Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON ll ■ Bab 102


Halo kakak-kakak semua ada yang rindu Ziva dan Vano nggak, kalau ada maka kini pasangan yang tengah berbahagia itu kembali lagi ya. Kisahnya saya selingi dengan kisah Arman, saya nggak bisa buat judul baru buat mereka saya takut enggak bisa up setiap hari dan saya nggak mau PHP sama readers setia, jadi di sini saja mohon di maklumi, saya hanya punya dua tangan dan karya saya yang ongoin masih banyak😗


"**Indahnya Jatuh Cinta"


"Dokter Cantik Milik Ceo"


"Istri Simpanan Presdi**"


Saya mau selesaikan dulu karya saya ini, setelah ini baru saya realise judul baru yang mungkin belum pernah ada. Ingat karya saya tidak pernah sama dengan Novel2 tetangga ya, silahkan bandingkan.


***


Selamat Menikmati hiburan anda.


Usia baby Zie kini sudah 12 bulan, bayi lucu itu kini sudah bisa tertawan dan pandai bercanda. Perkembangan baby Zie memang terbilang sangat baik bahkan di usianya yang 12 bulan ia sudah bisa memanggil Oma, ada yang mau tau kenapa Zie memanggil Oma dari pada Ayah ataupun Bunda, itu karena Zie selalu di bawah asuhan sang Oma.


"Omaaa," teriak Zie saat melihat Sinta baru saja datang.


"Cucu Oma," Sinta langsung bergegas mengendong sang cucu yang berada dalam gendongan Vano.


"Ommamaa," bocah itu menciumi Omanya dan memeluk leher sang Oma karena sudah dua hari Sinta merawat Ibunya yang sedang jatuh sakit.


"Sayang, cucu Oma, Oma kangen," Sinta terus menciumi wajah sang cucu dengan sangat kencang.


"Ommaama," lagi-lagi Zie berbicara seolah ia tengah melepas rasa rindu pada sang Oma.


"Ayah sayang," ucap Vano, jujur saja Vano merasa sedikit iri karena Zie hanya memanggil Sinta saja.


"Ommama," jawab Zie di hadapan sang Ayah.


"Ayah," lagi-lagi Vano mencoba mengajari Zie cara memanggilnya.


"Ommaa," bocah itu tampaknya terlalu menyayanging Sinta hingga di mulutnya hanya ada Oma dan Oma.


"Zie mau eskrim?" tanya Vano sambil memegang eskrim di tangannya.


"AUu," jawab Zie dengan menagguk-anggukan kepalanya, tangannya mencoba mengambil eskrin di tangan Vano.


"Panggil Ayah."


"Ommmaa."


"A-yah," Vano tidak putus asa mengajari sang anak.


"Omaa," Vano putus asa dan memberikan eskrim yang ia pegan dengan terpaksa pada Zie.


Zie menyuapi sang Oma eskrim yang ia pegang dan keduanya memakan eskrim itu. Hingga tandas, Zie turun dari gendongan Oma dan berjalan dengan tertatih pada Vano yang duduk lesehan di karpet bulu.


"Sini sayang," Vano merentangakan tanggannya.


"Au," katau Zie dengan pipi gembulnya.


"Kayaknya Mama ajarin Zie nggak bener deh," seloroh Vano.


"Kok nggak bener?" tanya Sinta merasa kebingungan.


"Ini kecebong Vano loh Ma, tapi kenapa dia lebih sayang Mama dari pada Vano Ayahnya," kesal Vano.


"Kamu ngomong nggak di saring dulu bocah semprol," gerutu Sinta.


Zie terus mendekat Vano, Vano sudah sangat bahagia karena Zie sepertinya mau memeluknya, tapi senyuman Vano hilang, ternyata Zie hanya mengambil biacuit di tangannya.


"Omma," Zie yang berdiri menarik celana sang Oma, mengartikan Omanya untuk jongkok.


"Ya sayang," jawab Sinta dan mulai berjongkok berhadapan dengan Zie.


"Am," Zie menyuapi biskuit yang ia ambil dari tangan Vano pada Sinta.


"Em, enak makasih Zie," jawab Sinta sambil mengacak-acak rambut bocah kesayangannya itu.


"Hihihi," Zie menunjukan rentetan gigi yang belum tumbuh semua.


"Zie kok di ambil," Vano kesal lagi-lagi Zie mengambil biskuitnya dan menyuapi Sinta.


