
Kehamilan Seli kini sudah memasuki bulan ketiga, dan kini Seli tak mau lagi tinggal di rumah ia selalu ikut kemana pun Arman pergi. Tak perduli luar kota mau pun luar negeri ia tetap saja ikut karena takut suaminya di ambil orang. Dan begitu juga dengan pagi ini Seli mengikuti Arman ke kantor.
"Selamat pagi?" kata seorang wanita bernama Nina Asisten baru Arman.
"Em," Arman menatap penampilan sekretaris barunya itu sangat sexy, Seli yang duduk di sofa menatap tajam Arman karena memperhatikan wanita anggun berambut panjang yang berdiri di depan meja kerja Arman.
"Mata," Seli kesal sendiri melihat Arman sampai melongo melihat wanita sexy yang kini di hadapannya.
"Ehem......." Arman menetralkan dirinya sesaat mendengar suara Seli menyadarkannya.
"Tuan, saya Asisten baru yang di pilih oleh tuan Tomi," jelas wanita itu.
"Iya....." Arman tersenyum bahkan tak dapat menutupi senyumannya, sesekali matanya melihat data Asisten barunya yang ada di meja kerjanya, "Nama kamu Nina?" tanya Arman.
"Iya tuan," jawab Nina tersenyum bahagia karena Arman sangat ramah padanya.
"Kak Arman," Seli bangun dari duduknya dengan kesal karena melihat Arman sepertinya tertarik pada wanita itu.
"Iya, diam dulu di sana," Arman tak mengijinkan Seli mendekatinya sebab ia sangat tak bisa berpaling dari wanita yang kini ada di hadapannya. Dan itu sangat membuat Seli kesal.
"Apa saya di terima tuan?" tanya Nina dengan senyum bahagia.
"O.....tentu saja, kamu sepertinya cukup cerdas dan saya suka," jawab Arman yang membuat Seli semakun menggebu-gebu.
"Kak Arman......"
"Em," ketus Arman.
"Baik tuan terima kasih, kapan saja mulai bekerja?" tanya Nina dengan antusias.
"Hari ini.....dan nanti Tomi akan menunjukan di mana ruangan mu ya....." kata Arman.
"Saya permisi tuan," pamit Nina.
"Em......." Arman menatap Nina sampai menghilang di balik pintu.
"Kak, Arman......." Seli benar-benar kesal karena Arman sudah bermain mata dengan Asisten barunya itu, dengan cepat Seli bangun dari duduknya dan mendekati Arman tanpa ada basa-basi Seli menjewer telinga Arman.
"Sayang sakit....." Arman menggosok telinganya karena merasa kesakitan.
"Kakak, ngapain liat itu cewek sampek segitunya!" tanya Seli kesal sambil berkacak pinggang.
Arman diam dan mengangkat sebelah alis matanya sambil menatap Seli penuh tanya.
"Kenapa memanggnya?" tanya Arman sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, dan menatap sang istri dengan intens.
"Kenapa?" Seli semakin berapi-api saat Arman mengutarakan pertanyaannya.
"Kamu nggak jelas banget sih," Arman mengibaskan tangan dan tak perduli dengan Seli.
"Hiks......hiks....." Seli malah menangis karena Arman tak perduli padanya.
"Kenapa jadi nangis?" tanya Arman tanpa melihat Seli seolah ia tak perduli.
"Kakak, udah nggak sayang sama Seli!" ketus Seli yang masih berdiri di samping Aman.
"Kok gitu?" tanya Arman yang lagi-lagi dengan cueknya.
"Ish," Seli meremas tangannya karena semakin kesal, "Cewek tadi cantik ya Kak?" tanya Selj, karena sebelum wanita itu masuk Arman masib sangat bersikap romantis tapi setelah wanita ini ada Arman malah cuek padanya.
"Cantik, malahan sexy banget," Arman tersenyum membayangkan bertapa sexynya Asisten nya barusan.
"Kak, Arman!" teriak Seli semakin geram.
"Apa lagi kalau dia goyang, pasti bakalan tambah sexy. Kakak udah lama banget puasanya mana ini mau menyambut bulan puasa lagi," Arman menutup mata seolah kini ia membayangkan sesuatu hal yang jorok.
