Harapan Nan Sirna

Harapan Nan Sirna
Harapan Nan Sirna 18


Sementara itu Eric sudah di antar Adrian ke apartemen pribadi nya. Ia berbaring sejenak di sofa, beberapa hari ini kualitas tidur nya kurang baik. Ia sering bermimpi dan bermimpi dengan wanita yang sama, berjalan kesana kemari hingga membuat nya penat saat terbangun. Eric yang sudah merebahkan kepala nya itu pun mulai terbuai oleh suasana dan ia mulai kembali berjalan ke alam mimpi..


dalam mimpi Eric merasa ia berdiri di depan rumah sakit lagi, dan saat ini baru Eric sadari ini adalah rumah sakit tempat Adrian bekerja. Ya,ini adalah rumah sakit yang di lihat nya beberapa saat tadi saat menemani Adrian.


Eric baru sadar sekarang, ini adalah rumah sakit yang sama dengan diri nya mimpi beberapa kali. Pantas saja tadi saat ia mengikuti Adrian ia merasa familiar dengan rumah sakit elite ini.


tapi, tunggu..kenapa dia menjadi sadar pada mimpi sendiri dan mampu merangkai kan nya ke dunia nyata juga? Ini semakin aneh.


Adrian mengingat lagi saat mimpi pertama nya melihat Evelina teman baru nya di dalam mimpi itu sedang koma di ranjang rumah sakit, sosok gadis muda yang merupakan adik Evelina sedang menjaga Evelina...lalu Adrian...ya Adrian.


pantas saja ketika dalam mimpi Eric merasa tidak asing pula dengan sosok dokter yang menangani Evelina.., terlebih saat adik Evelina itu menyebut Dokter itu, Adrian !


tidak salah lagi, rumah sakit ini dan juga Adrian, semua begitu sangat berhubungan. artinya mimpi-mimpi nya ini bukan sekedar mimpi biasa. Ini nyata dan mempunyai alasan kuat di dalam nya. Walau pun Eric tak tau alasan nya apa. ia segera buru-buru masuk untuk mencari siapa tahu Evelina ada di dalam dan butuh bantuan nya.



Saat Alex dan Verna sudah pergi, arwah Evelina hanya bisa menatap tubuh nya sendiri yang masih terbaring tak berdaya dari waktu ke waktu tersebut.


"Bagaimana pun cara nya aku harus bangun.."lirih Evelina


arwah nya bergerak mendekati tubuh nya yang kosong sedikit demi sedikit, Evelina berusaha masuk ke dalam raga nya lagi walau ia tahu ini sulit dan tingkat keberhasilan adalah sembilan puluh sembilan berbanding satu.


"tolong..." Evelina memejam kan mata nya, berusaha masuk. Ia tak rela Alex dan Verna menang apalagi jelas-jelas mereka menang secara jalan curang tanpa kejujuran.


oke hari ini hanya Evelina yang di celakai seperti ini, esok entah siapa lagi. Karena orang-orang rakus seperti mereka tak akan pernah puas dengan apa yang di raih nya secara terus menerus.mereka pasti akan menginginkan lebih dan lebih lagi dari waktu ke waktu.


Evelina berfikir ia harus bangun apa pun itu cara nya, meski pun dokter berkata ini mustahil.


Saat Evelina berusaha masuk, menyatukan jiwa dan raga nya kembali, ia malah merasa tubuh nya di tarik ke suatu dimensi dan saat ia kembali membuka mata yang ada hanyalah kegelapan tak bertepi


"di mana lagi ini?" Evelina kebingungan dan ingin menangis


Evelina berfikir apakah diri nya sekarang benar-benar mati? Ia pindah ke alam kematian kah? Tidak...ini tidak boleh terjadi. Ia harus bangun dan menghukum orang-orang yang sudah sedemikian keji pada nya.


Evelina merasa sudah putus asa karena di sekeliling nya saat ini adalah hitam pekat. Seingat nya tadi hanya mencoba masuk ke raga nya tapi kenapa jiwa nya malah terpental kemari?


sayup-sayup Evelina mendengar suara yang perlahan,lirih tak terkendali.sampai-sampai Evelina mengira ia yang saat ini sudah mengalami ketulian.


"apa?" tanya Evelina setengah berteriak mencoba menyahut suara itu namun tak ada suara Evelina yang keluar. Ini sangat aneh...


"wahai jiwa...jiwa yang bersih.." panggil suara itu


Evelina menajam kan pendengaran nya


"kau hanya bisa kembali bangun, saat airmata orang yang di takdirkan menjadi belahan jiwa mu mengalir tulus untuk mu..." kata suara lirih itu


Evelina yakin ia bisa mendengar nya dengan lengkap, airmata orang yang di takdirkan menjadi belahan jiwa ku? Evelina mengulang nya namun suara nya tercekat hebat.


