Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 85


Setelah semua berita berhasil di redam oleh Arman dan kini Arman memberikan sebuah Vidio dimana Keyla dan Heri membicarakan penjebakan saat di rumah sakit pada media dan beberapa fhoto perselingkuhan Keyla, berita Vano dan Ziva kini sudah berganti dengan berita Keyla.


"Vano aku mohon jangan biarkan mereka melakukan itu pada ku" teriak Keyla.


"Kenapa?" tanya Vano sambil melipat tangannya.


"Aku mohon aku tidak mau mereka menyentuhku" kata Keyla dengan sesegukan.


"Aku tidak perduli" jawab Vano mulai mendudukan dirinya di kursi.


"Arman gantung si brengsek ini" kata Vano menunjuk Arkan.


"Tidak tuan aku mohon" teriak Arkan.


"Kalian berempat silahkan bawa wanita ini" kata Vano menunjuk Keyla.


"Vano aku mohon jangan" teriak Keyla karena keepat pria bertubuh besar itu mulai mendekati.


"Mereka yang akan menghukum kalian karena aku tidak mau tangan ku ini kotor. Lagi pula aku mengingat istri ku sedang mengandung. Jadi semua aku serahkan pada Arman" kata Vano.


Vano keluar dari ruangan itu dan semua di serahkan pada Arman, Keyla yang berteriak memohon Vano mengampuninya namun Vano tidak perduli sama sekali. Ia ingin melihat kondisi Ziva saat ini.


"Arman tolong aku!!" teriak Keyla karena Vano sudah pergi dan semua kendali ada pada Arman.


Keempat pria itu mulai membawa Keyla dan melepaskan hasrat mereka pada Keyla. Keyla tersungkur dengan tubuh yang tak berdaya sementara Arkan di pukuli sampai kondisinya sangat memperihatinkan dan Heri juga sama merasakan apa yang di rasakan Arkan.


"Arman tolong aku" kata Keyla dengan tubuh polosnya di lantai dan suara lemahnya.


"Ini hukuman untuk mu jadi nikmati" kata Arman.


"Arman aku mohon aku tidak sanggup walaupun hanya berdiri" kata Keyla melas.


"Bukankah kau sudah terbiasa menghadapi pria dewasa lebih dari satu di ranjang?" kata Arman tersenyum sinis.


"Arman uhuk uhuk" Arkan yang mulai memuntahkan cairan merah dari mulutnya.


"Oh tuan Arkan yang terhormat. Sebentar lagi akan ada polisi yang menjemput anda selamat ya" kata Arman duduk berjongkok.


"Aku mohon Arman jangan" ucap Arkan dengan memohon.


Arman melihat ada sepuluh pemgawal melihat tubuh polos Keyla, semuanya terlihat mengingikannya, Arman tersenyum penuh arti.


"Kalau kalian ingin silahkan" kata Arman.


"Serius bos" tanya seorang pengawal.


"Ya" jawab Arman.


"Kita juga mau nyoba modol sexy itu bos" kata yang lainnya lagi.


"Ya bos penasaran, biasanya cuman lihat dimajalah saja tubuh sexy itu"


"Bos kita semua mau"


"Silahkan dan nikmati agar kalian tidak penasaran" ucap Arman santai.


"Tidak!!!" teriak Keyla.


"Ayolah sayang" kata seorang pengawal yang mulai mendekat.


"Arman tolong aku!! aku mohon" teriak Keyla dengan memohon.


"Sudahlah nikmati saja" ucap Arma mulai duduk di kursi menjadi penonton.


"Sayang" kata pengawal yang lain mulai berjongkok.


"Kamu di majalah berpose sangat sexy. Ayo ulangi di hadapan kami" kata pengawal itu.


"Iya aku juga suka menghayal wajah kamu, sambil main solo di kamar mandi"


Satu persaru pria itu mulai mendekati Keyla dan menikmatinya. Keyla hanya bisa menangis dan memohon pada Arman. Namun Arman dan Vano sama saja sama-sama manusia kejam, manusia yang tidak memiliki hati nurani terhadap orang yang berani mengusik hidupnya.


"Arman aku mohon" Keyla menangis dan berteriak.


Setelah dua jam berlalu kesepuluh pria itu sudah selesai. Mereka semua mulai meninggalkan Keya dengan wajah yang sembap, tubuh yang lemah rambut yang seperti ijuk, pandangannya terlihat kosong, seperti orang yang kehilangan akal.


