Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 97


"Oweeeek owekkkk!!" bayi Zie terus menangis sedari tadi Vano bingung harus bagaimana dengan cepat ia memberikan pada Ziva untuk di beri asi.


"Yang kayaknya Zie haus" Vano memberikan Zie pada Ziva.


"Uluh-uluh anak Bunda haus ya" Ziva seolah berbicara pada baby Zie, dan benar saja setelah di beri asi bayi mungil itu diam dan asik menikmati sarapan paginya.


"Selamat pagi" Sinta dan Hardy baru saja datang setelah semalam ia pulang, pagi ini Sinta sangat bersemangat bahkan ia memerintahkan Art untuk cepat bangun membersihkan semua sudut rumah tidak boleh ada yang berdebu karena baby Zie sore ini akan di bawa pulang. Dan Ziva akan di rawat di rumah oleh dokter.


"Pagi Oma" jawab Ziva.


Sinta sudah tidak mau lagi di panggil mama. Mulai kemarin malam sejak kelahiran baby Zie Sinta menegaskan kalau ia harus di panggil Oma. Dan sekarang semuanya sudah memanggil Sinta dengan panggilan Oma.


"Mana cucu Oma" Sinta berjalan mendekati sang cucu dan mencubit gemas pipi baby Zie.


"Mama apa sih anak Vano di cubit" lagi-lagi Vano menggoda sang mama.


"Ck" Sinta tidak perduli dengan ucapan Vano ia lembali memainkan pipi sang baby mungil yang sedang menyusu pada sang bunda.


"Permisi, nyonya Ziva saya ingin membersihkan nyonya" kata seorang perawat yang di tugaskan merawat Ziva.


"Biar saya saja" Vano mengambil alih handuk yang di bawa suster.


"Baik tuan saya permisi, nanti saya kembali lagi" ucap perawat itu.


"Zie sini sama Oma, biar bunda kamu bersih-bersih dulu" Sinta mengambil alih baby Zie dari pangkuan Ziva dan membawanya duduk di sofa bersama Hardy di sana.


"Oppa" seru Sinta saat mulai mendekati sang suami.


"Zie sini sama oppa" Hardy mengangkat baby Zie.


"Papa bangga sekali ma" ucap Hardy pada sang istri.


"Iya dong kan kita udah punya cucu" Sinta tidak tau maksud ucapan sang suami.


"Iya tapi sekarang papa udah jadi oppa-oppa yang keren itu ma!!!" dengan bangganya Hardy mengucapkan gelar oppa pada dirinya.


"Papa bukan oppa-oppa yang keren-keren itu. Tapi opa alias kakek" Sinta terkekeh mendengar ucapan Hardy yang begitu bangga dirinya menjadi oppa-oppa.


"Ck, kita memang sudah tua ma tapikan jiwa kita masih muda" Hardy mulai menggoda sang istri, sambil menggangu sang cucu yang tengah tidur pulas.


Sementara Vano mulai menutup layar yang memisahkan antara mereka dan Sinta. Vano membuka baju yang kenakan Ziva, Vano meneteskan air matanya melihat bekas jahitan di bagian perut Ziva.


"Mas kenapa?" Ziva bingung setelah ia membuka baju Vano hanya diam melihat tubuhnya.


"Maaf" lagi-lagi Vano hanya memeluk Ziva, ia tidak sanggup melihat perut sang istri.


"Maaf?" Ziva bingung kenapa Vano lagi-lagi meminta maaf padanya.


"Mas nggak sanggup yang bayangin kamu oprasi sekarang ada bekas jahitan. Pasti ini sakit sekali ya?"


"Mas jangan sedih terus. Justru Ziva bangga dengan begini Ziva sudah sempurna karena menjadi seorang ibu. Dan Ziva baru tau alasan mengapa surga di bawah telapak kaki ibu, setelah Ziva menjadi seorang ibu. Ternyata proses menjadi seorang ibu itu nggak mudah"


Ziva menitihkan air mata mengingat mendiang sang mama. Yang selalu ada untuknya dan selalu memaafkan dirinya. Padahal ia selalu bandel dan bertingkah semaunya. Andai sekarang mamanya masih di sana, Ziva ingin mencium telapak kaki sang mama dengan sebanyak-banyaknya, sungguh Ziva kini tau seperti apa perjuangan sang ibu.


