Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 113


"Mama ayo," Hardy memapah sang istri.


"Pah, kita jangan pulang kerumah dulu ya, kita di sini saja Mama nggak mau jauh-jauh dari Zie," mata Sinta berkaca-kaca meminta agar Hardy mengabulkan keinginannya.


"Iya sayang," Hardy mengangkat tubuh Sinta, walau pun usia tidak lagi muda tapi tenaga Hardy masih kuat kalau hanya mengangkat tubuh istri tercinta.


Sinta dan Hardy memang memiliki kamar sendiri di rumah Vano, sebab Sinta sangat sering menginap di sana dan sejak saat rumah itu di renovasi, Vano membuatkan kamar untuk Mamahnya di bawah. Karena Vano tahu Sinta tidak suka naik turun tangga, atau pun menggunakan lift.


"Pah, nggak usah di angkat," kata Sinta.


"Nggak papa kamu masih gemetaran," Hardy tidak sanggup melihat tubuh acak-acakan Sinta yang kini justru ketakutan bahkan rasanya untuk berdiri saja Sinta berusaha sekuat tenaga.


Sinta diam dan memeluk leher Hardy, rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan di gendong sang suami karena usia yang tidak lagi muda.


"Mamah mandi ya," Hardy memasukan Sinta kedalam bathtub setelah melepas semua pakaian istrinya.


Sinta hanya diam saja, Hardy dengan telaten memadikan sang istri, air matanya menetes melihat lebam yang membekas di bagian tubuh istrinya, selama hidup bertahun dengannya tidak sekali pun ia pernah membentak Sinta atau pun berlaku kasar pada sang istri. Namun ia tak pernah membayangkan ada orang yang malah tega melakukan itu pada istrinya, orang asing yang sama sekali tak ia kenali.


"Au," Sinta meringis merasa sakit.


"Bentar ya Mah, biar segar," kata Hardy yang mulai menyabuni tubuh sang istri.


"Iya Pah, perih," kata Sinta.


"Iya sayang sabar ya, udah mau selesai," kata Hardy yang mulai membilas tubuh Sinta, "Berdiri, biar Papah pakaikan handuknya," pinta Hardy.


Dengan pelan dan sedikit menggigil, Sinta berdiri. Dengan cepat Hardy memakaikan handuk di tubuh Sinta.


"Pah nggah usah di gendong," kata Sinta.


"Nnggak papa Mamah," Kata Hardy.


Hardy membaringkan tubuh Sita, lalu ia mengambil piama milik Sinta di lemari.


"Duduk."


Hardy memakai pakaian untuk Sinta dengan pelan, setelah itu ia dengan cepat membersihkan dirinya karena ia juga harus mandi sebab tubuhnya juga sangat bau kringat. Tidak butuh waktu lama Hardy kini selesai mandi dan sudah berpakaian bersih.


"Mamah tunggu di sini Papa ambil makanan dulu ya," kata Hardy.


"Iya Pah."


Hardy kedapur dan meminta pembantu menghangatkan makanan, setelah itu ia membawa napan berisi nasi lengkap dengan lauk dan air minum kekamar.


"Ma ayo makan," kata Hardy ia juga ikut naik ke atas ranjang.


"Pah kok cuman satu piring, buat Papah mana?" Sinta tau Hardy juga pasti belum makan.


"Kita makan sama-sama," jawab Hardy mengelus pipi Sinta.


Sinta mengangguk, "Iya Pah," jawab Sinta.


"Buka mulutnya," Hardy mulai menyuapi Sinta.


"Ish, Papah lupa ya biasanya Papah bilang," Sinta memperaktekan khas suara Hardy yang berat dan tertahan, "Mah baca bismilah dulu," kata Sinta.


"Hehehe," Hardy terkekeh paling tidak istrinya kini lebih tenang, "Papah lupa Mah, tapi yang nggak pernah bisa Papah lupain Mamah yang selalu ada di hati Papah," kata Hardy tersenyum pada Sinta.


"Ish, Papah gombal," Sinta malah mendadak malu, di usia yang tidak lagi muda tapi Hardy masih saja seromantis dulu.


"Makan ya sayang," kata Hardy.


"Baca doanya?" tutur Sinta.


