Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 80


Malam harinya.


Tap tap tap!.


Vano melangkah masuk ia baru saja sampai di rumah dan jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Ia langsung berjalan menuju kamarnya dan Ziva, karena ia sangat merindukan istri kecilnya dan juga ia ingin tau bagaimana dengan keadaan Ziva. Karena tadi pagi Ziva sempat tidak sadarkan diri.


Clek!.


Vano membuka pintu kamarnya bersama Ziva. Vano melihat di sana ada Sinta juga, yang sudah siap dengan piama tidurnya. Bahkan Sinta sudah berbaring di samping Ziva, Vano terus melangkah mendekati Ziva.


"Sayang kamu sudah lebih baik?" tanya Vano karena Vano melihat tanggan Ziva sudah tidak terpasang selang infus.


"Iya Mas" jawab Ziva yang sudah mendudukan tubuhnya.


"Mas ganti baju sebentar" kata Vano.


"Iya"


"Ziva ingat kamu tidak boleh melayani suami kamu itu!" kata Sinta yang berbaring di samping Ziva.


Setelah beberapa menit Vano sudah berganti pakaian dan tubuhnya terlihat lebih segar dari sebelumnya. Kini Vano sudah berdiri di sisi ranjang.


"Mas sudah makan?" tanya Ziva.


"Belum Yang" jawab Vano.


"Ya udah. Ayo Ziva temani" kata Ziva dan ia berniat ingin bangun.


"Ziva kamu istirahat saja" kata Sinta menahan tubuh Ziva agar tidak turun dari ranjang. Ziva diam dan mengikuti kemauan Sinta karena Sinta melebarkan matanya memberi kode pada Ziva. Seolah ia mengatakan tidak usah berdekatan dulu dengan Vano.


"Tapi Vano lapar Ma" kata Vano.


"Makan sama mbok Yem kan bisa" kata Sinta.


"Tapi Ma" kata Vano.


"Keluar kami mau istirahat" kata Sinta sambil turun dari ranjang dan ia menarik tubuh Vano untuk keluar dari kamar itu.


"Tapi Ma?" kata Vano berusaha bertahan di kamar itu.


Plak!.


Sinta menutup pintu dan menguncinya.


Vano keluar dan mendudukan dirinya di sofa di depan kamar. Vano membaringkan tubuhnya dan merasa kesal pada Sinta, Setelah beberapa jam Vano mencoba tidur namun ia tetap tidak bisa. Vano merasa matanya tidak mau terlelap padahal malam semakin larut. Vano membuka laptop nya yang terletak di meja dan mulai melanjutkan beberapa pekerjaannya yang belum selesai.


Saat Vano sedang berfokus pada pekerjaannya. Ziva juga terbangun dari tidur nya dan ia mulai menangis tanpa suara karena takut Sinta yang sedang terlelap di sampingnya terbangun. Namun ternyata Sinta tetap saja terbangun dan ia mulai mendudukan dirinya, untuk melihat dan memastikan apakah Ziva yang menagis.


"Ziva kamu kenapa?" tanya Sinta.


Ziva baru mulai menyadari ternyata Sinta sudah terbangun. Ia juga mulai mendudukan dirinya di samping Sinta.


"Kamu kenapa Nak?" tanya Sinta lagi.


"Ma Ziva maunya Mas Vano" jawab Ziva dengan sesegukan.


Huufp!.


Sinta membuang napasnya dengan kasar.


"Keduanya sudah sangat sulit di pisahkan dan juga mereka sudah sangat saling membutuhkan"


"Kamu mau Vano?" tanya Sinta sambil memeluk Ziva.


"Iya Ma" jawab Ziva.


"Ya sudah sebentar. Mama panggil dulu ya" kata Sinta.


"Mama nggak marah kan?" tanya Ziva karena ia takut Sinta tersinggung.


"Makasih Ma" jawab Ziva dan ia langsung memeluk Sinta.


"Iya" jawab Sinta sambil mengelus punggung Ziva. Lalu Sinta melepas pelukannya.


"Kamu tunggu di sini Mama pangilin Vano dulu" kata Sinta.


