Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku

Dibalik Lemahnya Hasrat Suamiku
DLHS 63


Mendengar lagu yang dibawakan Rangga dan ucapan permintaan maaf Rangga, bukannya tersentuh Nara malah malu dan kesal dengan apa yang Rangga lakukan. Bagi Nara effort yang Rangga lakukan sekarang benar-benar sangat kekanak-kanakan.


Tak ingin mendengar Rangga menyanyi di panggung, Nara pun cepat-cepat beranjak dari duduknya lalu keluar dari Resto Music.


Karena pencahayaan di dalam Resto Music sekarang sedang remang-remang, sudah pasti Rangga tidak melihat kalau Nara pergi.


Nara pun berhasil keluar dari Resto Music.


"Apa coba maksudnya dia bikin kayak gitu! Mau minta dukungan dari pengunjung restoran? Gak banget!" dumel Nara sambil sibuk dengan ponselnya untuk memesan taksi online.


"Liat aja kamu Mas, kamu bener-bener bikin malu aku!" dumel Nara lagi.


Taksi online pun sudah Nara pesan.


Tak sampai sepuluh menit supir taksi online itu pun menghubungi Nara.


"Halo Mbak." ucap supir taksi online itu.


"Iya Pak, udah dimana Pak?" tanya Nara.


"Saya udah di depan Resto Music nih Mbak, Mbaknya dimana yah?"


"Ini saya ada didepan Resto Music. Mobil Bapaknya yang mana yah?" tanya Nara sambil celingak-celinguk mencari mobil yang kira-kira digunakan untuk taksi online.


"Mbak Nara?" tiba-tiba suara seorang laki-laki memanggil Nara dari belakang.


Nara pun menoleh kebelakang.


Mata Nara membulat melihat orang yang memanggilnya. Begitu pun dengan laki-laki yang memanggil Nara yang ia duga adalah customer-nya.


"Kinara..." lirih laki-laki itu.


"Gandhi..." lirih Nara.


Setelah beberapa detik saling tercengang, Nara dan Gandhi pun sama-sama terkekeh kecil.


"Jadi kamu Nara yang pesen taksi online." tanya Gandhi dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh Nara.


"Jadi kamu supir taksi online sekarang?" tanya Nara.


Gandhi hanya menjawab dengan kekehan kecil.


"Mobil kamu dimana?" tanya Nara.


"Itu mobil aku." jawab Gandhi sambil menunjuk mobil Buggati Chiron berwarna putih-biru yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


Mata Nara membulat lebar melihat mobil seharga kurang lebih sembilan puluh miliar itu di jadikan sebagai taksi online.


"Be-be-beneran ini mobil kamu?" tanya Nara tak percaya.


"Iya Nara. Ayo masuk, biar aku antar kamu sampai tujuan." jawab Gandhi.


Gandhi pun berjalan menuju pintu bagian penumpang dan membukakan pintu untuk Nara.


Masih dalam keadaan tidak percaya, Nara pun berjalan menuju mobil Gandhi dan masuk ke dalam mobil.


Setelah Nara masuk, Gandhi pun menutup pintu mobil lalu menyusul masuk kedalam mobil.


"Udah di pake sabuk pengamannya?" tanya Gandhi sambil memakai sabuk pengamannya.


"Um..." jawab Nara.


"Oke kita berangkat." ucap Gandhi. Gandhie pun melajukan mobilnya meninggalkan depan Resto Music.


Karena suasana canggung, Gandhi pun menyalakan musik agar suasana dalam perjalan sedikit relaks. Dan benar saja setelah musik di putar, suasana canggung dalam hati mereka sedikit menghilang.


"Ra-"


"Gan-"


Sekalinya membuka suara, dua-duanya sama-sama membuka suara.


"Kamu dulu." ucap Gandhi.


"Gak kamu dulu aja." balas Nara.


"Ladies first, Nara." balas Gandhi.


"Gan, kamu gak lagi gabut kan make mobil semaha ini buat taksi online?" tanya Nara. Sejak tadi mulut Nara sudah gatal ingin menanyakan pertanyaan ini pada Gandhi.


"Sayangnya iya." jawab Gandhi jujur.


"Woah... Kamu gak takut lecet atau apa gitu?" tanya Nara.


"Takut sih, tapi ya udah lah. Namanya juga gabut, mau gimana lagi." jawab Gandhi.


"Kamu gabut kenapa?" tanya Nara.


"Biasalah masalah pribadi." jawab Gandhi.


"Oh." Nara hanya membulatkan mulutnya dan tak lagi banyak bertanya.


"Kamu apa kabar Ra?" tanya Gandhi.


"Baik. Kamu sendiri gimana?" jawab Nara lalu membalikkan pertanyaan Gandhi.


"Baik juga." balas Gandhi sambil tersenyum.


"Oh iya, aku denger kamu udah merit yah?" tanya Gandhi.


Beberapa bulan setelah putus dengan Nara, Gandhi pun pergi ke Jerman untuk melanjutkan studi S2-nya.


"Um..." jawab Nara sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu sendiri gimana? Udah merit?" tanya Nara balik.


Gandhi menggelengkan kepalanya.


"Oh..." Nara hanya membulatkan mulutnya. Sebenarnya Nara ingin sekali bertanya kenapa Gandhi belum merit, tapi rasanya pertanyaan itu sangat tidak pantas. Karena pertanyaan itu sama saja dengan menanyakan kenapa belum hamil bagi pasangan yang sudah lama menikah dan Nara tau bagaimana rasanya jika ada yang menanyakan hal sensitif seperti itu.


"Kamu gak mau tanya kenapa aku belum merit?" tanya Gandhi.


Nara terkekeh kecil.


Ah, Gandhi tau saja apa yang sebenarnya ada di pikiran Nara. Karena Gandhi sudah memberi lampu hijau untuk Nara menanyakan hal itu, akhirnya Nara pun bertanya.


"Kenapa?"


"Karena belum ada yang seperti kamu." jawab Gandhi.


💋💋💋


Bersambung...