
"*Keyla Puzila. istri sah Kenzi Zavano telah menikah lagi dengan seorang wanita malam. Wanita itu mengoda Kenzi Zavano hingga Keyla Puzila di ceraikan oleh suaminya Kenzi Zavano, seorang pengusaha sukses, yang rela mencera*ikan istrinya yang baik hanya demi seorang wanita malam"
Itulah berita yang tengah panas dan menjadi trending utama. Semua masyarakat mulai membicarakan hal itu, sampai para rekan bisnis Vano juga mulai mencaritahu apakah berita itu memang benar adanya. Berita itu juga tentunya sangat berpengaruh pada perusahaan Vano, Ziva dan Vano yang saat ini tengah duduk di sofa menonton televisi air mata Ziva tumpah begitu saja saat ia melihat berita di televisi tentang dirinya.
Dengan cepat Vano mematikan televisi saat ia menyadari Ziva yang bersedih. Vano memeluk tubuh Ziva, keduanya diam saja yang terdengar hanya isakan tangis Ziva yang terdengar. Vano terus mengelus punggung Ziva berusaha agar Ziva lebih tenang, Vano mengerti dengan apa yang Ziva rasakan saat ini, apa lagi istri kedua itu pasti di anggap pelokor dan di cap wanita murahan.
"Sayang" kata Vano.
Vano menjauhkan tubuhnya dan pelukan keduanya pun terlepas, Vano merapikan rambut Ziva yang panjang terurai dan beberapa rambutnya jatuh di pipinya. Vano mencium dahi Ziva dengan sangat lama, setelah itu ia menyatukan dahinya dan dahi Ziva.
"Jangan menagis semua akan baik-baik saja. Ingat ada anak kita disini" kata Vano mengelus perut Ziva yang sedikit buncit itu.
"Hiks hiks hiks" hanya itulah yang keluar dari bibir Ziva tidak ada yang lain.
"Sayang istri Mas yang cantik" kata Vano mulai menangkup pipi Ziva dan menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi Ziva dengan ibu jarinya.
"Kalau kamu terpuruk, lalu kondisi kamu menjadi lemah, kemudian terjadi sesuatu pada anak kita. Mereka pasti bahagia, jadi kamu jangan pikirkan apapun, biar masalah ini Mas yang selesaikan" kata Vano lagi dengan suara pelannya.
"Iya" jawab Ziva dengan sesegukan.
Vano kembali menarik Ziva kedalam pelukannya. Sebelah tangannya terkepal menahan kemarahan, ia yakin berita itu pasti ulah Keyla. Sambil memelik Ziva. Vano mengirim pesan pada Arman.
"Cari tau semuanya" 📩 Arman.
"Sayang kamu jangan sedih. Kalau kamu sedih dia juga ikut sedih" kata Vano.
Vano menunduk dan ia memeluk perut Ziva lalu mencium perut Ziva berkali-kali. Vano mendekatkan telinganya seolah ia ingin tau apa anaknya sedang terbangun atau sudah tertidur. Ziva merasa penasaran dengan tingkah Vano, ia bingung apa yang di lakukan Vano.
"Mas lagi apa" tanya Ziva dengan kepala menunduk agar ia bisa melihat Vano.
"Yang katanya bayi di dalam kandungan itu bisa nendang ya?" tanya Vano.
"Mas tau dari mana?" tanya Ziva.
"Dari Arman yang" kata Vano dengan santai menjawab pertanyaan Ziva.
Sementara Ziva tertawa terpikal-pikal mendengar jawaban Vano yang terdengar aneh di telinganya.
"Sayang apa ada yang lucu?" tanya Vano karena ia merasa bingung dengan Ziva. Vano mulai bangun dan duduk di sofa yang sama dengan Ziva.
"Mas yang lucu" kata Ziva yang belum bisa menghentikan tawanya.
"Kenapa Mas yang?" tanya Vano.
"Mas mendengarkan perkataan orang yang belum menikah? dia tau dari mana? jangankan istri pacar saja belum punya." kata Ziva sambil terkekeh.
"Terus yang?" tanya Vano sambil menggaruk kepalanya.
"Mas ku sayang. Istri mu ini masih hamil dua bulan, jadi belum nendang-nendang" kata Ziva.
