
"Sakit Bunda......Mama.....sakit....." teriak Seli, tangan kanannya di pegang oleh Lastri dan tangan kirinya di pegang Sinta.
Arman yang baru saja kembali dengan membawa jagung bakar juga mendadak panik.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Arman, ia bingung mau ke kanan atau ke kiri. Kalau naik ke atas Seli tidak mungkin juga, akhirnya Arman berdiri di samping Sinta dan mengambil alih tangan Seli yang di genggam Sinta.
"Nggak kenapa-kenapa," jawab Veli, "Arman lu pinter banget loh.....pas istri lu begini lu mendadak bego ya," seloroh Veli.
"Veli," Anggia menepuk pundak Veli yang sangat suka sekali menggoda orang-orang di sampingnya.
"Tu lihat Arman, bini lu mau lahirin anak lu. Besok-besok kalau lu marahin istri lu cuman karena kesalahan kecil yang Dia perbuat. Ingat detik-detik ini!" jelas Veli lagi agar suami tau kalau melahirkan itu susah, "Melahirkan itu bertaruh nyawa, bukan bertaruh ayam ya," ucap Veli memperjelas ucapannya.
"Veli kau bisa diam!" tegas Arman.
"Bisa, santai bro," kata Veli lalu ia menatap Seli, "Seli sabar ya, belum bisa mengejan karena pembukaan belum sempurna," jelas Veli setelah ia selesai memeriksa Seli.
"Tapi sakit banget Vel," kata Seli.
"Iya, kalau masih sakit tandanya kamu belum bisa mengejan," jawab Veli tersenyum.
Anggia melihat Seli begitu lama melewati proses, ia langsung menyuntikan obat pada selang inpus Seli dan ia melihat jam di pergelangan tangannya.
"Udah Ngi?" tanya Veli.
"Udah," kata Veli, keduanya memang sangat kompak bekerja sama. Apa lagi mereka menangani anggota keluarga mereka sendiri.
Dua jam kemudian.
Semua anggota keluarga keluar, hanya ada Anggia, Veli dan tiga orang perawat yang berada di dalam ruangan itu. Di tambah satu lagi Arman yang menemani Seli saat detik-detik persalinan bayi mereka.
"Siap Vel?" tanya Anggia.
"Anggi aku mules....." kata Seli yang sudah bermandikan keringat.
"Iya, kamu harus dorong ya. Kalau udah mules," kata Anggia lagi.
"Tapi aku pengen buang air Ngi," kata Veli.
"Iya, ayo dorong ya," kata Anggia tersenyum.
"Kak Arman mana jagung Seli yang belum habis barusan?" tanya Seli, karena saat ia memakan jagung tiba-tiba perutnya terasa sakit dan ia berhenti sejenak mengunyah.
"Tapi kamu bukannya mau melahirkan?" tanya Arman bingung.
"Seli ayo tarik napas....."" pinta Anggia.
"Kak jagung Seli mana?" pinta Seli sambil melakukan apa yang di perintahkan Anggia.
"Dorong......" kata Anggia lagi.
"HUUUUUUHHHH....."
"Bagus, sedikit lagi ya," kata Anggia lagi.
"Kak," kata Seli meminta Arman mengambillan jagung bakar miliknya.
"Iya," Arman memberikannya pada Seli.
"Ayo tarik napas......dan.....dorong......"
"HUUUUUUUUHHHH," Veli mengejan sambil menggigit jagung yang masih ada di mulutnya.
"Sedikit lagi..."
"Bagus, ayo lagi......"
"Seli perut Kakak sakit," kata Arman sebab Sedari tadi Seli memegsng bagian perutnya.
"Ayo lagi......"
"Oeee Oeee Oeee," terdengar suara tangis bayi dan Veli langsung mengurus bayi tersebut, sementara Anggia mengurus Seli.
"Bayinya laki-laki, selamat Arman, selamat Seli," kata Anggia dengan tersenyum.
Arman menangis dan menghujami Seli dengan kecupan, tak ada yang bisa ia katakan selain dari kata terima kasih. Tak ada yang bisa mengambarkan kebahagiannya saat ini, selain dari keindahan sang istri yang telah membuatnya menjadi seorang Ayah.
