Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 142


Dua hari sudah berlalu, selama dua hari itu pula tidak ada kabar Arman baik lewat telpon apa lagi menjengguk Seli. Entah di mana kini Arman berada dua hari yang lalu Arman mengatakan berangkat ke luar negeri, tapi setelah di telusuri oleh Vano Arman tidak ada di sana sampai saat ini.


Sinta juga sangat khawatir karena Arman tak menghubunginya sama sekali, walau pun Sinta hanya ibu angkat Arman tapi tetap saja Sinta sangat menyayangi Arman, bahkan Sinta mungkin lebih menyayangi Arman dari pada Vano. Sebab Arman adalah anak yang penurut dan tidak pernah membuat masalah.


"Mama kerumah Mbak Lastri aja, mana tau Seli tau di mana Arman," Kata Sinta pada Vano.


"Nggak usah Ma, nanti Arman pasti pulang mungkin sekarang dia lagi di mana," Vano berusaha menahan Sinta untuk menemui Seli seperti janjinya pada Arman agar Sinta tidak tau dulu masalah Arman dan Seli.


"Mama mau temuin Seli, Mama nggak tenang kalau begini caranya," Kata Sinta.


"Ma kita ke apartemen Arman aja, mana tau dia di sana kan Ma," Kata Vano.


"Iya juga sih, yau udah ayo kita ke sana aja," Jawab Sinta membenarkan ide Vano.


Vano, Ziva dan juga Sinta pergi menuju apartemen Arman, setelah ketiganya sampai di sana mereka melihat seperti apartemen itu kosong dan tidak ada siapa-siapa.


"Arman," Sinta memeriksa setiap sudut ruangan namun tidak ada jejek Arman sama sekali, hingga Sinta membuka kamar Arman berikut ia memeriksa kamar mandi. Namun tetap saja Arman tidak ada di sana, sampai mata Sinta menemukan amplop putih terjatuh di lantai. Sinta penasaran dan mengambilnya setelah itu Sinta menarik selembaran kertas dari dalamnya.


Mata Sinta melebar dan bibirnya tersenyum membaca tentang hasil kehamilan Seli yang tempo hari di periksa di rumah sakit, dengan cepat Sinta berjalan menemui Ziva dan Vano tanpa senyum berkurang sedikit pun.


"Ziva, Mama seneng banget deh," Sinta berulang-ulang membaca kertas itu dengan perasaan bahagia.


"Itu apa Ma?" Tanya Ziva.


"Ini hasil pemeriksaan dokter yang mengatakan Seli hamil, bahkan di sini tertulis sudah enam minggu," Jelas Sinta.


"Waw, kita temui Seli aja gimana Ma?" Ziva juga sudah tidak sabar ingin menemui sahabatnya dengan perasaan bahagia.


"Ya, ayo," Sinta terlihat antusias, Vano ragu mengantarkan Sinta kesana, namun mau sampai kapan pikir Vano ia bisa menutupinya dari sang Mama, lagi pula Vano berharap jika sang Mama tau mungkin saja ada solusi yang baik agar Arman dan Seli bisa bersama kembali.


Kini ketiganya sampai di rumah Lastri, bahkan Sinta banyak membawa buah untuk Seli, perasaannya saat ini sangat bahagia sekali.


"Assalamualaikum..." Kata Sinta.


"Walaikumsalam..." Jawab Lastri yang baru saja keluar dari dapur.


"Mbak Sinta?" Lastri terkejut melihat ke datangan Sinta, "Masuk Mbak," Lastri mempersilahkan Sinta duduk di ruang tamu sederhananya.


"Ya, Mbak Lastri sehat?" Tanya Sinta berbada-basi.


"Alhamdulilah sehat Mbak," Lastri bingun dengan Sinta yang terlihat sangat ceria, bukan kah Arman dan Seli di ambang perceraian, pikir Lastri. Tapi Lastri juga bertanya-tanya dalam hati apa Sinta tak tau perihal perceraian itu.


"Bunda, Seli di mana?" Tanya Ziva.


