Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 137


"Hueek, hueek," Seli memijat dahi karena merasa pusing, bahkan sudah dua hari ini Seli tak lagi datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang suaminya itu, karena Seli mendadak malas masak dan malas berpergian ia lebih suka tidur di rumah saja.


Seli yang sudah tidak tahan dengan mual yang terus menggangunya akhirnya mengambil ponsel untuk menghubungi Arman, dan meminta agar sang suami segera pulang. Namun berulang kali Seli menghubungi Arman tak satupun panggilannya di jawab, hingga akhirnya Seli memutuskan pergi ke dokter sendiri.


Namun saat Seli keluar dari apartemen miliknya tiba-tiba pandangannya berubah gelap hingga dalam hitungan detik ia sudah tidak sadarkan diri, Seli yang tergeletak di lantai di temukan oleh seorang pria, dan pria itu adalah Fahri. Fahri hendak masuk ke apartemen milik temannya yang bersebelahan dengan Apartemen milik Seli, namun ia terkejut melihat seorang wanita yang tergeletak di lantai dengan pintu yang masih terbuka.


"Seli," Fahri terkejut melihat orang yang tergeletak di lantai ternyata Seli, dengan cepat ia mengangkat tubuh Seli masuk kembali dan membaringkannya di sofa.


"Seli bangun," Berulang kali Fahri mencoba membangunkan Seli namun Seli tetap saja belum sadarkan diri, hingga beberapa menit kemudian Seli sadar dan melihat Fahri di hadapannya.


Sementara Arman yang selesai rapat kini sudah kembali ke ruangannya, ia menunggu Seli untuk mengantar makan siang, Arman merasa aneh sudah tiga hari Arman tak merasakan masakan sang istri bahkan di rumah saja Seli hanya tidur dan tidur, tiba-tiba ponsel Arman berdering dan ada pesan yang masuk, emosi Arman mendidih melihat fhoto Seli di peluk lelaki, hingga ia pulang dan ingin cepat melihat apa yang Seli lakukan bersama seorang pria di dalam apartemennya.


Arman yang kini sudah berada di depan pintu perlahan memegang gagang pintu dan masuk, tangan Arman terkepal kuat melihat Seli di pegang Fahri bahkan Fahri membantu Seli untuk minum dengan memegang gelas, tanpa banyak tanya karena terbakar cemburu Arman merebut gelas di tangan Fahri dan tengah di teguk Seli.


KRANG.


Gelas itu pecah di dinding, Seli malah semakin mengeluarkan keringat dingin karena ketakukan. Melihat Arman menatapnya tajam.


"Kurang ajar," Arman menarik kerah baju Fahri dan memberinya bogem mentah.


BUUK.


Fahri tersungkur di lantai.


"Dengarkan aku dulu," Kata Fahri berusaha menenangkan Arman yang sedang cemburu.


"Kurang ajar," Arman tetap saja memukul Fahri hingga Seli berusaha bangun dan menegahi perkelahian keduanya.


"Kak cukup," Teriak Seli menarik lengan Arman.


Arman yang menyadari Seli membela Fahri langsung berbalik dan menatap Seli dengan tajam, Seli mundur selangkah karena takut.


PLAK.


Satu tamparan mendarat di pipi Seli, Seli terjatuh di lantai tak sadarkan diri sebab tubuhnya yang lemah, tidak bisa lagi menerima hal itu. Arman menyadari istrinya yang tak juga bangun dari jatuhnya, Arman duduk di lantai dan memangku kepala Seli terlihat pipi yang memar bekas tamparan Arman.


"Tuan Fahri ini obatnya," Terdengar suara seorang wanita yang tiba-tiba masuk. Ya, wanita itu adalah seorang pekerja di apartemen milik sahabat Fahri yang bersebelahan dengan Apartement Arman.


"Obat?" Tanya Arman.


