
Perusahaan Pt.Mt.tbk
***
Di waktu yang sama.
Vano mulai memasuki ruangan nya ia mulai mendudukan dirinya di kursi kebesarannya. Karena beberapa hari ini ia lebih banyak bersama Ziva membuat pekerjaan nya banyak yang terbengkalai. Vano mulai berfokus pada laptopnya dan beberapa berkas yang sudah tersusun rapi di mejanya menunggu tanda tangannya.
"Sayang" kata Vano.
Ia melihat meja Ziva. Ia lupa kalau Ziva tidak masuk bekerja dan ia sendiri yang menyuruhnya berhenti bekerja. Vano menyandarkan tubuhnya dan ia tersenyum saat mengingat Ziva masih bekerja ia terus memandang kursi Ziva kalau biasanya ia selalu berdebat dan bercanda bersama Ziva. Tapi tidak dengan saat ini Vano mengambil ponsel nya dan menghubungi Ziva.
"Sayang" kata Vano saat panggilannya sudah terhubung dengan istri yang ia rindukan.
"Ya Mas" jawab Ziva.
"Kamu sedang apa?" tanya Vano.
"Lagi mau ngerujak sama Dokter Anggi Mas. Sama Bilmar juga" jawab Ziva.
"Sayang kamu jangan deket-deket sama playboy cab buaya buntung itu ya. Mas nggak suka" kata Vano dengan jengkelnya karena Bilmar juga di sana.
"Heh brengs*k loe jangan kurang aj*ar" kata Bilmar berteriak.
"Sayang kamu laudspeaker" tanya Vano.
"Hehehe iya Mas. Soalnya Ziva lagi kupas mangga" jawab Ziva.
"Ya sudah Mas kerja dulu ya sayang hati-hati pegang pisau nya. Awas kena tangan kamu" kata Vano.
"Mas cepet pulang ya" kata Ziva.
"Kamu udah kangen ya? sama Mas. Padahal kita baru satu jam nggak ketemu" kata Vano.
"Lebay" jawab Bilmar.
"Sayang udah dulu ya. Kasian ada playboy sirik di situ" kata Vano mengejek Bilmar.
"Ya Mas ku" jawab Ziva.
"Assalammualaikum" kata Vano.
"Walaikum salam Mas" jawab Ziva dengan lembut dan manja.
Biip.
Vano menaruh ponselnya di meja kerjanya. Ia sangat bahagia dengan pernikahannya sekarang. Ia sangat bersukur bersama Ziva ia mendapatkan perhatian yang ia ingin kan. Wajahnya terus tersenyum mengingat wajah Ziva.
"Bos" kata Arman yang tiba-tiba masuk.
"Kau bisa tidak kalau masuk ketuk pintu dulu" jengkel Vano.
"Maaf bos kebiasaan" jawab Arman sambil terkekeh.
Arman langsung berjalan dan mendudukan dirinya di sofa. Ia meletakan kakinya di meja dengan sepatu yang masih ia pakai dan kakinya tepat menghadap Vano.
"Heh. Kamu tidak sopan sekali" kata Vano.
"Bos saya sedang bahagia. Dan untuk hari ini hargai saya sebagai wakil Presdir" kata Arman dengan wajah cerianya.
Vano mengangkat sebelah alisnya. Sambil memainkan bolpoin di tangannya. Ia yakin adik angkat nya itu sedang bahagia karena ia tau Arman tidak permah sebahagia pagi ini. Dan selama ini Arman juga belum pernah jatuh cinta satu kali pun. Bayak wanita yang mendekatinya namun tidak ada satu pun yang membuat nya tertarik.
"Bos tau nggak?" kata Arman.
"Nggak" jawab Vano kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Mau tau nggak?" tanya Arman.
"Tidak" jawab Vano yang hanya fokus pada pekerjaannya.
"Bos manusia tidak setia" kata Arman dengan jengkel.
Vano menghentikan pekerjaannya. Ia yang menunduk mulai mendongkak.
"Saya masih normal" ketus Vano.
