
Saat Vano mulai terlelap di atas pangkuan Ziva. Tiba-tiba pintu terbuka. Dan orang tersebut masuk tanpa mengetuk pintu.
Clek!.
Pintu terbuka. Dan orang tersebut melihat suami nya yang sedang tertidur di pangkuan Ziva.
Krangg!.
Suara rantang yang terjatuh di lantai. Karena Keyla kaget dan dengan reflek ia menjatuh kan ranta yang ia bawa.
"Vano"
Vano dan Ziva yang mendengar ada suara benda yang terjatuh di dekat mereka langsung melihat asal suara tersebut. Vano memang sedikit shock karena Keyla yang datang saat sedang tidak tepat waktu namun ia kembali menetralkan diri nya. Vano menurun kan Ziva dari meja kerja nya dan kini Ziva berdiri di samping Vano.
"Ada apa kau kemari!!" tanya Vano dengan wajah datar nya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Keyla.
"Apa kau tidak melihat tadi" tanya Vano.
"Kurangaj*r berani sekali kau merebut suami ku!!" Keyla menunjuk Ziva.
Ziva diam saja ia sama sekali tidak menjawab. Karena ia ingin melihat sebesar apa cinta Vano pada nya bila di bandingkan dengan Cinta Vano pada Keyla. Ziva sama sekali tidak takut bila Keyla menghina atau mencacinya. Karena posisi Ziva sama kuat dengan Keyla kedua nya bukan istri siri.
"Kenapa kau menjadi perusak rumah tangga ku wanita murahan!!" bentak Keyla.
"Keyla jaga ucapan mu" kata Vano membentak Keyla.
"Pantas saja kau sudah sangat kasar pada ku. Ternyata pelakor ini yang sudah meracuni otak mu!" kata Keyla sambil berteriak.
"Dia bukan pelakor dan bukan kah aku sudah pernah mengatakan aku memiliki wanita lain. Dan bukan kah sudah aku katakan pula semua alasan ku. Dan kau juga sudah kusuruh mengemasi barang-barang untuk ku antar ke rumah orang tua mu. Tapi kau meminta waktu lagi pada ku." kata Vano.
"Ya tapi aku tetap tidak terima" kata Keyla yang menatap tajam Ziva.
"Apa yang tidak kau terima. Bukan kah sudah aku katakan kau tidak boleh mencampuri urusan ku!" kata Vano.
"Sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Keyla.
"Itu bukan urusan mu" kata Vano.
"Hey kau. Perempuan murahan pergi kau dari sini. Kau hanya bawahan di sini. Dan kau jangan pernah kembali lagi kemari!!" kata Keyla. Ia merasa diri nya masih istri sah Vano jadi ia masih berhak untuk memecat Ziva.
Ziva berjalan mendekati Keyla. Ziva yang sudah terbiasa menjalani hidup yang keras tidak akan gentar kalau hanya menghadapi wanita seperti Keyla. Bahkan saat ia menjadi pelayan di Club dulu ia sering menghadapi orang-orang jauh lebih dari Keyla saat ini.
"Kenapa saya harus pergi?" tanya Ziva sambil membalas tatapan tajam Keyla.
"Karena kamu cuma mainan suami ku dan aku yakin setelah dia bosan dia akan mencapakan mu. Dan membuang mu begitu saja. Dan dia akan kembali pada ku lagi karena aku istri nya!!" kata Keyla dengan tegas.
"Oh begitu. Baik lah aku pergi" kata Ziva.
"Pergi dari sini dasar murahan" kata Keyla.
"Mas aku pergi ya. Dan tidak usah mencari ku lagi dan kau pun tidak usah lagi tinggal dengan ku" kata Ziva berpamitan pada Vano.
"Sayang" dengan cepat Vano menarik tangan Ziva yang mau melangkah keluar.
"Sayang?" tanya Keyla.
