
"Ziva tatap mata Mama" kata Sinta sambil mengangkat dagu Ziva dan manik mata Ziva kini bertemu dengan manik mata Sinta.
"Iya Ma" jawab Ziva sambil menganggukan kepala nya.
"Apa kamu rela bila Vano bersama Keyla?" tanya Sinta.
Ziva diam otak nya sedang berpikir. Dan ia sedikit menggeleng. Dengan rasa bersalah dan bersedih entah mengapa ia sangat tidak ingin merebut suami orang lain namun kini iya pun tidak bisa memungkiri ia juga sangat membutuh kan Vano.
"Tapi Ziva juga merasa bersalah Ma. Kalau mas Vano meninggal kan Keyla demi Ziva" kata Ziva dengan meneteskan air mata nya.
Huuufp!.
Sinta menarik napas dengan dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Sinta kembali menarik tubuh Ziva dan membawa Ziva pada pelukan nya. Sinta memeluk Ziva dengan erat dan dengan tulus.
Mama sekarang mengerti mengapa Vano begitu keras mempertahankan mu. Ternyata kamu wanita yang berhati malaikat. Dan kalau boleh memilih Mama akan memilih mu.
"Apa kamu benar-benar mencintai Vano?" tanya Sinta lagi karena ia ingin melihat wajah Ziva dengan yakin.
"Ya Ma dan Ziva takut kehilangan mas Vano" jawab Ziva dengqn suara yang pelan namun dengan yakin.
Tap tap tap!.
Terdengar suara langkah kaki yang memdekat pada kedua wanita yang sedang saling berpelukan itu. Vano terus berjalan mendekat dari tadi ia mendengar pembicaraan Ziva dan Sinta melalui cela pintu yang sedikit terbuka. Awal nya Vano berpikir Ziva belum bisa menerima diri nya apa lagi mencintai diri nya.
Namun ternyata ia salah. Ia mendengar sendiri dari mulut istri nya kalau ia pun sudah mencintai nya. Vano tersenyum hati nya yang bersedih kini berubah bahagia. Karena apa yang Ziva katakan kini mulai kembali membangkitkan srmangat hidup nya.
Tadi nya Vano berpikir sudah tidak ada lagi harapan untuk hidup bersama Ziva. Setelah semalam Ziva mengusir nya keluar dari ruangan itu dan Vano pun tidak mau memaksa Ziva seperti dulu karena ia takut Ziva sekakin terluka dengan perlakuannya yang selalu memaksa. Tubuh nya saat ini seperti tubuh orang tidak bernyawa. Dengan kemeja yang sudah kusut. Rambut berantakan dan wajah nya terlihat pucat.
Sinta yang melihat Vano mendekati nya. Mulai tersenyum. Dan ia melepaskan pelukannya, ia ingin memberi ruang pada anak dan menantu nya itu. Sinta mengerti dengan kebimbangan yang ada di hati menantu nya. Sinta keluar tanpa bicara dari ruangan itu dan ia menutup pintu.
"Sayang" Vano memanggil Ziva. Ziva yang memunggungi Vano awal nya tidak menyadari kehadiran Vano yang ada di belakang nya. Ia pikir Sinta meninggalkannya karena Sinta tidak mau mendengarkan nya. Namun ternyata ia salah. Sinta pergi karena Vano berada di ruangan itu.
"Sayang" lirih Vano. Vano mulai berjalan mendekati Ziva. Ziva mulai berbalik dan ia melihat Vano di hadapannya.
Vano tidak berbicara ia berdiri di samping ranjang Ziva. Dan memeluk tubuh Ziva. Vano meneteskan air mata nya sesekali ia mencium pucuk kepala Ziva. Vano baru mengerti ternyata ia sudah terlalu menyakiti hati Ziva.
Kedua nya diam hanya suara sesegukan yang terdengar dari bibir manis Ziva. Pelukan Ziva begitu erat pada tubuh Vano. Seolah ia takut Vano setelah itu akan meninggalkan nya. Bagitu juga dengan Vano. Air mata nya terus mengalir mata elangnya kini berubah merah dan di genangi cairan bening tanpa bisa ia bendung lagi.
