
"Seli," Lastri merentangkan tubuh Seli yang tidur miring, tangan Lastri bergetar melihat kondisi sang anak tak sadarkan diri bahkan mulutnya mengeluarkan busa.
"Seli......" Lastri berteriak kencang dengan menepuk wajah sang putri agar cepat tersadar.
Arman juga shock dengan cepat ia mendekati Seli, dengan cepat Arman mengangkat tubuh Seli untuk di bawa ke rumah sakit hingga saat Arman masih akan keluar Vano datang bersama Ziva. Arman merasa sedikit lega sebab Vano membawa mobil sedangkan ia datang hanya dengan motor.
"Seli kenapa?" Tanya Ziva tak kalah shock.
"Vano kita ke rumah sakit," Teriak Arman yang di angguki Vano.
***
Rumah sakit.
Seli sedang di tangani oleh beberapa dokter termasuk Veli juga ikut menangani Seli, over dosis akibat obat tidur yang ia konsumsi, di tambah lagi obat itu sudah hitungan jam masuk ke tubuh Seli. Bukan hanya nyawa janinnya yang terancam tapi nyawa sang ibu pun demi kian, tidak ada yang bisa di lakuan keluarga yang menunggu di luar ruangan selain berdoa dan memasrahkan semuanya yang terjadi pada sang Ilahi.
Satu jam sudah dokter menangani Seli, selama satu jam itu pula tidak ada satu dokter pun yang keluar memberi kabar. Seli yang awalnya hanya ingin tidur dan melupakan apa yang tadi ia lihat, dengan tanpa niat menghabisi nyawanya dan bayi yang masih di dalam kandungan malah di buat benar-benar tidur dan tak terbangun lagi.
Akhirnya dua jam berlalu dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang sedih dan tidak bersemangat, jangan tanyakan siapa yang paling terluka saat ini sudah jelas yang paling terluka adalah Lastri sang Bunda yang tak pernah menyangka anaknya akan mengalami hal demi kian. Tapi jangan katakan Arman tak terluka juga di dalam sana ada dua nyawa yang berharga dalam hidupnya, berpisah cerai dengan Seli saja ia sudah seperti orang gila apa lagi kalau Seli pergi menghadap sang Ilahi dengan membawa anaknya, bisa saja Arman juga lebih memilih menyusul ikut dengan Seli dan anaknya.
"Bagaimana dok?" Tanya Lastri.
"Pasien koma," Jawab dokter yang ber tag Darmawan tersebut.
"Bagaimana dengan kandungannya dok?" Tanya Arman.
"Kandungannya sangat lemah tuan, di tambah usianya juga masih dua bulan," Dokter Darmawan pun tampaknya bersedih menjelaskan keadaan Seli.
"Saya mau lihat boleh kan Dok?" Tanya Lastri.
"Silahkan ibu, tapi sebaiknya yang masuk hanya satu orang saja, kalau yang lain mau ikut masuk boleh bergantian," Kata Dokter Darmawan berpamitan.
"Seli," Lastri mengelus kepala sang anak Lastri berusaha kuat, dengan sesegukan yang masih keluar dari bibir tuanya, "Kamu harus kuat Nak, bukankah kamu sekarang sudah berubah menjadi wanita yang kuat," Lastri menggengam tanga Seli dan mengecupnya.
Arman yang masih duduk di luar hanya bisa menunduk dengan tubuh bergetar, Vano ikut duduk di samping Arman. Vano baru pertama kali melihat Arman seperti ini bahkan Arman seperti preman dengan wajah sangar, tak ada kecerahan sedikit pun di wajah Arman.
"Lu harus luat, kalau lu juga terpuruk Seli nggak akan bisa kuat," Vano menepuk-nepuk punggung Arman.
Arman mengangguk, setelah Lastri keluar kini giliran Arman yang masuk. Arman tidak tau entah kini ia masih berstatus suami atau mantan suami, yang jelas di hati Arman belum ada kata mantan cintanya yang ada hanya wanita yang masih terus di cintainya.
"Seli..." Arman memeluk Seli dengan perasaan rapuh, separuh nyawanya kini terasa hilang. Otak nya yang kejam kini malah bermuram durja. Tak ada kata yang bisa di katakan Arman, sebab Arman pun belum tau alasan yang membuat Seli seperti sekarang. Yang Arman tau hanya kini Seli yang koma karena over dosis.
"Seli bangun Kakak mohon," Pinta Arman di selangi sesegukan, "Seli kalau Kakak salah tolong maaf kan Kakak, tapi jangan seperti ini. Atau kalau kamu mau nya Kakak tidak mengganggu mu lagi semua akan Kakak lakukan, Kakak sudah pergi agar kamu bahagia dengan pilihan hidup mu tapi kenapa kau malah seperti ini," Arman tak mengerti lagi harus bagaimana, melepas atau mempertahankan rumah tangganya ia pun tak mengerti lagi harus seperti apa.
Arman pergi dengan harapan bisa membuat Seli lega dan bahagia, bukan malah membuat Seli terluka dan membawa janin yang tak berdosa di dalam masalah mereka. Bertapa malang nasip janin itu yang harus ikut terbawa dalam masalah orang tuanya, bahkan sebelum ia lahir dunianya sudah terasa sangat kejam.
"Seli hiks, hiks," Ziva sudah tak sabar menunggu Arman keluar ia menerobos masuk begitu saja, tak ada yang berani melarang nyonya Zavano itu masuk termasuk dokter yang melihat sekali pun.
"Seli kamu kenapa begini?" Ziva takut sangat takut sekali jika Seli pergi meninggalkannya, "Seli kamu harus sadar kalau kamu pergi aku gimana, kita sahabatan loh Sel, kita saling ada di saat salah satu dari kita saling membutuhkan. Kalau kamu pergi aku nggak tau lagi kalau aku butuh teman aku harus berteman ama sapa, bangun Sel, cuman kamu yang tulus bersahat sama aku," Teriak Ziva.
Dengan cepat Vano memeluk sang istri dan berusaha membawa Ziva keluar dari ruangan itu. Tapi Ziva menolak ia masih ingin membuat Seli segera terbangun dari tidur yang tak tak tau entah sampai kapan.
"Kamu jahat Arman, ini semua gara-gara kamu!" Teriak Ziva yang malah emosi pada Arman, Ziva kesal sekali melihat wajah pria itu bahkan ia kini sangat membenci Arman.
"Udah sayang ya, kasihan Selinya," Vano memeluk Ziva yang masih histeris.
"Gw nyesel bantu lu buat dekat sama sahabat gw, lu tu lelaki brengsek tau nggak! Kalau Seli meninggal ini semua gara-gara lu dan lu adalah penyebab kematian Seli, dan jangan pernah lagi muncul di hadapan gw, ngerti lu brengsek!" Ziva keluar dengan perasaan kesal rasanya ia ingin mencekik Arman saat itu juga.
Lalu bagaimana kah dengan Seli, akan kahbia tetap hidup bersama bayi nya atau mungkin Seli akan pergi menghadap sang Ilahi membawa buah cinta nya dengan Arman.