Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 150


Arman perlahan mendekat dengan perasaan yang tak karuan, perlahan ia memeluk Seli. Arman hanya bisa menangis dan menangis tanpa bisa berbicara.


"Jangan sentuh anak ku," Lastri berteriak dan menarik baju Arman agar menjauh dari putrinya.


"Mbak," Sinta dan Ratih berusaha menengangkan Lastri, yang terus memukuli Arman tanpa henti. Arman hanya diam saja ia menerima apa pun yang Lastri lakukan padanya.


"Ini semua karena kau, aku menyesal sudah memaksa anak ku menikah dengan mu! Pergi dari sini dan kejar wanita yang selalu bersama mu itu," Teriak Lastri hingga Sinta dan Ratih membawa Lastri keluar dari ruangan Seli meninggalkan Arman di sana.


"Sayang," Arman tak tau harus apa yang jelas ia tak sanggup melihat Seli terbujur kaku di hadapannya, "Kau bilang kau akan bahagia setelah aku pergi, tapi ternyata semua kenapa malah begini. Kau pergi membawa anak ku, kau pergi bersama cinta ku, tidak kah kau tau aku tak bisa hidup tanpa mu. Dan bila kau pergi maka aku pun harus ikut aku akan menemani mu di liang lahat itu bersama anak kita," Arman memeluk Seli kembali, bayangan saat sebelum mereka menikah di mana Seli selalu memarahinya, bayangan ketika Seli bertengkar dan ia menggoda Seli hingga menangis, semua itu kembali berputar di kepalanya. Arman tak menyangka cinta pertamanya juga kini malah pergi meninggalkannya sendiri, cinta yang susah payah ia kejar hilang dalam sekejap saja.


"Jangan tinggalkan Kakak, Kakak mohon. Kakak cuman cinta sama kamu nggak ada yang lain. Kakak mohon sayang bangun demi Kakak," Arman menggoyangkan tubuh Seli dengan kuat berharap Seli bangun karena keajaiban.


"Arman," Vano menghentikan Arman mencoba menjauhkan Arman dari Seli namun terasa sangat sulit sekali.


"Lepas, aku mau Seli bangun," Tutur Arman dengan suara pilu dan putus asa, "Seli bangun, jangan seperti ini apa kau sangat membenci ku hingga kau pergi meninggalkan aku dengan cara yang seperti ini." Tutur Arman di iringi tangisan.


"Arman sabar kasian Seli," Vano memang merasa kasihan pada Seli yang setengah di angkat Arman, sedangkan Seli sudah dinyatakan tiada lagi bernyawa dan Arman belum bisa menerima.


Arman tak mau menjauh, ia masih ingin Seli bangun bahkan Arman masih tak yakin Seli telah tiada ia yakin Seli masih ada dan bernafas.


"Dia belum meninggal, tubuhnya masih hangat kalau mayat itu dingin dan istri ku tidak!" Teriak Arman dengan suara kencang sebab dokter beserta Vano berusaha mendorong Arman keluar, karena dokter harus mempersiapkan Seli untuk di bawa pulang.


"Arman Seli sudah tidak ada," Tidak ada yang bisa di katakan Vano selain itu, ia pun merasa bersedih melihat kondisi Arman sama saja halnya saat dulu ia terpuruk Arman orang yang selalu menjaga dan ada untuknya, begitu juga saat ini Vano berusaha untuk menjadi orang yang berguna memberi semangat untuk Arman.


"Istri ku masih hidup!" Teriak Arman hanya itu saja yang ia teriakan.


"Tunggu!" Teriak Lastri yang sudah masuk karena dokter hampir menutup wajah Seli dengan kain putih.


"Mbak Lastri iklas kan Mbak kasian Seli " Kata Sinta.


"Jari anak ku bergerak," Kata Lastri hingga membuat semua mata menatap arah telunjuk Lastri.


"Seli," Arman mendekati dan ia pun melihat apa yang terjadi.


"Tunggu apa lagi, pasang semuanya kembali," Kata Anggia sebab dokter dan perawat sepertinya masih bingung.


Dengan cepat semua alat di pasang kembali, dengan perasaan yang lebih lega namun juga haru, perlahan mata Seli terbuka dan melihat Arman yang ada di sampingnya. Arman tersenyum beberapa kali Arman mengusap mata berharap jika ia tidak salah lihat.


"Seli," Lastri juga ikut memeluk Seli yang masih memandang kosong, sepertinya Seli masih butuh waktu untuk kembali mengingat apa yang terjadi, karena seingatnya ia tertidur lalu kenapa orang-orang malah menangis di hadapannya. Seli juga melihat sekitarnya di tambahnya tubuhnya terpasang alat medis sangat membingungkan bagi Seli.


"Seli di mana Bunda?" Tanya Seli, ia juga bingung ia tadi memang mendengar Arman memanggilnya, bahkan Seli terbangun karena Arman menyebutnya istri. Seli yang bermimpi memasuki taman bunga indah di jemput oleh sang Ayah untuk ikut bersamanya, namun ketika Seli mendengar suara Arman memanggilnya dengan perkataan Istri ia menolak ikut pergi bersama sang Ayah.


"Kamu di rumah sakit Nak," Lastri terus memeluk sang putri, hingga mata Seli dan Arman bertemu. Lastri juga menyadari itu ia keluar bersama yang lainnya meninggalkan Arman dan Seli saja berdua.


"Kak, Seli nggak mau cerai hiks, hiks," Seli takut saat ini Arman membawa surat cerai dari pengadilan hingga, ia lebih memilih untuk berkata seperti itu sebelum benar-benar bercerai dengan Arman.


Arman tak menjawab ia hanya dian dan mendekati Seli juga langsung memeluk Seli kembali, jantung Arman masih belum bisa berhenti berdetak kencang ketakutan akan kehilangan Seli masih menghantuinya.


"Kak, Seli janji nggak akan cengeng lagi, tapi Seli nggak mau cerai," Tutur Seli yang masih di peluk Arman.


"Iya kita nggak cerai, kita rujuk lagi ya," Pinta Arman yang masih memeluk Seli.


"Iya, janji ya Kak jangan tinggalin Seli," Pinta Seli penuh harap.


"Iya, kamu jangan pikirin itu semua baik-baik saja ada Kakak di sini," Kata Arman yang di angguki Seli.


Tiba-tiba Seli meremas perutnya merasakan sakit yang sangat luar biasa tak tertahan, bahkan tubuh Seli mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Sayang kamu kenapa?" Arman panik dan berusaha menenangkan Seli, namun tetap saja rasanya masih sangat sakit dan terlalu sakit.


"Sakit Kak," Jawab Seli.


Arman dengan cepat memanggil dokter dan memeriksa Seli, dan tidak lama kemudian dokter keluar dari ruangan Seli.


"Tuan Arman, janin nyonya Seli sudah tidak bernyawa lagi dan kami harus mengangkatnya, dan kami butuh persetujuan anda," Kata Seorang dokter.


Arman menatap Lastri yang juga menatapnya, Lastri mengangguk, Arman pun mengangguk menyetujui.


"Iya dok, lakukan yang terbaik," Kata Arman.


Walau pun bersedih tapi apa mau di kata semua sudah terlanjur, janin itu sudah tak bernyawa lagi. Arman hanya bisa menggusap kasar wajahnya penuh rasa benci pada dirinya sendiri , Arman padahal sudah bahagia walau pun Seli koma tapi masih ada kesempatan anaknya hidup, namun kini tiba-tiba bayi itu meninggal dunia tapi Arman masih bersyukur paling tidak Seli masih selamat dari pada keduanya ikut pergi.