Vano ber"O"medengar jawaban Ziva, Vano sebenarnya ingin menghibur Ziva, agar tidak mengingat berita di televisi yang baru saja ia lihat. Vano kembali mengelus perut Ziva dan sesekali menciumnya.
"Sayang kira-kira anak kita perempuan atau laki-laki?" tanya Vano tanpa menghentikan aksinya menciumi perut Ziva.
"Ziva mau perempuan atau laki-laki itu sama saja, yang penting sehat" ucap Ziva sambil tangannya merapikan rambut Vano.
"Kalau Mas maunya laki-laki dan perempuan" jawab Vano dan tangannya sudah mulai menyusup masuk kedalam piama tidur yang masih di gunakan Ziva.
"Ssst Mas" desah Ziva karena Vano memainkan gundukan milinya.
"Kita harus jaga-jaga yang"
"Kalau nanti anak kita lahir laki-laki. Berarti kita harus bikin yang perempuan lagi. Begitu juga sebaliknya. Jadi kita harus kejar target yang" ucap Vano dengan senyum manisnya sementara tangan miliknya masih meremas gundukan Ziva.
"Mas, takut Mama datang. Kan malu, kalau Mama liat" kata Ziva sambil tangannya berusaha menjauh dari Vano.
"Ck!" Vano berdecak kesal karena Ziva melarang mainan kesukaannya untuk di mainkan.
"Apa sih? Mas udah seperti anak kecil kehilangan mainan saja?" kata Ziva merasa lucu melihat wajah masam Vano. Setelah Ziva menjauh dan membuat tangan Vano tidak lagi meremas miliknya.
"Iya kan itu memang mainan Mas yang" jawab Vano.
"Jangan mesum, ada Mama di sini"
Vano menarik Ziva dengan cepat, kemudian ia mengangkat tubuh Ziva kepangkuannya. Vano mulai mencium rambut Ziva, yang menurut Vano aroma rambut Ziva sungguh menenangkannya. Dan tangannya melingkar di perut Ziva.
"Yang Mas hebat ya?" tanya Vano dengan semakin mempererat pelukannya.
"Hebat apanya?" tanya Ziva.
"Bisa bikin kamu hamil begini" kata Vano.
"Iss Mas jangan mesum terus dong" kata Ziva sambil menyiku Vano.
"Hehehe. Yang jangan gerak-gerak si otong bangunkan?" kata Vano.
Ziva tau apa yang di maksud Vano. Ia juga bisa merasakan milik Vano yang mengeras di bawah sana.
"Mas Ziva turun aja"
"Kenapa?"
"Ziva takut terjadi hal yang tidak di inginkan pagi-pagi begini" kata Ziva sambil berusaha turun dari pangkuan Vano. Namun Vano menahan dan memperkuat pelukannya.
"Kamu bilang yang tidak di inginkan. Tapi pas Mas......" ucapan Vano terhenti karena Ziva menutup mulut Vano.
"Mas" rengek Ziva setelah menjauhkan tangannya dari mulut Vano.
"Apa yang? apa kamu mau Mas bikin karya kejantanan Mas lagi di sini?" bisik Vano dengan sensual di telinga Ziva.
"Ssssst" desah Ziva karena Vano bukan hanya menhisap tengkuknya, namun juga tangan Vano menyusup masuk kedalam piama Ziva dan meremas gundukan miliknya.
"Enak kan yang?" tanya Vano.
"Issh, apa sih Mas" kesal Ziva.
"Yang kita bikin bayi lagi yuk" kata Vano yang kini mulai menghisap telinga Ziva.
"Mas" teriak Ziva.
"Selamat pagi" ucap Sinta dari kejauhan.
"Iya Ma" jawab Ziva sambil turun dari pangkuan Vano dan menjauh.
"Kalian sedang apa?" tanya Sinta yang mulai duduk berhadapa dengan Vano.
"Sedang mesra-mesraan tapi Mama ganggu" ucap Vano dengan jengkel.
"Oh ya sudah ayo lanjutkan" kata Sinta, dengan mengejek Vano. Karena menurut Sinta jawaban Vano sungguh menjengkel kan.