Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 83


Kini Vano sedang menuju perusahaan karena Hardy sudah menunggunya di sana. Hardy menghubungi Vano dan meminta agar datang ke perusahaan yang di pimpin Hardy karena masalah pribadi Vano kini berdapak pada saham perusahaan. Dan para rekan bisnis mereka mulai mempertanyakan berita yang tersebar luas, tentang rumah tangga Vano.


Setelah sampai di perusahaan Arman lansung memarkirkan mobil yang ia kemudikan di depan kantor pusat Pt.Mt.tbk. Vano mulai membuka pintu lalu ia turun, ia terus melangkah masuk dengan Arman yang terus mengikutinya dari belakang, saat Vano mulai memasuki lobi terlihat banyak wartawan yang menunggunya. Dan saat mereka melihat Vano sudah datang para wartawan itu langsung berhambur mendekat Vano, mencerca dengan berbagai macam pertanyaan.


"Tuan Vano apa berita yang sedang beredar itu benar" tanya seorang wartawan sambil berjalan, karena Vano tidak menghentikan langkahnya.


"Tuan Vano mohon klarifikasinya" kata wartawan yang lainnya.


"Tuan Vano mengapa Anda lebih memilih wanita malam dari pada istri anda sendiri?"


"Tuan apakah wanita malam itu lebih baik dari pada nyonya Keyla?"


"Tuan mengapa anda mendengarkan hasutan seorang wanita malam untuk menceraikan istri anda"


Begitulah pertanyaan para wartawan itu, namun Vano sama sekali tidak menanggapinya, Vano terus memasuki lift khusus petinggi perusahaan bersama dengan Arman dan beberapa pengawal. Yang dari tadi berusaha melindung Vano dari para wartawan yang ingin bertanya pada Vano.


Ting!.


Lift terbuka dan kini mereka sudah sampai di ruangan Hardy lantai tertinggi di gedung itu. Vano mulai berjalan masuk, terlihat Hardy yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Vano mulai mendekat lalu duduk di kursi ya saling behadapan dengan Hardy, Hardy yang melihat Vano duduk di hadapannya hanya menatap datar.


"Kau sudah tau maksud ku?" tanya Hardy.


"Iya Pa" jawab Vano.


"Baiklah, selesaikan kekacauan yang kau buat!" kata Hardy dengan tegas dan suara beratnya.


"Arman duduk" kata Vano menunjuk kursi kosong di sebelahnya.


"Info apa yang sudah kau dapat" tanya Hardy.


"Saya sudah mendapat info kalau benar Keyla yang melakukan ini semua. Tapi ada hal yang lebih mengejutkan tuan" kata Arman.


"Mengejutkan?" tanya Hardy.


"Iya. Karena orang yang ikut memuluskan jalan Keyla di bantu tuan Arkan" jawab Arman.


"Apa masalah tuan Arkan dengan kita?" tanya Hardy.


"Menurut info yang saya dengar dari orang kita. Tuan Arkan menginginkan nyonya Ziva. Karena sewaktu nyonya muda bekerja di perusahaan, Tuan Arkan berteman baik dengan nyonya muda, dan juga beberapa kali Tuan Arkan mencoba mengajak nyonya muda makan malam. Namun nyonya Ziva menolak. Mungkin Tuan Arkan merasa benci saat mengetahui dari mata-mata yang ia kirim untuk mengetahui siapa nyonya muda. Dan ia murka saat tau nyonya muda istri tuan Vano" jelas Arman


Hardy menyandarkan kepalanya dan memikirkan ucapan Arman, begitu juga dengan Vano yang tengah memikirkan sesuatu di otaknya, Vano menatap Hardy begitu juga dengan Hardy, sepertinya keduanya mendapat kan solusi.


"Apa yang kau pikirkan sama dengan yang ku pikirkan?" tanya Hardy.


"Iya sepertinya begitu Pa" jawab Vano.


