Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 138


"Seli jangan diam saja," Arman benar-benar takut sebab Seli tak menanggapi dan hanya diam saja.


"Seli mau pulang ke rumah Bunda, Seli kecewa sama Kakak," Seli masih kesal dan belum bisa memaafkan Arman, bagi Seli Arman tak menghargainya sedikit pun hingga dengan mudahnya ia main tangan tanpa mendengar penjelasan darinya.


"Tapi Sayang," Arman masih berusaha di maafkan Seli.


"Udah Kak, Seli cuman minta ke rumah Bunda bukan minta cerai. Tapi kalau Kakak masih maksa juga Seli yang bakalan ajuin cerai," Tegas Seli


"Ya udah, baik Kakak bakalan antar kamu ke rumah Bunda tapi jangan cerai ya," Arman langsung gemetar saat Seli mengucapkan kalimat cerai, ia lebih memilih mengikuti keinginan Seli.


"Udah sekarang Kakak keluar dari sini!"


"Keluar?" Arman kaget dengan keinginan Seli, "Nggak usah temuin Seli sampe lebam di wajah ku hilang," Kata Seli lagi.


"Nggak!" Tolak Arman dengan tegas.


Seli mencabut infus yang terpasang di tangannya, Arman semakin ketakutan melihat hal itu, dengan perlahan Seli turun dari ranjang.


"Seli kau mau apa?" Tanya Arman mencoba menghentikan apa yang di lakukan Seli.


"Kau tak pernah berubah, tingkah egois mu selalu saja ada dari dulu sampai sekarang, kau berbuat sesuka hati mu, kau pikir aku tidak punya perasaan hah," Seli berniat keluar tapi Arman menghentikannya.


"Kau masih sakit, mau kemana?" Tanya Arman denga takut.


"Kalau Kakak tidak mau pergi dari ruangan ini, biar aku saja yang pergi. Jangan halangi aku kalau Kakak halangi aku akan mengajukan cerai di pengadilan, suami itu melindungi istrinya bukan seperti Kakak cemburu tanpa alasan yang jelas, sekarang Kakak main tangan nanti apa lagi, seharusnya Kakak bersukur karena Fahri sudah menolong ku, karena Kakak aku hubungi tidak ada jawaban!" Teriak Seli melampiaskan kekesalannya lalu pergi.


Arman hanya diam, tanpa berani mehanan Seli ia hanya mengikuti ke mana istri nya pergi, Arman terlalu takut dengan ancaman Seli yang ingin berpisah. Sementara Seli kini sangat sensitif, ia kesal orang lain saja tak pernah menamparnya tapi Arman malah melakukan itu. Susah sekali saat ini mencairkan bekunya hati Seli.


Seli menaiki taxi, ia hanya pergi dengan tubuhnya saja tanpa membawa uang sepeser pun. Bahkan ia membayar uang taxi setelah sampai di rumah orang tuanya ia meminta pada Lastri.


"Seli kamu nggak ribut sama Arman kan?" Tebak Lastri, karena ia tau biasanya Seli selalu pulang ke rumah Lastri bersama Arman.Tapi tidak dengan kali ini.


"Bun kepala Seli pusing banget, Seli kekamar dulu ya," Pamit Seli.


"Bunda antar," Lastri juga bisa melihat bertapa pucatnya wajah Seli, hingga ia mengurungkan pertanyaan yang terasa mengganjal di hatinya.


"Huek," Seli dengan cepat berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, di rumah Seli hanya memiliki dua kamar tidur dan kamar mandi hanya satu terletak bersebelahan dengan dapur, jadi ia harus berlari ke dapur terlebih dahulu untuk bisa masuk ke kamar mandi.


"Huek, huek," Seli mendudukan tubuhnya karena tak mampu lagi berdiri, lututnya terasa gemetaran.


"Seli kamu kenapa?" Tanya Lasti dengan panik dan ia juga menyusul Seli ke kamar mandi, sejenak Lastri curiga bila putrinya sedang mengandung, "Kamu hamil?" Tanya Lastri.


"Iya Bun," Jawab Seli yang membuat senyum Lastri terbit mengetahui ia akan segera memiliki cucu.