"Sayang Mas sangat mencintai mu" kata Vano sambil mempererat pelukannya pada tubuh Ziva.
"Sangat Ziva. Sangat. Mas tidak bisa bila hidup tanpa kamu" kata Vano lagi.
"Ziva juga mencintai Mas" kata Ziva dengan suara yang pelan namun masih bisa di dengar oleh Vano.
"Ya Mas minta maaf. Selama ini ternyata Mas sangat egois. Kita mulai lagi dari awal ya" kata Vano.
"Lalu bagai mana dengan Keyla Mas?" tanya Ziva.
"Sayang Mas akan melepaskan Keyla. Dan kita akan hidup bersama dengan anak-anak kita" kata Vano.
"Tapi Mas apa kita tidak menyakiti hati Keyla?" tanya Ziva.
Vano memundurkan wajah nya. Dan tangan nya mulai menangkup wajah Ziva, kemudian ia menghapus jejak air mata Ziva yang membasahi pipinya dengan ibu jari nya.
"Sayang lebih baik sekarang dari pada nanti. Karena aku memang tidak lagi mencintai nya. Dan aku sangat mencintai mu. Biarkan kali ini saja kita menjadi egois. Karena kalau pun di paksakan itu hanya akan membuat kita semua tersakiti" kata Vano. Ia berusaha meyakinkan Ziva.
"Iya Mas" jawab Ziva sambil menganggukan kepala nya.
Vano mulai tersenyum. Kini beban di hati nya sudah tidak ada lagi. Vano tersenyum begitu juga dengan Ziva. Vano memeluk Ziva kembali rasa haru masih menyelimuti kedua nya. Karena kini keduanya sudah saling mencintai dan saling melengkapi.
Cup!.
Vano mengecup kening Ziva dengan sangat lama. Dan Vano mulai meletakkan tangan nya pada perut Ziva. Ia ingin merasa kan benih yang ia tanam di rahim Ziva. Vano tersenyum dan walau pun ia belum bisa merasa kan apa-apa namun tetap saja ia terus berusaha merasakan sesuatu di rahim istri nya.
"Terimakasih sayang" kata Vano.
Vano setengah berjongkok dan wajah nya mulai mendekat pada perut Ziva yang masih rata. Ia terus mendekat dan mengecup perut rata Ziva. Dan Vano mengelus dengan sangat hati-hati. Lalu Vano mulai berbicara seolah janin yang di kandung Ziva dapat mendengar apa yang ia katakan.
"Anak Ayah jangan nakal ya" kata Vano.
"Iya Ayah" jawab Ziva yang menirukan suara anak kecil.
"Kasihan Bunda nya. Kalau kamu nakal terus Bundanya juga jadi sakit" kata Vano lagi.
Cup!.
Vano kembali mencium perut rata Ziva. Dan Vano mulai memeluk perut Ziva dengan menenggekam kan wajah nya di perut istri nya itu. Ziva tersenyum melihat tingkah Vano. Ziva pun tudak bisa memungkiri kalau ia pun menginginkan perlakuan Vano yang begitu memperhatikannya juga anak nya.
"Kamu masih mual?" tanya Vano yang mulai mendudukan diri nya di samping ranjang Ziva.
"Enggak Mas" jawa Ziva.
"Kamu mau sesuatu?" tanya Vano.
"Iya" jawab Ziva sambil mengangguk.
"Kamu mau apa?" tanya Vano.
"Peluk" jawab Ziva.
Vano tersenyum mendengar keinginan Ziva. Karena ini adalah pertama kalinya Ziva meminta untuk di peluk. Biasanya Vano lah yang memeluk Ziva itu pun dengan paksaan baru lah ia dapat memeluk Ziva. Vano kembali memeluk Ziva. Dan tersenyum bahagia.