
"Mbak, kok ada Nara? Bukannya Nara sama Rangga mau cerai yah?" bisik Tante Yuni pada Mama Rena.
"Karena-"
"Hai semua, maaf yah telat." tiba-tiba suara Tante Erna menggelegar.
Tante Erna datang sendiri, tidak bersama suaminya.
Sontak para Tante pun menoleh ke arah Tante Erna. Tak terkecuali Rangga dan Nara.
Melihat ada Nara, Tante Erna mengernyitkan keningnya.
"Loh Ren, kok ada dia disini." tanya Tante Erna pada Mama Rena.
"Memangnya kenapa kalau ada Nara, Tante? Kan Nara masih jadi istrinya Mas Rangga? Atau Tante berharapnya yang dateng bersama Mas Rangga itu ja.langnya Mas Rangga yah?" Nara yang mendengar pertanyaan Tante Erna langsung membuka suaranya.
"Bukannya kamu mau cerai dari Rangga? Kenapa gak cerai? Takut miskin yah makanya gak jadi cerein Rangga?" tanya Tante Erna meremehkan.
Nara tertawa sinis.
"Ra..." Rangga mencoba menahan Nara agar emosinya tidak terpancing Tante Erna.
Nara langsung menepis tangan Rangga.
"Maaf yah Tante, kebetulan Nara ini bukan seperti ja.langnya Mas Rangga yang takut miskin makanya sampe-sampe harus godain suami orang. Nara gak jadi menceraikan Mas Rangga, karena Nara gak mau kalah sama para ja.lang di luar sana. Kalau istri sah semuanya mengalah, maka akan banyak bermunculan ja.lang-ja.lang seperti Erika yang akan merusak pernikahan. Jadi sebagai ganti dari gugatan cerai, Nara menghukum Mas Rangga dengan mengambil alih semua aset yang dimiliki Mas Rangga. Nara pinter kan?!" jawab Nara.
"Cih... dasar ular! Itu bukan pintar tapi licik!" balas Tante Erna.
"Gak salah dong kalau istri sah itu licik? Masa istri sah kalah licik dari ja.lang!" balas Nara.
Tante Erna menggerakkan giginya geram.
"Ren, kamu kok diem aja sih hartanya Rangga di kuasai istrinya!" ucap Tante Erna pada Mama Rena.
"Yah kan Nara istrinya Rangga, Mbak. Gak salah lah kalau Rangga memberikan semua hartanya sama istrinya. Almarhum Papa-nya Rangga juga kayak gitu kok sama saya. Masa almarhum suami saya meratukan saya, tapi saya melarang anak saya meratukan istrinya." jawab Mama Rena.
Nara tersenyum mengejek
"Maklum Ma, mungkin gak pernah di ratukan sama suaminya, makanya begitu." ucap Nara.
"Kamu!" Tante Erna mengangkat tangannya hendak menampar Nara karena sangat marah dengan kata-kata Nara.
Tapi belum juga tangan Tante Erna mendarat di pipi Nara, Rangga sudah mengambil tangan Tante Erna.
"Jangan pernah sentuh istri Rangga, Tante, atau Tante akan tau akibatnya." ucap Rangga dengan tatapan mengintimidasi.
Tante Erna menyentak tangan Rangga.
"Otak kamu udah diracunin sama istri kamu! Kamu akan menyesal Rangga karena sudah membela istri kamu!" Ucap Tante Erna pada Rangga kemudian beralih menatap Mama Rena.
"Saya pulang, saya eneq ada disini! Yuni, Mira, kalian pulang, jangan disini!"
"Kalau Mbak Erna mau pulang, pulang aja sendiri, jangan ajak Yuni dan Mbak Mira! Karena acara belum di mulai!" balas Mama Rena.
Tante Erna mendengus kesal lalu membalikkan badannya hendak keluar dari rumah.
"Jadi saya mengumpulkan kalian semua disini karena saya ingin memberitahu kalau sekarang Nara sedang mengandung anaknya Rangga." ucap Mama Rena dengan suara yang keras.
Tante Erna yang sudah sampai di ruang tamu langsung menghentikan langkah kakinya mendengar pengumuman Mama Rena.
Para Tante langsung heboh mendengar berita kehamilan Nara.
Tante Erna membalikkan badannya lalu berjalan menuju ruang tengah dan bersembunyi di balik tembok.
Mama Rena hanya melirik Tante Erna yang sedang sembunyi di balik tembok. Ia kepo.
"Yang bener Nara kamu hamil?" tanya salah salah seorang Tante dari keluarga almarhum Papa Rangga.
"Iya Tante." jawab Nara.
"Bahkan langsung di kasih kembar empat Tante." timpal Rangga.
"Ini buktinya." kata Rangga lagi sambil memberikan foto USG dan buku pink yang di berikan rumah sakit.
Jelas itu membuat para Tante terkejut. Bukan hanya para Tante, Mama Rena juga terkejut kalau Nara hamil kembar empat.
"Y-y-yang bener kamu Ga, Nara hamil kembar empat?" tanya Mama Rena memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
"Iya Ma. Liat aja sendiri dari foto USG dan keterangan dokter." jawab Rangga.
"Nara..." Mama Rena langsung memeluk Nara dan menangis bahagia dalam pelukan menantunya itu.
"Makasih yah Nak, kamu kasih Mama cucu kembar empat." ucap Mama Rena.
Para Tante juga ikut menangis bahagia dan satu-satu memberi ucapan selamat pada Rangga dan Nara.
Sementara Tante Erna yang sejak tadi menguping, ia tidak terima kalau menantu adiknya itu hamil, kembar empat lagi.
Tak terima dengan semua itu, Tante Erna pun keluar dari persembunyiannya.
"Kok bisa kembar empat? Anaknya siapa, hah?" tanya Tante Erna.
💋💋💋
Bersambung...