"Kakak, lagi bayangin cewek tadi?" tanya Seli.
"Ayo," Seli menarik tangan Arman, keruang istirahat yang biasa di gunakan Arman saat tidur siang.
"Ngapain ke sini?" tanya Arman kesal.
"Buka," Seli membuka jas dan kemeja yang di pakai Arman.
"Tapi kamu belum boleh kan?" tanya Arman berpura-pura bodoh pafahal sedari tadi ia sedang memancing Seli, puasa cukup lama membuatnya harus memutar otak agar mendapatkan haknya sebagai seorang suami.
"Boleh.....pelan-pelan tapi," kata Seli sambil membuka pakaiannya, Arman hanya bisa melongo melihat istri dengan tubuh polos.
"Tapi Kakak lagi males," Arman masih berusaha menguasai diri, namun kali ini Seli memaksa hingga akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Setelah selesai dengan kegiatan panas di siang hari ini, Arman tersenyum bahagia tenyata sedikit membohongi Seli sangat membuahkan hasil, bahkan tadi saat mandi bersama di kamar mandi pun Seli tak menolak sedikit pun. Hingga kini Arman sudah kembLi dengan setelan kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya dengan Seli duduk di pangkuan Arman.
"Kakak jahat tadi masa liatin Asistennya begitu," Seli kembali membahas perihal Asisten karena ia ingin Asisten itu di pecat agar tak menjadi perusak rumah tanggannya.
"Kenapa," tanya Arman berpura-pura seolah yltak terjadi apa-apa.
"Kakak, liatin Nina segitunya terus, apa hangan-jangan Kakak suka sama dia!" kesal Seli tak dapat lagi ia tahan.
"Sabar dulu dong," Arman berusaha menenangkan Seli.
"Apanya yang sabar! Istri lagi bunting tapi Kakak malah liat-liat cewek lain, Kakak tau nggak Seli bunting karena siapa?" tanya Seli yang kini sudah turun dari pangkuan Arman.
"Karena siapa?" tanya Arman dengan santai.
PLAK.
Seli mengetuk wajah Arman dengan lembaran kertas yang ada di meja Arman.
"Masih tanya lagi, ini," Seli menunjuk perut buncitnya, "Ini karena si otong Kakak," Seli melepar ponsel pada otong dan Arman replek beediri karena kesakitan.
"Sayang kamu apasih.....sakit tau," tangan Arman mengusap otongnya karena sedikit sakit.
"Mampus, sekalian Seli potong, mau Seli awetin, terus Seli taruh buat gantungan kunci!" ketus Seli hingga membuat Arman bergidik.
"Sayang tenang ya, bayanginnya aja Kakak udah ngerasa ngilu apa lagi beneran," tutur Aeman sambil menarin Seli duduk kembali di pangkuannya.
"Makannya, jangan macam-macam," kesal Seli yang kini duduk di pangkuan Arman.
"Kamu tadi cemburu gara-gara Nina kan, nih..." Arman memberikan data Nina pada Seli.
Seli penasaran dan membacaya, kemusian ia memutar leher agar melihat Arman yang kini menertawainya.
"Kak, namanya Suparjo tapi kok nama panggilannya Nina?" tanya Seli dengan bingung.
"Makanya Kakak perhatiin dari tadi penampilannya, karena Kakak juga bingung," kata Arman sambil tertawa.
"Berati Kakak tau, Suparjo atau Nina ini cowok?" tanya Seli.
"Iya."
"Berarti dari tadi Kakak ngerjain Seli?" tanya Seoi kesal.
"Kadang-kadang Kakak harus putar otak kan yang biar dapat jatah," tutur Arman dengan senyum bangga.
"Jadi......" Seli kesal dengan Arman yang ternyata mengerjainya habis-habisan.
"Ngoyangan kamu tadi gila.....hot banget yang," Arman tersenyum penuh ke menangan, sedangkan Seli ingin menangis mengingat bertapa bodohnya ia memaksa Arman untuk itu barusan, dan bergoyang sesuai keinginan Arman.
"Kak, Arman......." teriak Seli.
"Ahahahahahaaa........" Arman tertawa lepas, karena hari ini ia mendapatkan keinginannya tanpa bekerja, karena Seli lebih bersemangat sesuai keinginannya.