"Ada Nak, Seli di kamar badannya panas sekali," Kata Lastri, Ziva langsung masuk ke kamar Srli meninggalkan Vano dan Sita bersama Lastri di sana.


"Seli," Ziva duduk di samping ranjang milik Seli.


"Ziva?" Seli terkejut melihat Ziva yang duduk di sampingnya.


"Kamu pucat banget?" Ziva bisa melihat wajah Seli yang terlihat tak ada gairah hidup sedikit pun.


"Arman kemana?" Tanya Ziva, Ziva merasa aneh mengapa saat Seli sakit Arman tidak ada di samping Seli.


"Kok nannyak ke aku?" Kata Seli bingung dengan pertanyaan Ziva.


"Seli...kamu kenapa dengan Arman?" Ziva yakin kini Arman dan Seli sedang dalam masalah, dan Arman menghilang karena ingin menyendiri agar lebih tenang menghadapi masalahnya.


"Aku udah pisah sama Kak Arman," Jawab Seli.


"Seli," Terdengar suara Sinta yang berdiri di pintu, Sinta shock mendengar ucapan Seli.


"Mama?" Seli tidak tau jika Sinta juga datang bersama Ziva.


"Seli tadi kamu bilang apa?" Sinta mendekati Seli dan ingin mendengar lagi perkataan Seli.


"Ma..." Seli hanya diam, air matanya kering sudah menangis selama dua hari ini. Ia pun tak tau lagi harus bagaimana yang jelas ia harus hidup demi anak yang masih berada di rahimnya.


"Kamu bilang kamu udah pisah sama Arman?"


Seli mengangguk, ia tak berani menjawab rasanya Seli pun merasa semua hanya mimpi saja, namun setelah ia bangun dari tidur semua tidak berubah. Semua nyata.


"Kalian berdua gila, kalian berdua egois apa otak kalian tidak memikirkan nasip anak yang masih di dalam rahim itu," Sinta mengarahkan telunjuknya pada perut Seli.


Seli hanya diam, kalau di tanya memikirkan anak ia sangat memikirkan anaknya. Namun mau bagaimana lagi talak sudah ia terima, Seli tidak tau harus bagaimana mengharap? Seli sangat berharap Arman kembali, namun kenyataannya setelah talak yang di beri Arman padanya, Arman menghilang bagai di telan bumi.


"Seli kenapa begini Nak, apa kamu yang meminta semua ini," Tanya Sinta memegang kedua lengan bagian atas Seli.


"Iya Mah," Jawab Seli susah payah.


"Apa kamu tidak mencintai Arman?" Tanya Sinta lagi namun Seli hanya diam saja tanpa menjawab, "Seli jawab Mama, apa kamu tidak mencintai Arman?" Lagi-lagi Sinta berusaha mendapat jawaban dari Arman.


"Seli...hiks, hiks," Seli tak tau mengapa ia kembali menangis dengan pertanyaan Sinta, padahal ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi.


"Kamu hamil tapi kalian bercerai, sekarang Arman pun menghilang entah kemana, Mama kecewa sama kalian berdua," Tutur Sinta dengan putus asa.


"Ma udah ya," Ziva berusaha menenangkan Sinta yang menangis.


"Kalian baru menikah belum seumur jagung pun, tapi sekarang sudah bercerai?" Sinta sangat kecewa hingga ia meninggalkan Seli begitu saja.


"Mas kejar Mama, Ziva di sini dulu ya," Pinta Ziva.


"Ya sayang, nanti kamu Mas jemput," Kata Vano, Ziva mengangguk dan Vano pergi menyusul Sinta, mungkin saja Sinta ingin pulang dan Vano akan mengantarkannya.


"Seli kamu sabar ya," Ziva memeluk sahabatnya kalau dulu Seli selalu ada untuk Ziva, maka kini Ziva pun berusaha tetap ada untuk Seli.


"Ziva, ini salah aku, hiks, hiks," Seli hanya bisa menangis sambil memeluk Ziva dengan erat.


"Iya, kamu tenang, semua pasti ada jalan terbaiknya," Ziva tak ingin saat ini membahas masalah perceraian Seli, sebab bagaimana pun Seli tidak boleh stres sebab sedang mengandung.