
Kini Ziva dan Vano berjalan menuruni anak tangga dan mata mereka menatap seorang wanita paruhbaya yang tengah duduk di ruang tamu merekan.
"Nenek," gumam Ziva sambil tangannya masih memeluk lengan Vano.
"Kamu kenal yang?"
"Itu Nenek Mas!"
Hati Ziva rasanya tidak bisa menerima saat melihat siapa yang datang bertamu kerumah mereka. Dia adalah Mirna tidak lain, tidak bukan ibu dari mendiang ayahnya.
"Nenek," kata Ziva yang kini duduk saling berhadapan dengang Mirna juga seorang perempuan Tia, Tia adalah adik dari mendiang sang Papah.
"Kamu apa kabar?" tanya Mirna dengan begitu ramah dan mencoba memeluk Ziva, namun mereka menolak.
Tidak lama dari kejauhan terlihat dua adik kembar Ziva yang baru menuruni anak tangga.
"Kak Vano, Kita ke sekolah dulu ya," teriak Daffa.
Daffa dan Daffi kini sudah bersekolah dan ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah, keduanya melanjutkan pendidikan di salah satu Smp ternama di kota ini, lebih tepatnya di SMp yang sama saat Ziva dulu bersekolah.
"Daffi juga," kata Daffi.
Keduanya berjalan mendekati Vano dan hendak mencium tangan Vano, namun tiba-tiba mata mereka menangkap seseorang yang pernah mereka kenal.
"Ini Daffa kan, dan itu Daffi," kata Mirna yang kini berdiri dan memperhatikan keduanya yang tengah berdiri tidak jauh dari mereka.
"Apa kabar kalian?" sapa Tia, yang begitu ramah.
"Siapa ya?" tanya Daffa sambil melihat Daffi sang kembaran.
"Nggak kenal!" jawab Daffi sambil mengangkat bahunya.
"Mmfff," Ziva menahan tawa sambil memeluk lengan Vano. Vano biasa saja dengan wajah seperti biasanya bila berhadapan dengan orang lain, wajah sangar, tanpa ekpresi itu akan muncul di tambah tatapannya yang setajam elang itu. Rasanya orang pasti berpikir suami Zivanya Sabilla itu sangat dingin.
"Kalian kenapa berkata begitu? Dosa!" kata Mirna yang sepertinya mengajari si kembar itu.
"Ffi, lu tau nggak dosa itu sejenis apa?" seloroh Daffa.
"Sejenis Bubur gitu loh Ffa, masak itu aja enggak tau," balas Daffi.
"Oh, yang lembek itu terus ada kacangnya ya Ffi?" kata Daffa lagi.
"Iya, terus di makan, jadi kotoran." kata Daffi lagi.
"Terus kita lempar ke wajah sono," kata Daffa mengisaratkan pada Misna dan Tia.
"Nah itu dia namanya dosa, faham?"
"Faham banget gua," jawab Daffa dengan pasti.
"Kalian ini apasih?" kesal Tia saat mengetahui dua anak kembar itu mengejek mereka.
Ziva hanya diam saja, di samping Vano. Kalau dulu Ziva harus pusing bila menghadapi seperti Nenek dan Tantenya itu. Tapi tidak dengan saat ini. Kini posisi Ziva sudah kuat, kedua adik laki-lakinya sudah besar, dan tidak ada lagi yang berani berbuat semenah-manah padanya sebab ada dua adik yang siap membelanya.
"Daffa, Daffi, kalian belajar yang rajin ya," kata Ziva menasehati kedua adiknya.
"Iya kak biar pinter kan Kak?" tanya Daffi.
"Iya dong, biar perusahaan Papah aman di tangan kita." ketus Daffa.
Sudah satu bulan perusahaan mendiang sang Ayah dari Ziva kembali ketangan mereka dengan bantuan Vano tentunya. Dengan susah payah Vano kembali merebut hak kedua anak yatim itu. Vano hanya memperjuangkan hak kedua anak kembar itu, bila untuk Ziva tentu tidak perlu di pikirkan karena sudah ada ia yang mencukupi kebutuhan Ziva. Lagi pula Vano tidak mengijinkan Ziva untuk bekerja lagi.