"Omaaa hiks,hiks," Vano mempelototi Zie karena kesal semua makana yang ingin ia maka semua di suapi pada Sinta.


"Vano, kamu sudah seperti anak kecil," Sinta tidak terima kalau ada yang memarahi cucunya.


"Sayang," Ziva datang dan mengendon Zie.


"Hiks,hiks," Zie terus menangis berusaha mengadu pada sang bunda.


Sinta mengambik Zie dari gendongan Ziva dan memeluknya. Zie menagis dengan heboh seolah Vano sudah berbuat sangat kasar padanya.


"Hiks, hiks."


"Sayang cucu Oma jangan nangis, kalau kamu nagis Oma pulang."


Hanya sedimit ancaman yang Sinta keluarkan Zie langsung berhenti menangis dengan seketika.


"Enda," Zie menggeleng.


"Jangan nangis okey."


"Key," jawab Zei.


"Selama Oma pergi ada yang marahin Zie?" tanya Sinta.


"Em," jawab Zie menganggukkan kepalanya.


"Siapa?"


"Aahhh," kata Zie menunjuk Vano.


"Ada di cubit Ayah?"


"Ahh," Zie lagi-lagi mengangguk seolah selama Sinta tidak ada Vano sudah memarahi juga memukulinya.


"Di bagian mana Ayah kamu pukulnya?" tanya Sinta berpura-pura marah pada Vano seolah ia emosi mendengar penuturan sang cucu.


"Cini, cini, cini, cini," Zie menunjuk semua bagian tubuhnya.


"Haa," Vano melongo mendengar penuturan Zie.


Sementara Ziva hanya bisa menahan tawa.


"Mmmffff," Ziva menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Kalau Ayah marahin Zie gimana?" tanya Sinta lagi.


Zie turun dari gendongan Oma, dan mertolak pinggang sebelah tanggannya menunjuk seseorang seolah begitulah Vaano memarahinya.


"Ziziziizziizz," ucap Zie saat ia mempraktekan adegan marah sang Ayah, dengan air liur yang menyembur.


"Wah gila, gue lebih milih perang sama buronan dari pada sama kamu Zie," gerutu Vano.


"Mas, aapasih," kesal Ziva.


"Zie sayang Oma?" tanya Vano.


"Aa," jawab Zie sambil mengangguk.


"Oke, Ayah sama Bunda pergi!" ancam Vano.


"Babay," ucap Zie sambil melambaikan tangannya pada Vano dan Ziva, lalu ia pergi memeluk Sinta keduanya pergi ketaman bermain.


"Yang kita bikin baby lagi yuk, Zie nggak sayang sama Mas." Vano mengangkat tubuh Ziva dan membawanya kemar.


"Mas masih pagi," kesal Ziva.


"Kejar target yang," kata Vano.


"Emang apaan kejar target?"


Kini keduanya duduk di atas ranjang, srperti pengantin baru yang baru saja menikah.


"Yang yuk, kasihani lah Mas yang," Vano memeluk Ziva dengan erat dan terus meminta haknya di pagi hari.


"Mas memangnya mau punya anak berapa?" tanya Ziva yang duduk di pangkuan Vano.


"6 aja yang."


"Mas banyak banget," kesal Ziva saat mendengar keinginan Vano.


Vano ingin memiliki 6 anak dan ia ingin rumahnya ramai, dan ada salah satu dari mereka yang menyayanginya dan betah di rumah. Tidak selalu mengikuti kemana pun Sinta pergi.


TOK TOK TOK.


"Ck," Vano berdecak kesal saat mendengar ketukan pintu, padahal ia sedang meremas gundukan Ziva.


"Mas apasih," Ziva terkekeh melihat wajah kesal Vano.


"Zie masih satu tahun loh yang, tapi suka bikin kesel." Gerutu Vano.


Ziva bangun dan mulai membuka pintu meninggalkan Vano yang masih berbaring dengan rasa kesal.


CLEK.


Pintu terbuka dan terlihat mbok Yem disana.


"Ada apa Mbok?" tanya Ziva.


"Neng di bawah ada seorang wanita tua, katanya dia Neneknya Neng," tutur mbok Yem.


"Nenek?" tanya Ziva memastikan kalau apa yang ia dengar tidak salah. Ziva berbalik melihat pada dengan penuh tanya, setaunya Vano tidak punya Nenek, dan apa munkin itu Neneknya yang dulu sombong itu kini menemuinya.