"Alhamdulilah," Lastri membantu Seli untuk bangun, "Seli ayo Nak, kamu jangan duduk di lantai dingin nanti masuk angin. Ayo Nak Bunda bantu," Lastri berusaha memapah Seli dengan sekuat tenaga.


"Sayang," Tiba-tiba terdengar suara Arman yang ada di antara Lastri dan Seli.


"Ck," Seli kesal dan membuang pandangannya.


"Kamu kenapa duduk di situ?" Tanya Arman.


"Ah, sana jangan pegang-pegang aku," Kata Seli berusaha menghindar dari Arman yang hampir mengangkat tubuhnya.


"Seli kamu kenapa begitu?" Lastri sangat tidak suka melihat tingkah Seli yang tidak menghormati suaminya.


"Kak Arman udah nampar Seli Bun, Seli benci sama dia," Kata Seli berusaha bangun dan berjalan sambil tangannya memegang dinding untuk bisa berjalan.


"Arman apa yang di katakan Seli benar?" Lastri juga kesal dengan ucapan Seli, Lastri tidak mau bila Arman melakukan tindakan kasar pada putrinya walau pun putrinya salah.


"Iya Bunda," Jawab Arman dengan perasaan sedih dan menyesal.


"Kenapa Nak? Kalau kamu sudah tidak mencintainya kamu kembalikan Seli pada Bunda, jangan kamu sakiti dia," Lastri rasanya ingin menangis mendengar perkataan Arman.


"Bunda, saya khilaf dan itu karena saya terlalu cemburu, saya sangat mencintai Seli sampai kapan pun, mungkin hanya cara saya yang salah mencintainya, tapi saya tidak bisa hidup tanpa dia," Arman menggenggam tangan Lastri agar mengerti dan yakin jika ia sangat menyesal.


"Wanita itu keras Arman, wanita tidak bisa di didik dengan cara keras maka dia akan lebih keras," Tutur Lastri dengan kecewa.


"Saya minta maaf."


"Wanita di ciptakan dari tulang rusuk yang bengkok Arman, kalau kau memaksanya lurus maka tulang itu akan patah, dan jika tulang itu patah maka berakhir sudah. Jadi kau sebagai seorang suami harus dengan cara yang halus dan lembut mendidik istri mu. Menikah bukan hanya untuk meluapkan rasa cinta saja tapi juga mendidik istri, kau harus menjadi imam, contoh yang baik hingga istri mu takut pada mu dengan sendirinya, bukan dengan cara kau memberi tanda biru seperti ini di pipinya Arman." Lastri pun tak ingin Seli berpisah dari Arman, sebab Lastri tau bagaimana Arman mencintai Seli, maka dari itu Lastri mengatakan hal itu agar kedepannya Arman lebih mengerti tentang wanita.


"Iya Bunda," Arman mengangguk mengerti.


"Kau duduk saja dulu di kursi, Bunda mau susul Seli," Kata Lastri berniat pergi meninggalkan Arman namun Arman mencegahnya.


"Bunda biar saya saja yang menemui Seli," Tutur Arman.


"Jangan sekarang, dia sedang hamil, wanita hamil sangat sensitif biarkan dia tenang dulu dan menerima semua yang terjadi, Seli sedang hamil jangan membuatnya stres," Lastri pergi meninggalkan Arman yang mengangaguk mendengar perkataan mertunya walau pun berat Arman berusaha tenang dan kini ia duduk di kursi yang terletak di depan pintu kamar Seli.


Sementara Lastri masuk ke kamar Seli dan melihat putrinya berbaring, dengan memakai selimut.


"Seli kamu meriang Nak?" Lastri memegang dahi Seli yang terasa hangat.


"Bunda Kak Arman jahat hiks, hiks, dia tampar Seli," Seli kembali pada tingkah cengeng dan Lastri sangat mengerti dengan kekurangan putri nya yaitu cengeng, kadang Lastri juga tidak tau harus bagaimana cara merubah putri nya menjadi lebih dewasa dan kuat. Namun tidak pernah bisa, Seli tetaplah Seli, Seli yang cengeng tak tahan dengan bentakan mau pun gertakan. Ia sekarang sangat takut bila Arman tidak mengerti dengan tingkah Seli maka pernikahan anak dan menantunys itu pasti akan hancur.


***


Kakak Kakak mohon Vote ya, saya tau kalian sangat baik dan murah hati, TERIMAKASIH.