Evelina merasa mual, suasana gelap,pekat dan tak bertepi ini membuat diri nya benar-benar pusing...


saat Evelina mulai pusing di tambah otak nya berusaha mencerna apa yang suara itu katakan barusan, sebuah kekuatan menarik nya keluar dari kegelapan itu.


"apa yang kau lakukan duduk bersimpuh di sana seraya menunduk seperti sesosok hantu?" tanya Eric dengan raut bingung dan penasaran.


"aku.." Evelina memegang kepala nya sendiri dengan linglung, ia merasa pusing


Evelina melirik ranjang nya, sudah ada ada Alisha di sana sedang mengelus kening nya nya dengan sayang. Dapat di lihat wajah Alisha begitu hancur setiap kali melihat Evelina yang masih koma hingga hari ini..


Evelina beralih menatap Eric, wajah Eric terlihat ingin protes..


"susah payah aku menyadarkan mu, jangan sampai jiwa mu juga ikut-ikut koma Evelina" Eric merasa ini seperti lelucon yang menyebalkan


Evelina baru mengerti, itulah tadi mengapa ia merasa ada kekuatan yang menarik nya keluar dari dimensi gelap itu ternyata Eric yang sedang berusaha menyadarkan nya ya..!?


"Eric tadi itu aku..." Evelina secara spontan menarik kuat kerah Eric yang masih bersimpuh di hadapan nya, membuat Eric kaget


"ada apa?" tanya Eric


Evelina menceritakan apa yang di alami nya barusan.., Eric sangat percaya dengan semua rangkaian ini juga dengan cerita Evelina ini.


"aku harus bangun Eric, aku tak mau lagi di remehkan, mereka meremeh kan tubuh koma ku, berbuat mesum berkali-kali di sini. mereka kejam ! tanpa rasa bersalah mereka merendahkan aku yang sedang koma, aku harus membalas mereka" wajah Evelina memerah karena marah dan begitu sangat geram.


"bangun lah...ada aku bersama mu Evelina" kata Eric menguatkan


"tapi bagaimana cara nya Eric, aku sudah tak tahan ingin menghajar mereka!!!" Evelina mulai di kuasai emosi


"aku..tidak bisa bangun, karena aku tidak punya belahan jiwa. Memang nya di mana aku bisa menemukan orang itu?" pekik Evelina perih..


"bahkan suami ku dan sahabat ku yang ku anggap orang penting pun menghianati aku, mereka menusuk ku? Apakah aku punya belahan jiwa? Eric, apakah aku punya...?" Evelina mulai menggila, ia mulai menangis dalam kesal nya


"suami ku sendiri tidak menginginkan aku,sahabat yang aku percaya pun ternyata diam-diam begitu sangat memusuhi ku, mereka membenci ku, Eric..." tangis Evelina pilu


"di mana aku menemukan orang yang di takdir kan menjadi belahan jiwa ku, kalau aku saja masih terbaring koma di sini???" Evelina benar-benar putus asa, syarat untuk diri nya bangun terlalu berat dan sulit ia penuhi dalam hidup nya, apalagi dalam waktu dekat ini.


Eric menatap Evelina yang menangis, ini terhitung baru ke empat kali nya ia saling bertemu dengan Evelina, itu pun hanya dalam mimpi seperti sekarang ini.Tapi entah mengapa saat melihat Evelina yang menangis rapuh seperti ini, tiba-tiba hati Eric terasa sakit sekali. Eric masih dengan sangat jelas merasakan kesakitan di dalam dada nya.


Awal nya Eric ingin menenangkan nya..tapi ia tanpa sadar langsung memeluk Evelina erat..


"Evelina.." lirih nya


Evelina yang begitu rapuh dapat merasakan pelukan Eric begitu menguatkan nya, hingga Evelina yang awal nya kaget Eric memeluk nya se-erat ini, hingga merasa tulang nya hampir patah saking erat nya, Evelina diam saja karena pelukan ini terasa sangat nyaman dan membuat hati nya tenang..


"siapa yang menyakiti mu..aku tak akan melepas nya..Evelina.." Eric berkata mengikuti perasaan nya yang sakit saat ini


tanpa Eric sadari air mata nya mengalir di sudut mata nya..karena semakin erat Eric memeluk Evelina, Eric semakin dapat merasakan betapa dalam nya Evelina tersakiti...


Eric tersentak bangun dari tidur nya,, ia kaget karena terbangun dengan air mata yang berderai..


Alisha yang sedang duduk di sisi ranjang Evelina, di kagetkan dengan monitor medis Evelina yang bereaksi besar...!!! dan Alisha dapat melihat dengan jelas kalau jari jemari Evelina bergerak dengan perlahan...!! Alisha hampir tak mempercayai penglihatan nya..


"Suster...dokter...!!!!" pekik Alisha bergema di seantero rumah sakit..