
Hari ini Ziva ingin jalan-jalan bersama Zie dan juga Vano, Ziva merasa setelah nanti bayi-bayi kembarnya lahir ia pasti tidak punya banyak waktu lagi bersama putri sulungnya yang cantik dan menggemaskan itu. Ziva merasa kasihan padahal Zie masih belum genap dua tahun, tapi Ziva juga akan berusaha adil pada kelima anaknya nanti.
"Ayah...." Zie berlari dan ingin Vano mengejarnya sementara Ziva duduk saja di kursi taman itu, melihat suami dan anaknya sedang berlarian.
"Zie....Ayah nyerah, Ayah nggak kuat. Zie larinya keceng banget," Vano berpura-pura lelah nafas di buat memburu, agar Zie yakin sang Ayah memang merasa lelah mengejarnya.
"Kejal....." Zie bangga dan mengejek sang Ayah.
"Awas kamu ya...." Vano menangkap Zie dan mengkelitiki sang putri.
"Ayah tutah..." teriak Zie sudah tidak kuat dan menyerah.
"Bukan tutah, tapi sudah," Vano menurunkan Zie mendudukannya di kursi bersebelahan dengan Ziva.
"Capek Nak?" Zie mengusap keringat yang mengalir di wajah sang anak, dan juga memberi minum.
"Ayah.....eskim," Zie menunjuk pedagang eskrim yang tengah di serbu banyak anak-anak.
"Zie mau eskrim?" Vano sangat merasa malas bila harus bergabung mengantri dengan pembeli yang lain, tapi demi Zie Vano rasa tidak masalah.
"Ayah eskim...." kata Zie lagi.
"Okey, Zie tunggu di sini ya sama Bunda, Ayah kesana dulu beli eskrim," tutur Vano membuat Zie tersenyum lebar.
Setelah Vano pergi Zie bermain dengan Ziva, namun tiba-tiba bola yang di main kan Zie terlempar pada seorang wanita canti, berkerudung panjang.
"Bunda," Zie tidak berani mengambil bolanya hingga ia neminya sang Bunda ikut mengambil, namun Ziva tak bisa menunduk.
"Kita tunggu Ayah ya Nak, Bunda susah jongkok," Ziva berusaham memberi pengertian pada sang anak.
"Ayo...." Zie tampaknya memiliki sipat keras kepala seperti Vano hingga ia tak mau mengalah.
"Zie, anak baik kan? Kalau anak baik itu nurut sama Bundanya," kata Ziva lagi.
"Ini bola kamu," bola milik Zie sudah di tangan seorang wanita dan mengantarnya pada Zie, dengan hati yang bahagia Zie menerima namun mata Ziva mengenali siapa orang tersebut.
"Ziva kan?" tanya Keyla, ya orang berkerudung panjang itu adalah Keyla.
"Mbak Keyla," Ziva berdiri dan menatap penampilan Keyla yang jauh sangat berubah.
"Saya minta maaf ya Ziva dulu banyak salah sama kamu," kata Keyla tersenyum lembut pada Ziva.
Ziva sejenak diam, Keyla sangat berubah tak ada nada kasar atau pun kata hinaan yang kini keluar dari bibir wanita itu. Yang ada hanya peri manis nan lembah lebut hingga Ziva pun merasa malu.
"Kamu tidak perlu minta maaf, sebelum kamu datang pun rumah tangga saya memang sudah berantaka," Keyla mengatakan sebenarnya agar Ziva tau, lagi pula dulu Keyla sudah tau juga jika Vano memaksa Ziva menikah dengannya.
"Saya sekali lagi minta maaf Mbak, saya sangat merasa bersalah," tutur Ziva lagi dengan suara yang bergetar.
"Sudah, saya pun sudah iklas," Keyla memeluk Ziva begitu juga dengan Ziva.
"Makasih Mbak."
"Ini anak kamu Ziva," Mata Keyla menatap Zie yang duduk di kursi sambil memeluk bola berwana kuning miliknya, karena Zie takut bola miliknya kembali terpar jauh jadi iamemeluk saja.