"Bukan yang itu bos" kata Arman tapi Vano diam saja. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya karena ia ingin cepat pulang lalu memeluk perut istrinya itu lah yang saat ini sangat ia rindukan.
"Bos saya sudah punya nomer ponselnya Seli dan besok saya libur ya bos. Sekali-sekali lah bos saya kan juga butuh hiburan" kata Arman.
"Boleh" jawab Vano.
"Wah bos baik banget. Besok saya bisa sama Seli seharian" kata Arman dengan bahagia.
"Ya dan setelah itu selama satu minggu kedepan saya yang liburan sama istri dan kamu duduk di sini selesaikan pekerjaan saya" kata Vano dengan seringai licik nya.
"Ck. Bos tega sekali" kata Arman berdecak kesal.
"Kamu tau seharusnya hari ini semua orang libur semua istirahat di rumah. Tapi saya malah bekerja" kata Vano dengan jengkel.
"Kan dari kemari-kemarin bos sudah banyak libur" kata Arman.
"Cepat bantu saya selesaikan semua ini. Saya ingin cepat pulang" kata Vano dengan tegas pada Arman.
"Ck. Iya" kata Arman dengan jengkel.
Ia bangun dari duduk nya dan duduk saling berhadapan dengan Vano. Ia menarik laptop yang di pegang Vano tanpa meminta izin pada Vano. Vano sedikit tersenyum karena Arman membantu pekerjaannya.
Karena satu pekerjaannya sudah di ambil alih oleh Arman ia mulai membuka satu persatu berkas yang tersusun di mejanya dan ia mulai memeriksa data-data di sana dan mulai menandatangani nya.
"Bos jadi kapan saya bisa libur?" tanya Arman yang masih mengertakan pekerjaan Vano.
"Jangan tanya kapan kau libur. Aku juga ingin libur untuk memeluk istri ku di rumah" kata Vano dengan jengkel.
"Tapi bos kan malam juga ketemu terus tidur juga sama-sama" kata Arman yang mulai jengkel tapi tatapan nya tetap pokus pada pekerjaannya.
"Ck. Sok tau" kata Vano.
Vano terus mengerjakan pekerjaannya ia tidak peduli dengan ucapan Arman yang terus meminta cuti. Arman mengeluh karena tidak pernah libur. Namun ia tidak tau bos nya juga sedang mengeluh karena ia semalam tidak tidur memeluk istrinya akibat ulah Sinta.
Dan Vano ingin cepat pulang ia ingin membayar rasa rindunya dari semalam ingin bersama dengan Ziva. Di tambah lagi ia penarasan dengan keinginan Ziva membuatnya bertambah pusing. Ia sangat berharap keinginan Ziva adalah sesuai dengan keinginan nya yang merindukan desahan manja saat tubuh nya berada di atas tubuh istri mungil nya itu.
"Bos" kata Arman yang membuat Vano tersadar dan menghentikan hayalan kotornya.
"Ck" Vano berdecak kesal karena Arman terus saja merusak hayalan nya.
"Cepat selesai cepat pulang bos. Hari ini libur tapi kita bekerja. Saya juga setelah ini ada janji sama Seli. Bos juga mau sama istri kan? jangan menghayal kerja!" kata Arman dengan tegas.
Vano tidak memperdulikan ucapan Arman ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Dengan sesekali melihat ponselnya di mana ada wajah istrinya yang menjadi layar utama pada ponselnya. Ia tersenyum memandang gambar istrinya yang menurutnya hanya Ziva bidadari sempurna yang selalu menjadi pelengkapnya.
Dan nama Zivanya Sabilla sudah terukir sangat dalam di dalam sana tidak ada lagi nama yang lain. Vano kini bagaikan seperti lelaki remaja yang baru merasakan indahnya manis madu cinta yang membuatnya melayang di awan. Cinta memang tidak memandang usia yang ia tau ia akan datang tepat pada waktunya dan Vano sudah seperti mendapat puber kedua dengan istri keduanya dan ia sangat berharap Ziva akan menjadi pelabuhan terakhir cintanya.