinggang Seli pada bagian inti tubuhnya yang terasa mengeras di sana.


"Ya kan biar Kakak Arman nggak macam-macam, kalau Kakak macam-macak, yang ini ni," Seli menggerakan pinggangnya hingga Arman hanya bisa menahan sambil menutup mata, "Seli potong," Seli menujukan tangnnya pada Arman seolah ia tengan memotong lolipop itu.


"Kalau lolipopnya di potong mau di apain," seloroh Arman.


"Seli jadiin gantungan kunci," jawab Seli yang membuat Arman merinding.