Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON ll ■ bab 111


"Owaaa, owaaaa," Zie terus saja menangis di dalam mobil.


"Bos kasih cemilan nyonya Ziva saja bos, ini ada roti," kata Miko anak buah Arman yang ikut pulang duluan dengan Vano.


"Bagaimana caranya, Zie belum bisa makan yang begituan dan saya tidak mengerti," wajar saja Vano sama sekali tidak mengerti bagaimana cara menenangkan Zie karena selama ini Zie selalu bersama Sinta.


"Tuan istri saya suka kasih roti sama anak saya, cara nya di celupin dulu tuan," kata Miko teringat bagaimana sang istri di rumah menyuapi roti untuk anaknya.


"Ayo kamu coba," kata Vano yang menerima usulan Miko.


Sementara Doni menyetir mobil dengan sangat kencang sebab mereka harus segera mendaptkan warung untuk membeli susu formula, atau pun membuatkan teh hangat saja untuk Zie. Sebab posisi mereka ada di tengah-tengah hutan dan sinyal pun tidak ada.


"Iya bos," Miko mulai menyuapi Zie dengan mencelup roti pada air mineral milik Ziva yang memang selalu di siapkan di mobil.


"Itu ada warung bos," kata Doni mulai memarkirkan mobilnya.


"Ayo turun," kata Vano.


"Owaaaa," Zie yang berhenti di suapi kembali menangis.


Vano berjalan memasuki warung dengan menggendong Zie, penjual warung bingung ada seorang pria tampan membawa seorang bayi mereka takut kalau bayi itu di culik.


"Bu jangan mikir macam-macam, ini anak kandung saya yang habis di culik," tampaknya Vano mengerti dengan tatapan si penjual yang menatapnya penuh tanya.


"Oh, iya Mas, tapi kenapa bayinya nangis terus dan ibu nya mana?"


"Anak saya haus Bu, dan lapar, apa di sini ada susu formula dan botol susu?" tanya Vano.


"Ada Mas, tapi hanya yang kotak kecil saja," kata si penjual.


"Bu tolong buatkan sekalin nanti saya bayar lebih, anak saya dari tadi nangis terus," Vano panik karena suara tangisan Zie terdengar serak.


"Iya Mas, berapa usianya?" tanya si penjual.


"Satu tahun Bu, cepat Bu saya mohon," kata Vano bahkan ia menangis melihat sang anak yang kehausan dan kelaparan.


"Iya," dengan gerakan cepat sipenjual membuatkan susu untuk Zie, Vano tidak perduli dengan susu mahal atau murah sekarang yang penting Zie minum susu.


Satu menit kemudian dengan setengah berlari si penjual yang gemuk itu membawa satu botol susu untuk Zie.


"Mas ini, cepat berikan."


Dengan cepat Vano memberikan susu formula buatan si penjual tapi Zie tetap menangis bahkan ia tidak bisa berhenti menagis. Seketika wajah Vano berubah panik dan bingung.


"Boleh Bu, tolong saya Bu," Vano memberikan Zie dan di terima ibu itu dengan cepat.


"Cup, cup, sayang, sayang," si penjual yang juga memiliki bayi seumuran Zie mulai dan ia membawa Zie masuk kedalam rumah, ibu itu mengganti popok Zie dan memakaikan baju bayinya pada Zie, sebab ada semut yang masuk kedalam baju bayi itu terlihat kulit putih yang memerah dan si ibu tadi juga memandikan Zie dengan cepat dan memberi minyak kayu putih.


Vano hanya diam melihat apa yang di lakukan si ibu itu, ia kasihan melihat Zie di mandikan tengah malam. Namun Vano tau wanita itu ingin menolongnya dan ia membiarkan saja.


"Minum susu ya nak," si ibu itu menggendong Zie dan memberikan susu formula yang tadi ia buatkan.


Zie langsung meminum habis susu itu, dengan sekejap, sampai si ibu minta di buatkan lagi susu untuk Zie karena Zie masih terus meminum botol kosong. Dengan cepat suami si ibu itu membuatkannya hingga akhirnya Zie tertidur lelap bahkan dari bibir bayi mungil itu masih mengeluarkan sesegukan seperti orang dewasa.


"Mas sepertinya bayi anda sangat lama sekali menagis," kata si ibu.


"Iya Bu, bayi saya di culik dan saya tidak tau sejak kapan ia menangis," Vano tidak bisa membendung air mata yang mengingat keadaan Zie tadi.


"Mas besok kalau sudah sampai di kota, bawa dulu bayinya ke dokter, soalnya banyak sekali semut saya temukan di bajunya. Sepertinya bayi Mas dari tadi mena gis karena di gigit semut di tambah lagi lapar dan haus," tutur si ibu.


Vano memperhatikan wajah putrinya yang kini terlelap di gendongan si ibu itu, baju yang di gunakan Zie hanya baju murahan. Tapi Vano sangat bersukur si ibu mau memberikan baju anaknya pada Zie, bahkan Zie memakai baju anak laki-laki karena memang anak ibu itu laki-laki.


"Mas-mas mau menginap di sini atau langsung pulang," tanya suami si ibu karena malam sudah larut, di tambah lagi mereka membawa bayi.


"Kami pulang saja Pak, istri saya tidak tau apa-apa dan saya takut di khawatir," Vano mengingat Ziva, waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam tapi mereka belum juga pulang. Dan Ziva pun sedang hamil pasti saat ini ia sangat khawatir.


"Kalau Mas pulang, sebaiknya sekarang saja, selagi bayinya tidur karena perjalanan ke kota masih jauh," kata si bapak.


Vano membuka dopetnya dan memberikannya pada si ibu, uang lembaran seratus ribu berjumlah sepuluh lembar.


"Di terima Bu," Vano memberikan pada si ibu.


"Tidak usah Mas saya iklas," si ibu menolak.


Tapi Vano memberikan pada anak si ibu yang masih berusia sekitar tiga tahun yang berdiri di dekat si ibu, "Ini tidak seberapa dengan pertolongan ibu pada putri saya," tutur Vano.


"Ini bawa susunya dan bawa termos saya mana tau nanti sikecil nagis di jalan," si ibu mengambil termos dan membuatkan satu botol susu, si ibu tidak tega melihat keadaan Zie hingga memberikan selimut milik bayinya untuk menghangatkan Zie.


"Terima kasih Bu, kami permisi," pamit Vano dan dua anak buahnya.


"Iya Mas hati-hati."


Vano dan ketiga anak buahnya mulai berangkat pulang, Zie yang terlihat lelah tertidur di pelukan Vano dengan sangat pulas. Terlihat wajah lelah Zie, Vano tidak tau lagi kalau ia terlambat membawa Zie mungkin saja bayinya tidak lagi bernafas karena di gerogoti semut serta kelaparan dan kehausan.


Vano membayangkan Zie yang di biarkan di tanah dengan menangis. Rasanya Vano ingin berteriak, Vano sangat bersyukur pada Tuhna bayi nya selamat. hingga satu jam kemudian mereka sampai di kota. Vano tidak berani mencium Zie sedikit pun walau ia sangat ingin karena taku Zie terbangun dan menangis, ia hanya memeriksa nafas Zie takut anak nya tidak benapas dengan kaca mobil yang sedikit di buka agar udara masuk. Itu yang katakan oleh si ibu penjual dan Vano menurutinya.