"Iya tuan, tadi nona ini pingsan di depan pintu lalu tuan Fahri menolongnya dan saya di minta membelikan obat demam," Kata Pembantu itu.


"Urusan kita belum selesai," Kata Arman pada Fahri.


Arman mengangkat tubuh Seli menuju mobil ia ingin Seli cepat di tangani di rumah sakit. Arman merasa kesal kenapa ia bisa menampar Seli, Arman yang sangat mencintai Seli sangat takut bila Seli meninggalkannya apalagi bermain dengan laki-laki lain di belakangnya.


Kini Seli sudah di tangani seorang dokter, hingga tak berapa lama dokter keluar melihat Arman, yang sedang duduk di kursi tunggu tertunduk. Bahkan Arman tak menyadari dokter yang kini berdiri di hadapannya, karena penyesalan atas apa yang ia lakukan pada Seli.


"Tuan Arman," Tutur dang dokter bertag Darmawan.


"Dokter," Arman berdiri dengan cepat dan ingin mendapat penjelasan dari sang dokter.


"Istri anda tidak apa-apa tuan, hanya memar saja di bagian wajahnya dan selamat istri anda kini tengah mengandung enam minggu," Jelas sang dokter.


"Hamil dok?"


"Iya tuan, nyonya Seli sedang hamil enam minggu," Kata dokter memperjelas ucapannya.


Arman mengangguk tubuhnya terasa lemas ia bahagia sangat bahagia, dengan perlahan Arman membuka pintu melihat keadaan sang istri belum sadarkan diri di sana. Arman rasanya ingin berteriak, lututnya tak mampu lagi menahan tubuhnya hingga ia duduk di lantai dengan kepala tertunduk, air matanya jatuh begitu saja.


Hingga tidak berapa lama Seli sadarkan diri, ia merasa sakit pada pipinya, Seli menyadari ia kini berada di rumah sakit sebab ada selang infus yang tertancap di tangannya. Seli menangis mengingat tangan Arman menamparnya, perasan sakit kini sangat di rasakan Seli. Arman mendekat tapi Seli tidak mau menatap Arman ia membuang pandangannya pada sisi yang berlawanan.


"Sayang," Arman berusaha memegang tangan Seli, tapi Seli tak mau. Arman mengerti ia menarik nafas dengan dalam dan berusaha untuk Seli mau memaafkannya.


"Sayang, Kakak minta maaf," Arman memegang pipi Seli yang keluar air mata, namun Seli tetap tak mau menatap Arman. "Seli Kakak minta maaf ya," Arman sangat berharap Seli memaafkannya.


Tapi Seli hanya diam dan menangis bayangan Arman menamparnya masih terasa sakit, sangat sakit. Seli rasanya tak ingin melihat Arman lagi.


"Kakak khilaf, Kakak tadi dapat kiriman fhoto dan itu membuat emosi Kakak mendidih hingga Kakak tidak bisa lagi menahannya, kamu tau kan bagaimana Kakak mencintai mu, bagaimana cara Kakak memaksa mu menikah dengan Kakak, Kakak takut Seli, Kakak takut kamu menghianati cinta Kakak," Arman menangis memegang tangan Seli dengan kencang.


"Tapi Kakak jahat!" Kata Seli sambil menangis.


"Kakak minta maaf, Kakak khilaf dan kamu boleh hukum Kakak asal hukumannya bukan berpisah," Kata Arman.


"Tapi Seli maunya pisah sama Kakak!"


"Sayang jangan begini, Kakak tidak bisa hidup tanpa kamu, apa jadinya Kakak kalau kamu pergi tinggalkan Kakak, dan kamu sedang mengandung anak Kakak jadi kita tidak akan bisa berpisah," Jelas Arman.


"Mengandung?"


"Iya, Kakak mohon maafkan Kakak," Arman memeluk Seli berharap Seli mau memaafkannya, hati Arman bahagia bercampur luka seiringan cara yang ia ketahui tentang sang istri yang ternyata tengah mengandung.