Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 151


Dua hari kemudian.


Keadaan Seli sudah lebih baik hanya saja bayi mereka sudah tidak ada lagi, Seli sangat terpukul atas kehilangan bayinya rasanya Seli belum bisa menerima apa yang sudah ia alami, Arman pun tak tau apa yang sudah di alami Seli ia hanya tau Seli over dosis karena obat tidur. Yang tau hal mengerikan itu hanya Lastri, namun Lastri pun belum bercerita apa-apa pada Arman mau pun Seli.


"Kakak suapin makannya ya?" Arman duduk di sisi ranjang, di tangannya sudah memegang piring juga sendok.


"He'um," Seli mengangguk dengan tersenyum.


"Buka mata," Seloroh Arman sambil mengarahkan sendok berisi nasi dan lauk pada Seli.


"Kak Arman apasih," Seli malah terkekeh dan menepuk pundak Arman, "Buka mulut," Seli membenar perkataan salah Arman.


"Oh, lupa," Arman berpura-pura bodoh dan mengakui kesalahannya, dengan tangan mulai menyuapi sang istri.


"Kakak yang ingat apa sih, ini juga rambut apaan udah gondrong," Seli menunjuk rambut Arman yang di ikat dengan karet karena sudah panjang.


"Yang Kakak ingat cuman kamu," Tutur Arman dengan menatap wajah Seli.


"Ish, Kak Arman Seli nggak kuat," Seli malah bersemu malu dan menutupi wajah dengan telapak tangan sementara mulutnya masih mengunyah nasi.


"Kok malu," Arman malah di buat bingung oleh istrinya, mereka sudak menikah. Bahkan Seli juga sudah pernah hamil anak Arman, tapi tingkah Seli masih seperti orang berpacaran.


"Kak udah ya, Seli kenyang," Tutur Seli.


"Kan baru tiga sendok, apa iya sudah kenyang?" Tanya Arman dengan bingung sebab piring yang di tangan Arman masih penuh makanan.


"Udah!"


"Kok bisa?" Arman tau bagaimana porsi makan Seli bahkan dari sebelum menikah, makan bakso sana Seli habis dua mangkok dan rasanya seperti aneh jika sekarang Seli makan hanya sedikit.


"Kan Seli bukan cuman makan nasi Kak?"


"Terus kamu makan apa selain nasi?"


"Makan gombalan Kakak," Tutur Seli dengan pasti.


"Ahahahaha," Keduanya tertawa lucu, Lastri yang berdiri di pintu dengan pintu yang setengah ia buka merasa bahagia, Seli yang biasa murung kini sudah tertawa bahagia seketika Lastri merasa bersalah sudah memarahi Arman. Lastri juga ingin berbicara berdua dengan menantunya itu perihal apa yang di alami Seli sebelum bayinya meninggal, namun sulit untuk bisa berbicara dengan Arman sebab Seli tidak mau di tinggal.


"Makan lagi ya?" Arman kembali menyuapi Seli hingga nasinya habis, setelah itu Seli meminum obat dan Arman membantu Seli untuk berbaring.


"Kak Seli pengen pulang, Seli pengen istirat di rumah," Seli sudah rindu dengan suasana rumah dan juga segarnya udara di luar sana.


"Ya sayang, kata Anggia kamu besok sudah boleh pulang, nanti Anggia yang ganti perban kamu kalau udah di rumah ya," Arman mengelus kepala Seli mengecup kening sang istri.


"Kakak mau ke mana?" Seli takut Arman pergi meninggalkannya lagi hingga ia selalu bertanya ke mana pun Arman pergi.


"Kakak keluar sebentar," Arman yang ingin merokok di luar rumah sakit berniat diam-diam keluar namun ternyata Seli mengetahui gerak-geriknya.


"Kakak pasti mau tinggalin Seli," Mata Seli kembali berkaca-kaca membuat Arman mengurungkan niatnya. Dan kembali mendekati Seli yang berbaring di ranjang.


