
Evelina setelah sampai di ruang baca kediaman Jezen, ia segera menyelinap ke gudang lama, Evelina dengan gaya santai namun pasti melakukan urusan dan tujuan nya.
untung lah dokumen itu masih ada tersimpan di bawah tumpukan yang Evelina susun dan buat waktu itu. Evelina membuat seakan-akan ini adalah kelompok barang tak lagi layak pakai dan tak berguna. sangat beruntung sekali hari ini tumpukan itu masih seperti saat sejak awal ia membuat nya dan dokumen itu benar-benar masih aman di sana.
Evelina memilih tempat ini karena ia tau gudang lama kediaman Jezen ini sangat jarang tersentuh oleh para penghuni nya.
mereka keluarga Jezen bahkan sangat jarang datang ke ruang baca. kecuali saat Evelina bertandang kemari maka Evelina akan sangat senang hati duduk di aula dengan buku yang bagus di tangan. Jika tidak Evelina ada pun beberapa pelayan seringkali mendatangi ruang baca ini, termasuk Ismaila yang juga sangat senang membaca.
Pada kenyataan nya keluarga Jezen ini tak akan mungkin melakukan hal yang sebetul nya membuat wawasan lebih luas, seperti membaca contoh nya. mereka keluarga Jezen secara turun temurun hanya sibuk dengan kuasa, harta..dan mati-matian membentuk image yang bagus dan sempurna di depan Khalayak agar mereka selalu mendapat pujian yang baik dalam masyarakat luas.
Setelah selesai dengan urusan nya, Evelina segera memasukkan dokumen penting itu ke dalam tas yang di bawa nya sedari tadi.
Evelina kembali ke ruang utama Jezen dengan senyuman nya yang sangat merekah.
Nyonya Jezen kaget setengah mati saat Evelina kembali duduk di sofa depan nya,Evelina dengan santai nya malah menyilangkan kaki. Padahal selama ini Evelina tak pernah satu kali pun duduk dengan posisi itu di hadapan sang mertua.
Nyonya Jezen bermaksud menegur Evelina tapi menantu nya ini lebih dulu berkata...
"mama mertua, boleh aku meminta sesuatu dari mu?" tanya Evelina dengan ekspresi nya yang begitu nampak setenang air..
Nyonya Jezen spontan mengernyitkan dahi nya, dalam ingatan nyonya Jezen..Evelina biasa nya tak pernah bersikap begini. Pertama Evelina duduk dengan menyilang kaki di depan nya, kedua Evelina to the point meminta sesuatu tanpa di tawar sebelum nya.., ini aneh..benar-benar aneh..!!!
"apa yang kau ingin kan Evelina?" Nyonya Jezen mulai merasa heran...
Evelina melirik singkat pada sosok Ismilia,pelayan pribadi nya nyonya Jezen itu..
"aku merasa kau sangat beruntung memiliki Ismilia di sisi mu.." kata Evelina dengan senyuman yang sulit di artikan
Nyonya Jezen tak mengerti, ia langsung melirik ke arah Ismilia pelayan pribadi nya itu, sejak kapan Evelina jadi mengurusi Ismilia?
"tentu saja aku beruntung, Ismilia adalah pelayan terbaik ku.., dia seorang pelayan pribadi yang sangat trampil" ujar Nyonya Jezen membalas pembahasan Evelina tentang Ismilia.
sedang kan Ismilia tetap diam tak bergeming, ia hanya terus berdiri tegak dan tetap patuh di samping tempat duduk Nyonya Jezen majikan besar nya.
"Lalu.." ucapan Evelina menggantung di udara...
"apakah aku boleh meminta Ismilia untuk jadi pelayan pribadi ku? Berikan Ismilia pada ku saja, bisa?" kata Evelina to the point.
Nyonya Jezen sangat terkejut, sebetul nya Ismilia juga kaget tapi ia bisa mengimbangi bahasa tubuh nya agar tetap diam tak bergeming
"maksud mu, kau ingin Ismilia?" tanya Nyonya Jezen meyakinkan pendengaran nya sekali lagi.
