
"Awaaaaaaas!!!!!" teriak seseorang di seberang jalan. Suara yang sangat Nara kenal.
Sontak Nara pun menoleh ke arah sumber suara itu.
Begitu Nara berbalik, Nara melihat di seberang jalan sudah ramai orang berkerumun.
Nara pun berjalan dengan langkah panjang menghampiri kerumunan.
Di tempat kerumunan.
Huwaaaa... Huwaaaa...
Balita berumur tiga tahun menangis sekencang-kencangnya dalam dekapan Rangga.
Ya, suara yang Nara dengar itu adalah suara Rangga yang mencoba menolong seorang balita yang hendak menyebrang sendiri sementara di depan sana ada mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Orangtuanya lalai menjaga anaknya yang masih balita.
Ibu si balita pun langsung mengambil balita itu dari dekapan Rangga.
"Terimakasih yah Pak, terimakasih. Kalau gak ada Bapak saya gak tau gimana nasib anak saya." ucap si ibu balita sambil memeluk anaknya.
"Iya Bu sama-sama. Lain kali di perhatikan yah di gandeng terus jangan main hape, apalagi ini di pinggir jalan raya." balas Rangga.
"Mas Rangga..." pekik Nara saat melihat Rangga yang masih duduk di bahu jalan.
Rangga pun menoleh ke arah Nara lalu menghela nafasnya kasar.
Ketahuan sudah oleh Nara kalau dirinya mengikuti Nara.
Rangga pun mencoba berdiri dari duduknya. Tapi bahu kanannya terasa sakit hingga tidak bisa menopang tubuhnya yang hendak berdiri.
"Sssh... aw..." ringis Rangga kesakitan.
"Kamu gak pa-pa, Mas?" tanya Nara yang melihat jelas wajah kesakitan Rangga.
"Gak pa-pa." jawab Rangga berbohong sambil mencoba hendak berdiri dengan tangan kiri yang menopang tubuhnya.
"Makasih yah Pak, sekali lagi terimakasih banyak." ucap si ibu balita sekali lagi.
"Iya Bu, iya." jawab Rangga.
Si ibu balita pun pergi, begitu juga dengan orang-orang yang berkerumun, mereka pun semua bubar.
"Kamu beneran gak pa-pa, Mas?" tanya Nara khawatir.
"Sssh... aaargh..." ringis Rangga saat mencoba menggerakkan bahu kanannya.
Melihat itu, fix ada yang tidak beres dengan tangan Rangga.
"Mending kita kerumah sakit, periksa keadaan kamu." ucap Nara.
"Gak usah. Paling juga keseleo aja, nanti di urut aja sama Mama dirumah." tolak Rangga.
"Terus mobil kamu dimana?" tanya Nara sambil celingak-celinguk mencari mobil Rangga.
"Aku pake motor itu." Jawab Rangga sambil menunjuk motor satpam rumah Mama Rena.
"Kamu mau pulang naik motor dalam keadaan tangan kamu kayak gini? Bahaya! Aku anter kamu aja." ucap Nara.
"Terus motor itu gimana?" tanya Rangga.
Nara pun memanggil polisi yang sedang mengatur lalu lintas yang sempat macet karena kejadian tadi.
Pak polisi itu pun mendekat.
"Bisa titip motor ini di pos Bapak? Nanti akan ada orang yang ngambil motor ini." tanya Nara.
"Boleh Bu." jawab Pak polisi.
"Makasih yah Pak." balas Nara.
"Ayo Mas." Nara pun memapah Rangga berjalan sampai mobilnya.
Sedangkan di tempat lain, dari kejauhan Gandhi melihat Nara begitu perhatian dengan laki-laki yang menolong balita itu, Gandhi pun yakin kalau laki-laki itu adalah suami Nara.
"Seandainya dulu aku berani melawan Mama aku, pasti ceritanya gak akan seperti ini. Aku benar-benar menyesal Ra." lirih Gandhi sambil matanya tak henti menatap Nara yang sedang memapah Rangga menuju mobil Nara.
💋💋💋
Kini Rangga dan Nara sedang dalam perjalanan menuju rumah Mama Rena.
"Ssh... arrrgh..." ringis Rangga kesakitan setiap dia menggerakkan bahu kanannya.
"Kayaknya itu bukan cuma keseleo deh Mas, kita kerumah sakit aja yah." ucap Nara yang sedang menyetir sambil sesekali melirik Rangga.
"Gak usah Ra." tolak Rangga.
"Kalau kamu gak mau nurut, aku perpanjang waktu mediasi kita!" ancam Nara.
Semarah-marahnya Nara, sejengkel-jengkelnya Nara, sesakit-sakit hatinya Nara pada Rangga, tapi hati Nara tidak akan pernah sanggup melihat suaminya kesakitan, apalagi sakitnya Rangga karena menolong anak kecil.
"Eh... jangan dong! Iya... iya... Iya, aku mau. Kita ke rumah sakit kalau begitu." jawab Rangga.
Nara tersenyum tipis melihat wajah Rangga yang kesakitan.
Untuk beberapa detik suasana dalam mobil menghening.
"Jadi dari tadi kamu ngikutin aku?" tanya Nara yang baru teringat untuk apa suaminya ada di sekitaran coffee shop itu.
Rangga menelan salivan susah payah. Kalau ia jawab iya, takutnya Nara marah padanya. Rangga pun memiliki ide untuk membuat Nara melupakan kenapa dirinya ada di sekitaran coffee shop.
"Sssh.... arrrgh..." jerit Rangga kesakitan seolah sakitnya makin parah.
Sontak Nara pun menepikan mobilnya.
"Kenapa Mas?" tanya Nara panik.
"Gak pa-pa. Mungkin karena kamu tadi terobos lubang, jadinya tangan aku keguncang." jawab Rangga.
"Terobos lubang? Perasaan daritadi gak ada lubang deh." balas Nara.
"Udah lanjut aja nyetirnya, biar tangan aku cepet diobatin." ucap Rangga.
"Iya... Iya..." balas Nara.
Nara pun melepas rem tangan mobil lalu melajukan kembali mobilnya. Sedangkan Rangga, terus pura-pura meringis agar Nara tidak kembali bertanya kenapa dirinya ada di sekitaran coffee shop.
💋💋💋
Bersambung...