"Tidur yuk," Arman juga ikut naik ke ranjang dan memeluk Seli berniat hingga sang istri tertidur karena setelah Seli tertidur ia baru akan keluar sebentar untuk melakukan apa yang sempat tertunda.


"Kak Arman," Seli kesal, niat hati ingin tidur di peluk tapi malah Arman meremas gundukannya.


"Hehehe," Arman merasa lucu sendiri, "Maklum yang puasa lama," Arman kembali memeluk Seli sambil menahan hasrat kelelakian yang terasa menggelora.


Udah sering di polosin, tapi masih nggak ngerti juga.


"Iya," Arman menutup mata dan semakin memeluk Seli, "Udah ayo tidur abaikan aja ya," Arman tak ingin membahas itu, tangan Seli saja masih terpasang infus di tambah istrinya baru siap oprasi. Jadi tidak mungkin ia bisa berbuka dalam waktu dekat ini.


"Kak, jenggot Kakak bisa di cukur aja nggak," Seli merasa geli saat jenggot Arman menyentuh wajahnya.


"Kenapa?"


"Seli geli tau Kak, rambutnya juga sekalian di potong," Tutur Seli.


"Nanti sekalian kamu yang potong yang bawah juga udah panjang banget," Jawab Arman santai.


"Kakak apa sih," Kesal Seli.


"Diam, Kakak ngantuk," Arman tertidur lelap sambil memeluk Seli, niat hati hanya menidurkan sang istri tapi malah ia yang terlelap tidur, dan Seli tak bisa tidur karena Arman mendengkur.


Arman tidur dengan nyenyak, lama ia tak pernah lagi merasa senyaman ini. Selama beberapa hari berpisah dengan Seli kini Arman seakan mendapatkan ketenangannya yang udah hilang.


"Ini pasien yang mana sih," Sinta baru saja datang lalu masuk melihat Arman tidur dengan lelap memeluk Seli.


"Hehehe, iya Ma malah Kak Arman yang tidur katanya mau temenin Seli tidur," Tutur Seli dengan rasa malu sebab Arman masih memeluknya dengan erat, menurut Seli tidak boleh menunjukan ke mesraan pada orang lain apa lagi pada orang tua.


"Dasar anak ini," Sinta hanya geleng-geleng melihat pasangan di hadapannya.


"Seli," Ziva datang dan ingin memeluk Seli tapi tidak bisa karena ada Arman yang sudah meneluk Seli.


"Ziva aku kangen, kamu dari kemarin ke mana, aku tungguin," Tutur Seli yang sangat merindukan sahabatnya.


"Aku nggak percaya kamu rindu sama aku," Ziva juga bepura-pura tak percaya.


"Loh kenapa?" Tanya Seli yang belum mengerti.


"Tuh," Telunjuk Ziva mengarah pada Arman yang masih terlelap memeluk Seli.


"Apa hubunganya?" Seli malah kesal pada Ziva.


"Emang setelah preman kampung ini kembali kamu masih kangen sama aku," Ziva memutar bola matanya dengan malas.


"Loh kok preman kampung?" Tanya Seli lagi.


"Ziva, Arman bukan preman kampung!" Tutur Sinta dengan tegas.


"Terus apa Ma?" Tanya Ziva.


"Orang gila yang duduk di lampu merah," Jawab Sinta yang mengundang tawa ketiga.


"Ahahahhaha," Tawa ketiganya menggelegar bahkan Arman sama sekali tak bangun atau pun merasa terganggu dengan keributan ketiga wanita itu.


"Ada apa ini seru sekali," Lastri kembali masuk setelah mendengar tawa dari ruangan Seli.


"Biasa Mbak anak muda," Kata Sinta.


Kebahagian kini terasa kembali lagi, Sinta dan Lastri pun sibuk bercerita tertawa dengan lepas. Sebab keluarga mereka kembali damai dan terasa tentram, sementara Ziva juga menunggu sang suami yang akan menjemputnya ibu hamil itu kini tak bisa lepas dari sang suami walau hanya satu jam saja.