"Arman nanti undang wartawan untuk mengklarifikasi semuanya. Dan tarik saham yang kita tanam di perusahaan bajingan itu" kata Vano pada Arman.


"Iya tuan" jawab Arma.


***


"Babe" kata Keyla langsung berjalan mendekat Vano dengan tubuh sexy, bahkan dua dadanya setengah di luar. Keyla terus berjalan dan berniat duduk seperti dulu di pangkual Vano. Namun dengan cepat Vano berdiri.


"Ingat basan mu!" kata Vano dengan suara baritonnya.


Keyla tersenyum dan ia berjalan melenggang menuju kursi yang saling berhadapan dengan Vano. Keyla duduk dengan melipat kakinya dan memainkan bolpoin Vano, terkesan seperti menggoda Vano dengan sorot mata yang sayu dan menggit bibir bawahnya.


"Apa kau merindukan ku Babe?" tanya Keyla dengan suara desahan manjanya.


"Menurut mu?" tanya Vano sambil berdiri dan memasukan tangannya kedalam saku celananya. Dengan membelakangi Keyla ia hanya melihat jalanan di bawah, lewat kaca besar di hadapannya.


"Menurut ku kau merindukan ku. Maka dari itu kau menyuruh orang untuk menjemputku menemui mu" kata Keyla.


Keyla bangun dari duduknya, ia berjalan mendekati Vano dan memeluk Vano dari belakang dengan menekan tubuhnya agar Vano bisa merasakan tubuhnya. Vano menjauh dan melepas pelukan Keyla, Vano berbalik menatap tajam Keyla.


"Jangan kau sama kan aku dengan Arkan" kata Vano dengan expresi datar dan terkesan dingin.


"Siapa Arkan?" tanya Keyla berpura-pura bodoh dan polos.


"Kalau Arkan akan membantu mu bila kau memberikan tubuh mu untuk di nikmatinya. Tapi tidak dengan saya" kata Vano dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Dari mana kau tau?" tanya Keyla terkejut karena Vano mengetahui rahasianya.


"Kau melupakan siapa aku rupanya" kata Vano mengejek Keyla.


"Babe aku hanya ingin kau kembali pada ku" kata Keyla.


"Aku tidak bisa kembali dengan wanita murahan seperti mu!"


"Ayolah Babe, kita mulai semua dari awal" kata Keyla.


"Aku beri kau satu kesempatan untuk membersihkan nama baik ku dan Ziva. Atau kau akan merasakan hal yang tak pernah kau rasakan" kata Vano dengan penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.


"Ayolah Babe" kata Keyla yang terus berusaha memeluk Vano dan berharap Vano akan tergoda padanya.


"Apa kau tidak mendengar apa yang aku ucapkan?"


"Aku tidak akan pernah mau melakukan apa yang kau perintahkan, kecuali kau mau kembali pada ku atau..." kata Keyla mengantung ucapannya.


"Jagan gila aku tidak akan menuruti keinginan mu" jawab Vano tidak kalah tegas.


"Kalau kau tidak mau kembali pada ku maka kau harus memberikan saham di perusahaan mu. Atau aku pastikan Istri mu akan keguguran" kata Keyla dengan penuh percaya diri.


"Aku tidak akan pernah memberikan ke inginan mu" kata Vano.


"Baik bersiaplah Babe" kata Keyla.


Vano diam dan Keyla langsung melengang keluar ia membuka pintu namun sebelum keluar ia kembali berbalik dan menatap Vano dengan menggit bibir bawahnya. Keyla terus berjalan dan ia membenturkan kepalanya ke diding sehinga terlihat biru, lalu ia mengacak rambutnya dan bajunya yang sedikit ada sobekan, Keyla berjalan dan kini ia di lobi, Wartawan yang melihatnya mulai menyerbunya dan ia mulai memasang wajah sedinya, bersandiwara seolah ia korban dan Vano baru saja berbuat kasar padanya.