Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 98


Kediamanan Ziva dan Vano.


"Sayang cucu Oma," Sinta selalu mengendong cucu kesayangannya sudah tiga hari Ziva dan baby Zie di bawa pulang, selama itu pula baby Zie selalu bersama Sinta, bahkan malam juga baby Zie tidur dengan omanya itu.


"Mama, anak Vano cantikkan?" tanya Vano yang duduk memeluk Ziva, kini keluarga Zavano dan keluarga Rianda sedang berkumpul di kediaman Vano dan Ziva.


"Lihat dulu siapa Omanya, Sinta gitu lohh," tutur Sinta dengan banga.


"Bukan lah Ma, anak Vano cantik karena Vano yang buatnya hati-hati," seloroh Vano sambil menganngkat dua jarinya tanda damai pada Sinta yang menatapnya tajam.


"Kamu punya mulut di jaga, igat kamu udah tua kasih contoh yang baik." Sinta mulai menasehati Vano yang suka sekali bicara asal.


"Okehhh, Oma cantik," Vano tersenyum pada Sinta.


"Mbak aku kapan ya?" Ratih terus murung karena dia juga ingin segera memiliki cucu, di rumah ia merasa kesepian.


"Bil, Mami kamu nanyain tuh?" Sinta membuyarkan lamunan Bilmar, entah apa yang sedang di pikirkan Bilmar yang jelas kepalanya sedang pusing dengan cinta yang tak kunjung terbalas pada Anggia.


"Mami nanyain cucu, mmmffpp," Arman terkekeh mengejek Bilmar.


"Heh, maksud lu apa?" jengkel Bilmar tidak terima Arman mengejeknya.


"Bil, lu ngapain marah, maksud Arman itu lu apanya yang mikirin anak calon bini aja kagak punya," seloroh Vano yang juga ikut menjaili sepupunya itu.


"Sombong lu," ketus Bilmar pada Vano lemudian matanya menatap Arman yang duduk di sofa tidak jauh darinya, "Lu juga udah kayak punya calon aja, cewek juga kagak punya," ujar Bilmar menunjuk Arman.


"Eh, sorry ya Bil, itu Seli calon mantu Mami," Sinta juga ikut membela Arman.


"Kalian kompak amat belain bocah ini," Bilmar menatap tajam Arman.


"Anak soleh ya banyak yang bela," Arman menepuk dadanya dengan bangga.


"Bil kamu pangku ni Zie," Sinta meletakan baby Zie di pangkuan Bilmar.


"Ma Bilmar takut," Bilmar seperti robot saat memangku baby Zie ia tidak berani bergerak sedikit pun.


"Zie ngompol ya di pangkun Ayah Bilmar, mana tau dengan begitu kamu bisa cepat dapet adik," seloroh Arman.


"Istri aja belom punya gimana mau punya anak," Bilmar meluapkan kekesalannya.


"Ahahahah," semua yang ada di ruangan itu menertawai Bilmar.


"Arman kamu kapan nikah?" tanya Ratih mulai menatap Arman.


"Nikah sama siapa?" kali ini Bilmar yang mengejek Arman.


"Sama Seli lah," jawab Ratih.


"Emang Seli mau sama lu?" ketus Bilmar.


"Besok gua nikahin dia, awas ya lu" Arman menunjuk Bilmar yang berani merendahkannya.


"Apanya yang besok, Arman kamu jangan ikutin gaya manusia itu ya," Sinta menunjuk Vano yang terus memeluk Ziva yang duduk karpet bulu yang sangat tebal di gelar di ruang keluarga.


"Ma, kenapa bawa-bawa Vano," kesal Vano.


"Karena lu maksa Ziva buat nikah sama lu, kalau ngak mana mau Ziva nikah sama lu." Kesal Bilmar.


"Ngak kok, Ziva sayang sama mas Vano," Ziva mengelus rambut Vano dan menatapnya dengan penuh cinta.


"Cie ada yang belain," kata Ratih.


"Istri soleha Mi," Vano mengecup pipi Ziva, membuat pipi Ziva seketika memerah. Sedangkan keluarga yang lainnya bersorak.