"Ya dan kau pergi dari sini" kata Vano mengusir Keyla.
"Vano aku istri sah mu. Dan kamu malah mengusir ku. Apa aku tidak salah dengar?" tanya Keyla.
"Tapi aku juga istri nya" jawab Ziva
"Lihat ini" kata Ziva.
Ziva mengangkat tangan Vano dan menunjukan cincin yang di pakai Vano. Dan cincin yang ia pakai. Ziva sengaja melakukan itu karena ia ingin segera hubungan nya dengan Vano menjadi jelas dan bila Vano marah pada nya dan lebih memilih meninggal kan nya maka dengan senang hati. Saat itu juga Ziva pergi.
Namun bila Vano lebih memilih nya dari pada Keyla maka Ziva akan segera meminta Vano meninggalkan Keyla. Dan bila jawaban Vano nanti nya masih sama seperti dulu yang tidak bisa memilih salah satu di antara mereka. Maka Ziva lebih memilih ia yang mundur dari pada harus bertahan dalam pernikahan yang tidak berkejelasan itu.
"Vano apa benar yang wanita murahan ini katakan?" tanya Keyla dengan amarah yang memuncak.
"Iya kamu sudah menikah. Dan ku peringat kan jangan pernah kau memanggil nya wanita murahan!" Vano menegaskan pada Keyla.
"Kau keterlaluan Vano. Aku tau aku mempunyai banyak kesalahan tapi kenapa kau setega ini pada ku?" teriak Keyla.
"Sudah lah Keyla. Aku tidak mau berdebat dengan mu dan aku akan segera mencerai kan mu" kata Vano.
"Tidak. Aku tidak mau bercerai" jawab Keyla.
"Aku tidak perduli. Dan silahkan kau pergi dari sini" kata Vano.
"Aku tidak mau kembali miskin" batin Keyla.
"Tidak kau harus mengusir nya. Dan aku yakin kalian hanya menikah secara siri saja kan" tanya Keyla pada Ziva dengan sinis.
"Keyla keluar dari sini" kata Vano.
"Aku tidak akan keluar!" kata Keyla.
Keyla mendekati Ziva. Dan ia mulai menarik rambut Ziva kebelakang. Ziva diam saja ia sama sekali tidak melawan bahkan ia berpura-pura lemah di hadapan Vano. Karena Ziva melihat sendiri kalau Vano begitu membelanya.
"Aw. Sakit" kata Ziva berpura-pura takut pada Keyla.
"Lepaskan dia" kata Vano dengan wajah yang marah dan rahang nya yang mulai mengeras karena menahan emosi.
"Wanita murahan" kata Keyla mendorong Ziva. Hingga Ziva tersungkur di lantai.
"Aw" ringis Ziva sambil meneteskan air mata nya dan megosok-gosok tangan nya berpura-pura menahan sakit.
"Keyla kau!!" kata Vano sambil mencengkram wajah Keyla dengan satu tangan nya.
"Vano sakit" kata Keyla.
"Kau keluar dari sini dan tunggu surat cerai dari pengadilan" kata Vano dan mulai melepas cengkraman nya.
"Aku tidak mau cerai. Kecuali kau memberikan sebahagian saham di perusahaan ini untuk ku" kata Keyla.
"Waw. Ternyata ini sipat asli mu ya" kata Vano.
"Atau aku tidak mau bercerai dari mu" kata Keyla.
"Jangan mimpi" kata Vano.
"Kau mau keluar dari sini dengan baik-baik. Atau aku menyuruh satpam untuk menyeret mu keluar dari sini!!" kata Vano.
"Kau akan menyesal" kata Keyla.
"Dan kau. Urusan kita belum selesai!" kata Keyla menunjuk Ziva.
"Keyla keluar!" kata Vano.
Keyla keluar dari ruangan itu sambil menghentakan kaki nya. Karena ia tidak terima atas apa yang di lakukan Vano pada nya.