Sinta keluar dari kamar dan ia melihat Vano sedang duduk sambil memangku laptop nya. Ia terlihat sangat fokus pada laptopnya, hingga ia tidak menyadari keberadaan Sinta di sampingnya.


"Vano!" kata Sinta dengan cuek.


Vano yang sedang fokus pada leptop nya mulai melihat kesamping. Dan ia melihat Sinta sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya.


"Apa Ma?" tanya Vano.


"Sebenarnya Mama malas ke sini. Tapi karena Ziva yang minta makanya Mama terpaksa nemuin kamu" ketus Sinta dengan wajah sinisnya.


"Ziva Ma" tanya Vano.


Vano yang mendengar nama Ziva di sebut mulai meletakan laptop nya di meja. Dan ia dengan cepat berdiri dan hendak melangkah ke kamar, karena ia takut terjadi hal buruk pada Ziva. Namun tidak semudah itu Sinta menghentikan langkah Vano, ia dengan cepat berdiri di hadapan Vano sambil merentangkan kedua tangannya pertanda ia belum mengizinkan Vano menemui Ziva.


"Mama" kata Vano dengan jengkel, karena lagi lagi Sinta membuatnya tidak mudah menemui Ziva.


"Kamu mau ketemu Ziva?" tanya Sinta mulai bertolak pinggang di hadapan Vano.


"Iya Ma" jawab Vano dengan cepat.


"Kalau begitu kamu harus berjanji dulu sama Mama!" kata Sinta menegaskan pada Vano.


"Janji apa Ma?"


"Kalau kamu berani berbuat seperti yang sudah sudah ini. Mama jamin Ziva akan Mama sembunyikan dari kamu, dan Mama pastikan kamu tidak akan melihat anak kamu sampai di besar. Kamu tau kan Mama ini nyonya Hardy Zavano? jadi jangan remehkan ancaman Mama. Karena Mama akan meminta bantuan pada Papa untuk menyembunyikan Ziva dari kamu!" kata Sinta dengan tegas ia berharap kali ini Vano benar benar tidak lagi mengulangi kesalahannya.


Sementara Vano mulai menelan salivanya dengan susah payah. Karena ia tau kalau Papa nya juga ikut membatu keinginan Mamanya, sudah pasti ia kalah. Hardy adalah salah satu mafia dan Vano tau Hardy sekejam apa, dan kali ini ia benar benar merasa takut dengan ancaman Sinta mengenai Ziva.


"Iya Ma Vano janji" jawab Vano.


"Bagus!"


"Vano masuk dulu ya Ma" kata Vano dengan lembut berharap Sinta tidak lagi menghalanginya.


"Iya sana!" bentak Sinta.


Vano mulai berjalan masuk kedalam kamar dan ia hanya tinggal sendiri. Sinta mulai memasuki kamar tamu karena Hardy sedang tidur di sana.


"Sayang" kata Vano.


Ia mulai menaiki ranjang dan melihat mata Ziva yang bengkak, juga di pipinya terlihat masih ada jejak air mata. Vano tersenyum dan ia menghapus jejak air mata itu dan memeluk Ziva sesekali ia mencium pucuk kepala Ziva.


"Mas" kata Ziva dengan suara pelan namun masih bisa di dengar Vano.


"Ya sayang" jawab Vano sambil terus memeluk tubuh Ziva dengan mesra.


"Mas Ziva kangen" kata Ziva dengan manja.


"Mas juga kangen. Tapi dari tadi ada bidadari tuan Hardy yang cerewet itu" kata Vano.


Ziva menjauh dari Vano dan ia menatap wajah suami nya. Ia merasa aneh dengan ucapan Vano, dengan cepat Ziva mencubit perut Vano.


"Sakit yang" kata Vano sambil mengelus bekas cubitan Ziva berpura pura seolah cubitan itu sangat sakit.


"Makanya jangan ngomong gitu" kata Ziva dengan bangganya karena sudah membuat Vano kesakitan.


"Yang" kata Vano menaik turun kan kadua alis matanya.


"Nggak!" jawab Ziva karena Ziva mengerti dengan apa yang di maksud Vano.