"Iya" Vano mengecup kening Ziva memberikan ketenangan pada sang istri. Vano melihat tubuh Ziva sudah tidak secantik dulu, namun cinta Vano tidak berkurang sedikit pun. Justru cinta Vano semakin bertambah saat melihat keadaan istrinya sekarang.


"Iya makasih"


"Mas udah dong makasihnya, Ziva udah nggak pakek baju ni takut masuk anggin" Ziva memperlihatkan pada Vano tubuhnya yang tanpa kain penutup.


"Oh ya mas lupa yang" Vano mulai membersihkan tubuh Ziva dengan handuk basah. Walau pun Ziva terus mengalihkan pembicaraan tetap saja Vano merasa bersedih melihat luka jahitan di perut Ziva.


"Pakek baju yang" Vano mulai memakaikan daster yang di antarkan mbok Yem tadi bersama kedatangan Sinta.


"Makasih sayang" Ziva tersenyum saat tubuhnya sudah segar karena Vano yang membantunya membersihkan tubuhnya yang terasa gerah.


"Simpan dulu makasihnya, mas di rumah udah siapi hadiah buat istri mas yang cantik ini" Vano memang sudah mempersiapkan hadiah untuk Ziva, dengan bantuan Arman tentunya. Suatu hadiah yang tidak seberapa menurut Vano jika di bandingkan dengan hadiah yang di berikan Ziva padanya.


"Hadiah mas?" Ziva terlihat bahagia mendengar hadiah dari sang suami.


"Iya dong, buat kekesih halal yang udah ngasih mas baby yang cantik" Vano menarik gemas hidung Ziva.


"Hehehe. Tau begini Ziva mau hamil 20 kali lagi" seloroh Ziva.


"Sayang kamu jangan macam-macam" Vano memang menginginkan anak lagi. Namun ia belum siap melihat Ziva yang menangis kesakitan lagi.


"Kan enak mas, abis ngelahirin dapat hadiah terus" Ziva masih terus menggoda Vano.


"Sayang!" Vano terlihat tidak suka dengan ucapan Ziva.


"Becanda mas" Ziva terharu melihat perhatian Vano yang begitu besar padanya.


"Pagi" sapa Ratih yang baru saja datang.


"Pagi mi" Ratih memeluk dan mencium pipi kanan dan pipi kiri Ziva.


"Selamat ya sayang" Ratih terus memeluk Ziva dengan rasa haru.


"Sama Vano nggak ucapin selamat mi" Vano merasa kesal karena ia hanya di acuhkan oleh Ratih. Padahal ia berharap juga Ratih memberi selamat padanya.


"Siapa anda?" ketus Ratih yang sangat suka menjahili Vano.


"Ahahahaaa. Kesiah deh lo" jawab Arman yang datang bersama Ratih.


"Yang belain mas dong" Vano mencari perlidungan pada Ziva.


"Mas apasih kayak bayi" Ziva terkekeh melihat tingkah suaminya yang sangat manja padanya.


"Mbak Sinta!" Ratih mulai berjalan mendekati Sinta dan Hardy yang sedang sibuk bermain dengan sang cucu.


"Ratih liat cucu aku cantik bangetkan" ucap Sinta dengan bangga pada Ratih.


"Iya mbak. Canti banget" Ratih mulai mengangkat baby Zie dari pangkuan Hardy.


"Hati-hati Ratih, itu kesayangan aku lohh" ucap Sinta sedikit emosi karena takut Ratih menyakiti cucunya padahal itu tida mungkin. Hanya saja sang oma begitu posesiv pada sang cucu kesayangan, bagi Sinta cucunya itu adalah berlian yang harus di jaga dengan harga yang tak terbeli.


"Iya mbak" Ratih tidak mengambil hati tentang ucapan Sinta, keduanya memang begitu bila sedang bersama saling memanas-manasi namun tetap mereka keluarga yang saling menyayangi.