"Waaaaa," teriak semuanya kecuali Hardy dan Rianda yang kini keduanya sudah bermain dengan baby Zie.


"Lebay banget ni orang," jengkel Bilmar.


"Ya lu bener," Arman juga ikut menimpali.


"Iya kenapa?" tanya Bilmar setelah kembali mengingat hal konyol saat itu.


"Vano nangis-nangis, ampek nonjok kaca toilet hotel, terus kabur dari resepsinya sendiri," tutur Arman dengan terkekeh mengingat bertapa konyolnya Vano saat itu.


"Oh, iya Mama inget, Mama juga liat tangan Vano di perban, jadi itu gara-gara Vano nonjok kaca toilet?" tanya Sinta juga menginga saat itu.


"Iya Ma, Arman bawa ke apartemen eh malah minum dia, terus Arman mandiin," Arman tidak sanggup menahan tawanya hingga membuat perutnya sakit.


"Kurang ajar lu," Vano melempar Arman dengan remot televisi yang ada di dekatnya, karena sudah berani membuak aibnya.


"Sayang, nggak usah dengerin Arman, dia itu lagi prustasi gara-gara di tolak Seli," Ziva ikut membela Vano.


"Oh ya," Bilmar mengejek Arman.


"Kasihan deh luuu," goda Vano.


"Kamu buka kartu Zi, kartu kamu waktu dulu aku buka juga ya," kata Arman yang ingin menceritakan kekonyolannya Ziva saat mencari perhatian Vano.


"Kamu punya rahasia yang?" tanya Vano yang ikut penasaran.


"Arman!" wajah Ziva memerah dan ia sungguh merasa malu kalau Arman mengatakan ia pernah meminta Arman menolongnya saat menggoda Vano.


"Apa," Arman terkekeh melihat ketakutan Ziva.


"Kalau kamu berani, aku buka semua tetang kamu sama Seli pas malam-malam kamu ngancam dia," Ziva tau semua tentang Arman yang mengancam Seli, karena Seli selalu menceritakan apapun padanya termasuk masalahnya dengan Arman.


"Kamu ngancam Seli?" tanya Sinta mulai penasaran.


"Enggak Vano, enggak Arman sama-sama maksa buat dapetin cewek. Kamu juga harys gunain cara mereka Bil, dari pada kamu nggak laku-laku," kata Ratih yang melihat ketia pria itu dengan aneh tidak ada satupun yang jelas masalah wanita.


"Mami apa sih, Bilmar nanti nikah baik-baik. Abis nikah baru punya anak," jawab Bilmar dengan bangga.


"Semoga ya Bil," jawab Ratih.


"Kok semoga Mi?" tanya Vano.


"Mami bosen, Bilmar janji terus kasih mami mantu sampek sekarang nggak ada," Ratih bersedih melihat nasip putra sematawayangnya yang tak laku-laku.


"Mi gimana kalau kita adain sayembara aja," ujar Vano merasa memiliki ide.


"Mami setuju," Ratih samgat antusias dalam hal jodoh untuk Bilmar.


"Nanti Arman pasang sepanduk besar di lampu merah dengan tulisan , Bilmar Rianda cari jodoh," Arman tertawa terbahak-bahak melihat wajah Bilmar yang semkin memerah.


"Puas lu," jengkel Bilmar.


"Mami setuju," Ratih memberikan jempol untuk ide Arman.


"Mama juga," jawab Sinta lagi.


"Apa lagi saya," Vano juga ikut memberi jempol.


"Kamu setuju Ziva?" tanya Bilmar pada kakak iparnya yang hanya diam saja.


"Enggak," Ziva mengeleng.


"Ini baru betul," Bilmar bangga karena ada Ziva yang berpihak padanya.


"Kenapa kamu ngak setuju nak,? tanya Ratih.


"Ziva mau jodohin Bilmar sama mbok Iyem," jawab Ziva yang sukses membuat semua yang asa di ruang tamu itu tertawa terbahak-bahak.


"Ziva kamu bener banget, ide kamu ternyata lebih gila dari ide aku," jawab Arman.


"Iya Mami setuju aja," seloroh Sinta yang berhasil membuat Bilmar semakin kesal.