
"Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi Nara. Please sekali lagi. Aku tau sekarang kamu masih marah sama aku, kita coba beberapa bulan lagi menjalani rumah tangga ini, kalau memang hati mu masih tidak bisa percaya sama aku, maka aku akan menerima apapun keputusan mu nanti." mohon Rangga sambil menundukkan kepalanya.
Nara terdiam sambil memikirkan kata-kata Rangga.
Karena tak mendengar jawaban Nara, Rangga pun mendongakkan wajahnya.
"Please kasih waktu aku enam bulan." mohon Rangga sekali lagi dengan wajah yang sangat memelas.
Nara menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghelanya kasar.
"Baik. Aku kasih kamu waktu enam bulan. Tapi kalau selama enam bulan itu kepercayaan aku belum balik seperti dulu, kamu janji harus bisa terima keputusan aku apapun itu." jawab Nara.
"Iya, aku janji Sayang. Aku akan terima keputusan kamu apapun itu. Tapi aku yakin aku bisa mengembalikan kepercayaan kamu lagi." balas Rangga mantap.
Rangga pun berdiri dari posisinya yang berjongkok lalu mengikis jarak antara dirinya dan Nara kemudian menggenggam erat tangan Nara.
"Makasih Sayang kamu mau kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku akan pergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk mengembalikan kepercayaan kamu lagi." ucap Rangga.
"Hemh..." balas Nara lalu melepas tangan Rangga yang sedang menggenggam tangannya kemudian berlalu dari hadapan Rangga.
Namun, baru Nara berjalan beberapa langkah tiba-tiba Rangga memeluk Nara dari belakang.
"Terimakasih Sayang, terimakasih kamu sudah memberikan aku kesempatan satu kali lagi. Aku janji akan menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki diri aku agar semakin layak menjadi suami kamu hingga kamu bisa kembali percaya sama aku." ucap Rangga.
Nara tidak menjawab dan malah melepas tangan Rangga yang melingkar di perutnya.
"Selama enam bulan, aku gak mau ada kontak fisik diantara kita. Apalagi sampai berhubungan badan. Kita tidur di kamar terpisah." ucap Nara tanpa membalikkan tubuhnya menghadap Rangga.
"Mmm... Aku mengerti. Tapi kamu jangan pernah menolak perhatian yang aku berikan untuk kamu." balas Rangga.
Nara tidak menjawab dan malah meneruskan langkahnya menuju kamar.
Setelah Nara masuk kedalam kamar, Rangga menghela nafasnya lega.
"Aku yakin pasti aku bisa ngedapetin hati kamu lagi Ra. Ayo semangat Ga, semangat!" ucap Rangga menyemangati dirinya sendiri.
💋💋💋
Keesokan paginya.
Pagi ini Nara sudah siap berangkat kerja, padahal tubuhnya masih demam dan lemas, kepalanya juga masih sedikit pusing. Tapi karena dia sudah bosan dirumah dan pikirannya terus teringat akan perselingkuhan Rangga kalau dia hanya diam dirumah, Nara pun memutuskan untuk masuk kerja.
"Loh kamu mau berangkat kerja?" tanya Rangga saat melihat Nara sudah rapih dengan pakaian kerjanya. Rangga pun meletakkan nampan di meja kecil samping sofa yang ada di depan tempat tidur.
"Hemh..." jawab Nara yang sedang memasukkan ponsel dan dompet kedalam tasnya.
"Kamu kan masih sakit Sayang, istirahat aja dulu dirumah toh besok juga udah hati Sabtu." ucap Rangga.
"Aku bosen dirumah gak ngapa-ngapain. Kalau aku gak ngapa-ngapain video mesum kamu sama gundik kamu terus berputar-putar di otak aku! Jadi daripada aku gila, mending aku kerja dan gunain otak aku ini untuk mikirin hal yang berguna." jawab Nara.
Rangga berdehem sambil menghela nafas panjang. Perdebatan masalah Nara yang ingin masuk kerja pun Rangga akhiri sampai disini, ia tidak lagi memaksa Nara untuk tetap diam di rumah daripada masalahnya makin panjang.
"Ya sudah kalau mau kamu begitu. Kalau begitu kamu sarapan dulu, ini aku udah buatin susu sama roti. Tadinya aku mau buatin kamu nasi goreng tapi aku tau kamu gak makan berat kalau pagi, jadi aku buatin kamu roti sama susu aja." ucap Rangga.
Tanpa membalas kata-kata Rangga, Nara pun berjalan mendekati meja kecil itu lalu melahap roti isi yang Rangga buatkan.
"Pelan-pelan Sayang makannya, kan waktunya masih lama." ucap Rangga karena Nara makan terburu-buru.
Nara tidak memperdulikan kata-kata Rangga. Ia terus saja memasukkan roti kedalam mulutnya sampai pipinya menggelembung. Begitu roti ditangannya habis dan roti yang Nara kunyah juga belum begitu hancur, Nara sudah mengambil gelas susu dan menenggak susu dengan cepat. Untungnya Nara tidak tersedak karena itu.
PRAK. Nara meletakkan gelas yang sudah kosong kembali keatas nampan.
"Udah habis. Aku pergi kerja dulu." ucap Nara lalu menyambar tasnya dan berjalan keluar dari kamar.
"Sayang tunggu." cegah Rangga sambil mengekori Nara dari belakang.
"Aku anter yah." tawar Rangga.
"Gak usah, aku bisa nyetir sendiri." tolak Nara.
"Kemaren kan kita udah sepakat kamu gak akan nolak perhatian yang aku berikan." ucap Rangga.
"Memangnya aku setuju? Gak kan?" Balas Nara lalu meneruskan langkahnya keluar dari rumah.
Rangga hanya bisa menghela nafasnya kasar saat melihat Nara masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya keluar dari rumah.
"Oke gak pa-pa, seenggaknya dia makan roti dan minum susu yang aku buat. Hari ini aku belum berhasil Nara, tapi besok atau besoknya lagi atau besok besoknya lagi aku yakin pasti bisa antar Nara." ucap Rangga menyemangati dirinya sendiri.
💋💋💋
Bersambung...