Entah sadar atau tidak, kenapa Nyonya Jezen merasa kalau Evelina ini sangat berbeda jauh prilaku nya hari ini. Evelina memang nampak elegant seperti biasa diri nya namun jika biasa nya Evelina nampak sangat rendah hati, kali ini Evelina terlihat lebih angkuh dan sangat tinggi pembawaan nya.
Bagi nyonya Jezen, berprilaku angkuh dan tinggi di depan mertua itu sangat lah kurang ajar..!!!
"iya, berikan Ismilia pada ku, aku menginginkan Ismilia yang menjadi pelayan pribadi ku ke depan nya" kata Evelina tanpa beban
apa-apa an anak ini? Batin Nyonya Jezen..., sebetul nya menantu s!-alan ini mau nya apa sih? Nyonya Jezen benar-benar merasa naik darah saat melihat cara Evelina berbicara yang seakan tak menghormati nya sebagai mertua
"Evelina, ini pelayan ku...apa kau berharap mertua mu yang tua ini mengerjakan semua nya sendiri tanpa pelayan pribadi di sisi nya.." Nyonya Jezen masih berusaha memaksakan senyuman pada Evelina walau sebetul nya ia sudah mulai di kuasai emosi.
Evelina hanya terkekeh sebentar...
"berikan saja Ismilia pada ku, maka aku akan mengganti kan pelayan pribadi yang baru untuk mama mertua" usul Evelina benar-benar dengan begitu sangat santai nya..
Nyonya Jezen terdiam, ia mulai menyadari kalau Evelina sedang berusaha mengibarkan benda perang di depan batang hidung nya. dalam artian Evelina sedang cari gara-gara pada nya..
"jangan bercanda Evelina, aku tidak butuh pelayan pribadi yang lain karena aku sudah mempercayai Ismilia sejak lama" Nyonya Jezen mencoba terus mempertahankan Ismilia.
Nyonya Jezen sangat merasa aneh, karena seumur-umur baru kali ini Evelina seakan-akan mengajak berperang dengan nya. entah kapan mulai nya...menantu bodoh ini mulai berani menghunuskan pedang di depan nya seperti ini.
suasana diam sesaat, Evelina melirik Nyonya Jezen dan Ismilia secara bergantian...
"sayang sekali.." kata Evelina akhir nya
"baik lah aku harus kembali ke kantor ku, mama mertua.." Evelina seraya berkata ia bangkit dari sofa dan memberi cipika cipiki pada nyonya Jezen dengan gaya yang malas.
"hati-hati.." pesan nyonya Jezen..
"terimakasih.." balas Evelina singkat
ia pun segera bersiap pergi tapi sebelum nya Evelina melemparkan senyuman penuh arti pada Ismilia..
Nyonya Jezen memandangi punggung Evelina dengan rasa heran. sikap Evelina terlihat sangat berbeda sekali..., seakan Nyonya Jezen merasa ini seperti bukan lah Evelina
"apa yang salah dengan anak itu" gumam nyonya Jezen ngeri...
Saat Evelina sudah pergi, Nyonya Jezen buru-buru menelepon suami nya. Ia menceritakan semua kelakuan Evelina hari ini yang terkesan kurang ajar dan merendahkan diri nya, jelas-jelas diri nya adalah mertua Evelina
Tuan Jezen yang mendengar cerita istri nya ini tentu saja langsung terpancing dan merasa makin membenci Evelina.
kemudian Tuan Jezen menghibur sang istri
"akan papa katakan pada Alex nanti, biar Alex akan mengajari nya. Berani sekali dia kurang ajar pada kita yang jelas-jelas adalah bagian dari keluarga Maliqwe yang terhormat" kata Tuan Jezen dengan sombong nya. Benar sekali ia begitu bangga mengembel-embeli nama Maliqwe dalam tiap moment kehidupan nya. Tuan Jezen adalah orang yang haus akan pujian.