"Terima kasih sayang, telah membuat ku menjadi seorang Ayah. Terima kasih sudah memberi kebahagiaan itu, terima kasih....." ucap Arman sambil menyatukan jidadnya dan jidad Seli.
"Selamat ya Kak, kita udah jadi orang tua," Seli juga terharu saat melihat wajah putranya.
Beberapa saat kemudian, Seli sudah selesai di bersihkan dan begitu juga dengan baby boy yang sudah berbalut hangat dengan selimut bayi. Semua anggota keluarga di persilahkan masuk. Setelah Arman selesai mengazani sang putra.
"Seli," Lastri menangis memeluk sang putri dengan erat.
"Maafin Seli yang selama ini nakal terus ya Bunda, sekarang Seli tahu gimana perjuangan Bunda dulu pas lahirin Seli. Sekali lagi makasih ya Bunda udah lahirin Seli," ucap Seli dengan terus memeluk Lastri.
Seli membayangkan bertapa banyak kesalahannya dulu pada Lastri, bahkan sering kali ia membantah dan berbicara dengan nada yang tinggi pada sang Bunda. Kini setelah ia melahirkan ia tau tentang makna menjadi seorang ibu, ia tau bertapa Ibu bertaruh nyawa hanya demi melahirkannya ke dunia. Dan sampai di mana kasih sayang yang ia berikan pada sang Bunda, belum seujung kuku pun bila di bandingkan dengan perjuangan sang Bunda yang bermandikan keringat, berselimut air mata, berteteskan darah. Hanya kata maaf yang bisa ia katakan pada sang Bunda malaikat tanpa sayap, yang selalu ada saat ia terluka yang selalu tulus mencintainya tanpa perduli orang berkata buruk tentang dirinya.
"Ya sayang, Bunda sayang sama kamu. Makasih udah kasih Bunda cucu ini sudah lebih dari cukup," jawab Lastri melepas pelukannya dan menatap sang cucu yang berada di gendongan Anggia.
"Seli, selamat ya Nak. Dan terima kasih kamu udah bikin Mama jadi Oma lagi," kata Sinta yang langsung memeluk Seli.
"Makasih ya Ma, udah sayang sama Seli," kata Seli kembali terharu.
"Seli selamat ya," kata Ratih yang kini memeluknya.
"Makasih ya Mami aku," kata Seli yang kini memeluk Ratih.
"Semua pada meluk Seli, Arman juga jadi Ayah tapi kenapa nggak ada yang peluk?" tanya Arman yang berdiri di sudut ruangan karena merasa terabaikan.
"Sini gw peluk," kata Veli menggoda Arman, namun saat Veli berkata itu ternyata Aran dan Bilmar baru saja tiba di rumah sakit.
"Eh.....ngomong apa barusan?" kata Aran menatap tajam Veli.
Veli memutar leher dan melihat Arman di sana.
"Hehehehe....becanda Mas," jawab Veli dengan takut.
Aran langsung menarik Veli dan memeluknya, sementara Bilmar mendekati Anggia dan melihat baby boy yang di gendongan Anggia tentunya.
"Ini anak lu bro?" tanya Bilmar.
"Ya lah," kesal Arman, "Kasih selamat kek ke gw. Dari tadi semua cuman kasih selamat ke Seli, gw kan juga turut adil dalam pencetakannya," kata Arman dengan kesal.
"Arman!" Sinta menatap kesal Arman karena berbicara tak pernah benar.
"Ampun Ma," Arman menangkup kedua tangannya karena takut Sinta memukulnya, apa lagi kalau sampai di depan Lastri itu sangat memalukan.
"Ih....." kesal Sinta dan ia menatap kearah lainnya.
"Assalamualaikum," terdengar suara Vano yang baru saja datang bersama Ziva, Ziva dan Vano tadi sebentar pulang karena babynya menangis dan sedang demam. Setelah di rasa bayi-bayinya lebih tenang mereka kembali lagi kerumah sakit.
"Walaikum salam," jawab yang lainnya dengan senyuman.
***
Maaf ya KAK semua sudah lama nggak up, Authornya punya baby kadang harus curi-curi baru bisa nulis. Apa lagi sekarang lagi banyak kerjaan. Tapi isyaAllah Author bakal rajin up setelah lebaran.