"Bismillahirrahmanirrahim." Keduanya sama-sama membaca doa.


"Buka mulut," Hardy menyuapi Sinta, lalu menyuapi dirinya sendiri, berulang kali begitu hingga selesai.


"Alhamdulli....." kata Hardy.


"Lah," di sambung Sinta.


Hardy meletakan piring kotor di atas nakas lalu ikut naik keranjang, ia membaringkan tubuhnya dan menarik tubuh Sinta ke pelukannnya.


"Maaf pin Papah ya Mah," Hardy menyisir rambut Sinta dengan jari-jari.


"Kok minta maaf, memangnya Papah salah apa?"


"Papah nggak salah tapi Papah gagal menjaga Mama seperti janji Papah dulu sebelum kita menikah," tutur Hardy.


Flashback on.


Sinta dan Hardy dulu kuliah di kampus yang sama, Hardy adalah kakak senior Sinta tapi mereka terus saja bertemu dengan cara-cara yang tak terduga. Hingga akhirnya tanpa sadar setelah seringnya pertemuan yang hanya berakhir pada perkelahian, tanpa sadar tenyata kedua saling membutuhkan dan ketergantungan.


Kantin kampus.


"Sinta nikah yuk," tutur Hardy di hadapan banyak teman Sinta yang sedang duduk di kursi kantin kampus.


"Kamu mau kasih aku makan apa kuliah dulu," ketus Sinta karena ia tahu Hardy dari keluarga berada dan Sinta ingin punya suami yang berdiri di atas jerih payah nya sendiri walau pun hidup seadanya.


"Kalau kamu nggak mau nikah sama aku, aku nikah sama Rina," ancam Hardy, Rina adalah orang yang sangat tergila-gila pada Hardy yang suka cari perhatian.


"Eh, jangan!" kata Sinta dengan reflek.


"Cie Sintaaaaa," teriak teman-teman Sinta yang berada di sana menyaksikan Hardy yang melamarnya.


"Jadi mau nggak?" tanya Hardy lagi.


"Kan kita nggak pacaran," kata Sinta keduanya memang hanya berteman dan tidak ada status pacaran.


"Pacaran setelah menikah," kata Hardy menatap wajah Sinta yang terlihat malu-malu.


"Tapi..."


"Aku janji akan selalu jaga kamu, aku nggak akan membiarkan sesuatu buruk pada mu. Aku akan selalu memberi yang terbaik untuk mu dan memberi cinta ku hanya untuk mu, asal kau mau menjadi kekasih halal ku, menjadi ibu dari anak-anaku kelak, aku mencintai mu. Will you marry me," Hardy berlutut di bawah kaki Sinta dengan cincin yang ia beli dengan hasil kerja kerasnya sendiri, cincin yang harganya tak seberapa tapi terasa berharga saat yang memberikannya orang yang sangat berharga.


"Iya," jawab Sinta mengangguk bahagia.


"Makasih," Hardy memasangkan cincin di jari Sinta tanpa memeluk Sinta sebab Hardy tidak mau menyentuh Sinta sebelum ada kata Sah dari mulut para saksi yang hadir di pernikahan mereka.


Flashback of


"Papah jangan sedih," Sinta menghibur Hardy yang merasa bersalah, "Pah ini dulu cincin yang Papah kerja jadi kuli bangunan kan buat bisa beli ini," Sinta menunjuk jari manis yang masih melingkar cincin yang di berikan Hardy saat melamarnya dulu.


"Iya demi Mamah maunya di kasih apa-apa dari hasil keringat Papa sendiri, dan dulu cuman bisanya kerja bangunan," jawab Hardy ia semula pernah memberi hadiah pada Sinta saat masih berteman tapi Sinta menolak saat tau hadiah itu ia beli dari uang orang tuanya, akhirnya Hardy menjadi kuli bangunan demi membeli cincin dan ia langsung melamar Sinta di hadapan banyak orang.


"Sekali lagi maaf ya Mah."


"Papah nggak salah, memang ini musibah," jawab Sinta.


"Iya sayang tidur yuk," kata Hardy mencium kening Sinta.


"Iya Pah," Sinta tersenyum ia juga memeluk Hardy.