"Pakai kembali pakainnya dan bawa ke rumah sakit jiwa" perintah Arman.


"Siap bos" jawab Pengawal itu.


Pengawal itu mulai melakukan apa yang di perintahkan Arman. Keyla sudah tidak mampu lagi berdiri bahkan hanya untuk berkata satu patah katapun ia tidak mampu lagi, bahkan tubuhnya saja di angkat untuk masuk kedalam mobil.


Kini Keyla sudah berada di rumah sakit jiwa. Ia diam dan hanya menggulung-gulung bajunya.


"Ahahahahaaa Ziva kau kalah"


"Sayang kita menang"


Lalu Keyla kembali diam menunduk, tidak lama kemudian ia kembali berkata.


"Aku model" kata Keyla berdiri sabil berpose seolah ada kamera yang sedang memotretnya.


Lalu ia diam dan tiba-tiba menangis menjerit.


"Tidak!!!!!"


"Tolonggg"


"Ahahahahaha"


"Aku pemenangnya"


***


Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda.


"Arman jangan serahkan aku kepolisi" teriak Arkan sambil berusaha melepaskan diri dari para pengawal yang membawanya.


"Diam!" bentak seorang pengawal.


"Aku mohon Arman"


"Hey aku tidak tau apa masalah kalian, kenapa kalian malah ikut meyeret ku masuk kemasalah kalian" teriak Heri yang kaliini berusaha memberontok.


"Kau rupanya belum menyadari kesalahan mu" kata Arman tersenyum penuh Arti.


"Memangnya apa kesalahan ku!" bentak Heri.


Buuk!


Arman memberi bogem di wajah Heri.


"Apa kau sudah tau kesalahan mu?" tanya Arman.


"Bos aku tau caranya bagaimana orang ini bisa sadar" kata seorang pengawal.


"Apa?" tanya Arman.


Pengawal itu setengah berbisik pada Arman. Bibir Arman tampak tersenyum, menurutnya ide dari anak buahnya itu cukup menarik.


"Boleh silahkan" kata Arman.


Pengawal itu berjalan keluar dan memanggil seorang lelaki yang suka dengan sesama. Pria itu mulai mendekati Heri. Heri dengan tubuh lemahnya tidak mampu memberontak.


"Jangan, apa yang kau lakukan?" tanya Heri saat melihat peria itu mulai membuka pakaiannya.


"Kita hanya sedikit" kata pria itu menggedipkan matanya.


"Tidak!" tolak Hari.


"Ahahahahaa kenapa menolak kan enak" teriak seorang pengawal yang mrnjadi penonton.


Heri merasa jijik karena pria itu memberlakukannya seperti seorang wanita yang melakukannya dengan seorang pria.


"Huek" Heri mual.


"Ahahahahaaa. Belum apa-apa sudah hamil" ucap pengawal lainnya.


Setelah selesai dengan itu semua kini Arkan dan Heti mulai memohon agar mereka di masukan saja kedalam sel dari pada tetap bersama Arman, mereka sudah tidak sanggup mendapat siksaan yang Arman berikan.


"Arman ayo bawa saja aku ke kantor polosi" kata Arkan.


"Aku juga tuan" ucap Heri.


"Kenapa buru-buru" kata Arman tersenyum kemenangan.


"Aku mohon Arman" ucap Arkan.


"Jordi apa kau juga mau dengan pria tampan itu" kata Arman menunjuk Arkan.


"Arman aku tidak mau" teriak Arkan.


"Mau dong bos" jawab Jordi penyuka sesama.


"Tidak. Arman aku mohon aku tidak mau" teriak Arkan.


"Kenapa" tanya Jordi dengan manja.


"Ban** sialan" bentak Arkan.


"Aw. Kamu agresif sekali" kata Jordi dengan manja bahkan sambil menggigit jari telunjuknya.


"Wah sayang sekali. Padahal dia mau" jawab Arman yang menjadikan ketakutan Arkan sebagai hiburannya.


"Habisi saja aku Arman dari pada dia melakukan itu pada ku" teriak Arka.


"Tapi tuan Vano kali ini tidak mengijinkan ku untuk menghabisi kalian. Karena ia sedang tidak ingin" jawab Arman.


"Kalian semua antar bajingan ini ke kantor polisi. Dan pastikan semuanya rapi" perintah Arman pada pengal.