
Rumah Rangga-Nara.
Pukul 04.00
Kini Rangga sudah berada di rumah-nya bersama Nara. Untung saja jam segitu sudah ada angkutan umum yang beroperasi menuju pasar subuh jadi Rangga bisa menyewa angkutan umum itu sampai kerumah-nya.
Seperti seorang pencuri, Rangga berjalan mengendap-endap masuk ke kadalam rumahnya lalu masuk ke dalam kamar.
Sebelum masuk ke kamar, Rangga mengintip kedalam kamar terlebih dahulu dan untungnya Nara sudah tidur. Melihat Nara sudah tidur, barulah Rangga masuk kedalam kamar dengan langkah yang sangat perlahan.
Sebelum naik keatas ranjang, Rangga masuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan tubuh-nya dari sisa percintaan panasnya dengan Erika.
Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Nara yang sebenarnya belum tidur karena menunggu kepulangan Rangga pun membuka matanya lalu mengambil ponselnya yang ada diatas nakas.
"Jam empat. Kamu darimana aja Mas jam segini baru pulang?" lirih Nara.
Ingin sekali Nara mendobrak pintu kamar mandi dan melabrak Rangga tapi Nara harus bisa menahan emosinya, ia harus mengumpulkan bukti-bukti terlebih dahulu.
Tak sampai sepuluh menit Rangga pun keluar dari dalam kamar mandi dan Nara pun cepat-cepat menutup matanya kembali pura-pura tidur.
Dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya, Rangga naik keatas ranjang lalu memeluk Nara dari belakang.
Rangga menciumi punggung Nara dan tangannya ikut mera.ba kemana-mana, dalam tubuh Rangga nampaknya masih tersisa efek obat perangsang yang Erika berikan tadi.
"Eugh..." Nara pura-pura melenguh.
"Sayang, aku pengen, main yuk." ajak Rangga sambil menciumi leher Nara.
"Eugh..." Nara hanya melenguh.
Karena tak ada respon dari Nara, Rangga pun mengubah posisi tidur Nara menjadi terlentang lalu mencium bibir Nara sambil tangannya masuk kedalam pakaian tidur Nara.
"Ish... Mas Rangga!" pekik Nara sambil mendorong kepala Rangga.
"Aku lagi pengen Sayang, main yuk." ajak Rangga.
"Gak bisa Mas, aku lagi datang bulan." tolak Rangga.
"Pake mulut aja kalau gitu." tawar Rangga.
"Kalau gitu pakai tangan." tawar Rangga lagi sambil menarik tangan Nara untuk menyentuh si walet yang sudah berdiri tegak.
Nara langsung menghentak tangan Rangga hingga tangannya terlepas dari tangannya.
"Gak bisa Mas, badan aku sakit semua. Tangan aku juga lemes banget." tolak Nara sambil melepaskan tangannya yang di pegang Rangga.
"Tapi aku lagi pengen banget sayang. Ayolah." rengek Rangga.
"Besok aja yah Mas. Please aku ngantuk banget, badan aku juga sakit banget." jawab Nara.
Rangga menghela nafasnya kasar.
Cup. Lalu mencium kening Nara.
"Ya udah kamu istirahat aja, biar aku selesaikan sendiri." ucap Rangga.
Rangga pun beranjak dari tempat tidur lalu masuk kembali kedalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Rangga pun menuntaskan sendiri hasratnya yang sedang bergejolak.
💋💋💋
Keesokan paginya.
Pukul 06.00
Pagi ini Nara bangun lebih dulu dari Rangga. Seperti pagi-pagi sebelumnya sebelum mandi, hal yang pertama Nara lakukan adalah membersihkan rumah dan mencuci pakaian.
Saat Nara mengambil pakaian yang semalam Rangga pakai, Nara mencium aroma parfum yang bukan aroma parfum Rangga dan yang pasti juga bukan aroma parfum Nara.
"Ini kan parfum perempuan?" gumam Nara.
Saat Nara membalikkan baju itu, Nara melihat ada cap bibir di baju suami-nya dan Nara yakini itu adalah cap bibir wanita selingkuhan Rangga. Tubuh Nara seketika langsung lemas melihat cap bibir wanita lain di baju suami-nya. Nara semakin yakin kalau semalam suami-nya itu habis bersenang-senang dengan perempuan lain. Nara melipat bibirnya rapat-rapat dan mendongakkan wajah-nya keatas agar air matanya tidak tumpah. Tapi sekuat apapun Nara menahannya, Nara hanyalah manusia biasa yang hatinya bisa hancur. Air mata yang sejak semalam berusaha Nara tahan pun lolos begitu saja dari mata Nara.
Di ruang laundry itu, Nara pun menangis sambil menggigit ujung piyama tidurnya agar tangisnya tidak mengeluarkan suara.
💋💋💋
Bersambung...