"Ya Kak, kita berangkat ya."
Daffa dan Daffi mulai mencium punggung tangan Vano dan Ziva setelah itu keduanya pergi berlalu begitu saja, tanpa perduli kedua wanita yang menatap mereka.
"Daffa, Daffi," tampaknya Mirna kesal dengan kedua anak kembar itu yang sama sekali tidak menganggap mereka ada.
"Lu panggil kita," kata Daffa dan keduanya berjalan berbalik mendekati sanga Nenek.
"Kalian nggak punya sofan santun ya?" kesal Mirna.
"Nggak kan enggak ada yang ajarin," jawab Daffa.
"Saya ini Nenek kamu jangan kurang ajar," lagi-lagi Mirna mengingatkan sikembar akan hal itu.
"Daffi lu ngerasa punya Nenek nggak?" tanya Daffa.
"Hehehe, kayaknya kagak deh, orang sedari kecil kita di besarin Kak Ziva doang kan ya." Daffi menggaruk kepalanya seolah bingung.
"Gue juga gitu, abis itu terus Kak Ziva nikah sama Kak Vano kan?" tanya Daffa.
"Iya terus kita tinggal bareng Kak Ziva dan Kak Vano." sambung Daffi lagi.
"Lu dari kemaren-kemaren kemane aje?" kata Daffa.
"Kita udah gede woy dah bisa cari duit sendiri. Dah nggak butuh keluarga macam lu!" kata Daffi.
Ziva diam saja ia tidak memarahi kedua adiknya sama sekali, bukan Ziva mengajari bagaimana membenci orang lain. Tapi kedua adik mereka juga bebas mengatakan sakit hati mereka kepada seseorang yang pernah membuat mereka sakit hati.
"Assalamualaikum Kak," pamit Daffa dan di ikuti Daffi.
"Ziva kenapa mereka berdua jadi tidak sopan pada Nenek?" tanya Mirna mencoba mencari pembelaan setelah kepergian si kembar.
"Saya nggak ngerti juga!" jawab Ziva.
"Ziva kamu masih menganggap kami keluarga mu kan?" tanya Mirna lagi.
Ziva diam dan mendongkak menatap wajah suaminya yang hanya diam menjasi penonton itu.
"Saya sih biasa saja," jawab Ziva seperti orang asing yang tidak mengenal siapa kedua wanita di hadapan mereka.
"Ziva kamu sekarang sudah menikah dengan orang kaya udah sombong ya," ketus Tia yang merasa kesal melihat mereka tidak di hargai sama sekali oleh penghuni rumah itu.
"Mas apa iya Ziva sombong?" tanya Zibmva pada Vano, Vano hanya membalas dengan senyuman saja.
"Ziva kamu jangan begitu, saya masih Nenek kamu dan saya orang yang membesarkan Papah kamu, hingga menikahkan Papah kamu dengan Mamah mu dan ada kamu, jadi Nenek harap kamu jangan begitu pada Nenek," Mirna tampaknya mencoba merayu Ziva, agar Ziva mau menerima mereka.
"Terus maksud kalian kemari apa? Tujuan kalian kemari apa?" tanya Ziva yang mulai malas menanggapi perkataan dua manusia di hadapannya.
"Kami ingin tinggal disini boleh ya Zi, Nenek dan Tante Tia sekarang ngontrak. Sempit banget kontrakannya Zi, kita nggak tahan," kata Sang Nenek. Mengingat mereka kini tidak memiliki uang, tinggal di kontrakan kecil dan panas.
"Iya Zi, kamu nggak kasihan sama kami?" timpal Tia lagi berharap Ziva memberikan mereka tempat tinggal.
"Maaf ya tante, tapi ini bukan rumah Ziva aja dan Ziva butuh persetujuan suami Ziva." kata Ziva berdalih padahal ia tidak mau keduanya tinggal dengan mereka, lagi pula kedua adik kembarnya pasti tidak akan setuju.