"Iya Mbak, namanya Zie," jawab Ziva yang juga menatap Zie.
"Wah, Zie cantik sekali," Keyla menunduk dan menciumi pipi gembul Zie, "Wajahnya mirip banget sama Vano," Keyla bisa menyimpulkan jika Ziva masih bertahan dengan Vano bahkan mereka memiliki anak yang cantik sekali, Keyla tau kesalahannya adalah berselingkuh dan ia menolak dulu untuk mengandung karena takut tubuhnya tidak cantik lagi.
Keyla juga ingat dulu ia sangat menentang keras Vano yang selalu meminta anak, dan sekarang Keyla yakin Vano sangat bahagia sebab Ziva memberikan apa yang di inginkan Vano. Mata Keyla juga menatap perut Ziva yang sangat besar, Keyla tersenyum sambil meneteskan air mata. Bukan ia bersedih tapi ada rasa haru di hatinya, ternyata pilihan Vano memilih Ziva adalah keputusan sangat tepat.
"Hehehehe," Zie tersenyum menunjukan dua baris gigi rapinya.
"Kamu hamil lagi ya Ziva," tanya Keyla.
"Iya Mbak, Alhamdulilah," kata Ziva tersenyum pada Keyla, namun Ziva bisa melihat raut wajah Keyla yang bersedih.
"Saya juga pingin banget seperti kamu, tapi dokter bilang rahim saya sangat lemah, sebab sebelum menikah dengan Vano dulu saya pernah beberapa kali melakukan aborsi ilegal di salah satu klinik. Dan sekarang saya juga tidak tau entas saya bisa atau tidak hamil lagi," Keyla menunduk menangis mengingat dosanya di masa lalu yang sangat banyak.
"Mbak udah, jangan nangis lagi kita doa sama-sama semoga Mbak juga bisa nyusul Ziva," Ziva tau kesedihan Keyla, ia menikah dengan Vano sudah hampir tiga tahun dan kini sudah memiliki seorang putri yang berusia 20 bulan, bahkan Zivs akan segera melahirkan bayi kembarnya juga.
"Iya kamu benar," Keyla mengusap air matanya dan tersenyum.
"Mbak kesini sama siapa?" tanya Ziva sesaat setelah Keyla sudah lebih baik, Ziva juga tidak mau Keyla terus bersedih.
Jika dulu Keya selalu bertingkah judes dan benci pada Ziva, mala tidak dengan saat ini. Saat ini Keyla terlihat jauh berbeda hingga tak ada alasan Ziva untuk membenci Keyla seperti dulu, tapi tidak dulu pun Ziva tak pernah membenci Keyla. Bahkan Ziva dulu rela mundur agar rumah tangga Keyla dan Vano baik-baik saja, sebab Ziva sadar ia hanya orang ketiga.
Namun sepertinya jodohnya dengan Vanonmemang sudah tertulis, hingga tanpa di pinta pun Vano kembali dengan sendirinya. Dan yang paling berkesan saat ia meminum pil kb tapi tetap saja ia mengandung anak Vano, padahal Ziva saat itu benar-benar tak ingin mengandung anak Vano karena status yang belum jelas, ia juga tidak mau di cap sebagai pelakor.
"Saya kemari sama suami saya," Keyla terlihat bahagia mengucapkan kata suami.
"Mbak sudah menikah lagi?" Ziva turut bahagia mendengarnya, paling tidak setelah Vano memilihnya kini Keyla sudah bahagia bersama pria lain, dannitu justru membuat beban Ziva terasa ringan. Ziva terus di hantui saja bersalah semenjak ia tak sengaja melihat Keyla saat itu di mall. Melihat penampilan Keyla kininsungguh membuat Ziva sangat bangga.
"Iya, dulu saya sempat terkena gangguan jiwa, dan suami saya sekarang adalah dokter yang merawat saya," tutur Keyla.