
8 bulan kemudian.
Demi keselamatan Nara, Rangga memutuskan Nara melahirkan secara sesar walau sebenarnya Nara sangat ingin melahirkan keempat anaknya secara normal, tapi setelah perbincangan, proses pembusukan dan pertimbangan yang cukup lama, akhirnya dua Minggu sebelum hari ini mereka pun membuat janji dengan dokter yang menangani Nara.
Sudah dari semalam Nara masuk rumah sakit dan sudah puasa karena operasi di mulai pukul tujuh pagi.
Tiga puluh menit sudah Nara di dalam ruang operasi dengan di temani Rangga.
"Mas, anak kita udah keluar belum?" tanya Nara setengah sadar.
"Sabar Sayang, sebentar lagi." jawab Rangga.
Lima menit kemudian.
Oweeek... Oweeeek...
Bayi pertama keluar dengan suara tangisan yang sangat kencang.
Bidan yang ikut dalam operasi pun membawa bayi pertama ke hadapan Nara.
"Selamat yah Bu, bayi pertamanya laki-laki dan semuanya normal." ucap bidan lalu meletakkan bayi pertama diatas dada Nara agar bisa Nara peluk dan cium.
Tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata bagaimana bahagianya Nara melihat bayi pertamanya ada di dadanya. Nara merasa ini semua seperti mimpi.
"Mas ini beneran anak kita kan Mas? Aku gak halu kan Mas?" Tanya Nara sambil menangis.
"Gak Sayang kamu gak halu, ini anak pertama kita." jawab Rangga yang juga ikut menangis bahagia.
Belum juga yakin kalau bayi yang ada di dadanya nyata bukan halu, sudah terfengar lagi suara tangisan anak kedua mereka. Tak lama bidan pun membawa bayi kedua itu pada Nara.
"Selamat yah Bu, anak keduanya juga laki-laki dan semuanya normal." ucap bidan lalu meletakkan bayi kedua ke dada Nara kemudian mengambil bayi pertama dari dada Nara untuk di bersihkan serta diberikan vitamin dan di timbang.
"Mas ini yang kedua." ucap Nara masih sambil menangis.
"Iya Sayang ini yang kedua." jawab Rangga juga masih menangis.
"Nyata Sayang, nyata." jawab Rangga.
Oweeek...
Terdengarlah suara tangis bayi ketiga.
Bidan pun datang membawa bayi ketiga pada Nara kemudian mengambil bayi kedua dari dada Nara untuk dibersihkan dan diberi vitamin serta di timbang seperti bayi pertama.
Sama seperti bayi pertama dan kedua, Nara masih tidak percaya kalau bayi ketiga yang ada di atas dadanya itu nyata.
Sepuluh menit kemudian.
Oweeek...
Akhirnya terdengar juga suara tangis bayi keempat. Jarak dari bayi ketiga dan keempat memang agak sedikit lama yaitu sepuluh menit, sedangkan jarak bayi pertama dengan kedua hanya lima menit, begitupun jarak bayi kedua dengan ketiga juga lima menit.
Dan bayi keempat ini adalah bayi yang paling misterius jenis kelaminnya, tidak seperti bayi pertama, kedua dan ketiga yang menampakkan tugu monasnya saat USG, bayi keempat ini setiap USG posisi tangannya selalu menutupi area vitalnya, dan itu lah yang membuat Nara dan Rangga penasaran dan mereka berharap kalau bayi keempat ini adalah perempuan.
"Selamat yah Bu, anak keempatnya perempuan." ucap bidan saat memberikan bayi itu pada Nara.
Rangga dan Nara pun menangis histeris sangking bahagianya, karena doa mereka benar-benar di dengar yang Maha Kuasa. Tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan.
Setelah beberapa menit dalam pelukan Nara bayi keempat itu pun diangkat bidan dari dada Nara untuk di bersihkan, di beri vitamin dan di timbang seperti kakak-kakaknya.
"Makasih yah Sayang, makasih udah kasih aku anak sebanyak itu." ucap Rangga.
"Sama-sama Mas." jawab Nara.
Rangga pun berulang kali menciumi kening Nara.
💋💋💋
Bersambung...