
Keesokan harinya.
Nara sudah memasukkan pendaftaran secara online ke rumah sakit yang di rekomendasikan Indah. Jadi sekarang tinggal menunggu balasan kapan Nara dan Rangga harus pergi ke Singapura.
Jam terus berputar, tak terasa sudah waktunya pulang bekerja. Nara tidak langsung pulang karena masih ada beberapa berkas yang harus ia selesaikan hari ini juga.
Dari pagi sampai detik ini, Nara bolak-balik mengecek email masuk untuk melihat balasan dari rumah sakit. Tapi ternyata belum juga ada balasan.
Kriiing...
Baru saja Nara meletakkan ponsel-nya diatas meja, tiba-tiba ponsel-nya berdering. Panggilan masuk dari Rangga.
Nara pun mengangkat lagi ponsel-nya lalu menggeser tombol hijau.
"Ya Mas..." jawab Nara.
"Belum pulang?" tanya Rangga.
"Belum Mas, mungkin satu jam lagi." jawab Rangga.
"Oh... Aku udah di bawah nih." balas Rangga.
"Hah? Kan aku gak minta di jemput Mas, kan aku bawa mobil sendiri." jawab Nara.
"Ya mobil kamu tinggal disini aja, aku mau ngajak kamu makan malam di kafe waktu kita pacaran dulu." balas Rangga.
"Iiikh... kamu tuh aneh deh Mas, dari kemaren kok berubah romantis gitu?" balas Nara.
"Suami-nya lagi pengen romantis-romantisan malah di bilang aneh, nanti giliran suami-nya cuek di bilang punya selingkuhan. Terus aku harus jadi suami yang gimana?" tanya Rangga.
"Ya udah tunggu sebentar yah, aku turun ke bawah." balas Nara.
Nara pun menutup teleponnya lalu turun ke bawah untuk menjemput Rangga. Sebelum mereka ke kafe yang Rangga katakan, Nara terlebih dulu menyelesaikan pekerjaannya.
💋💋💋
Kini Nara dan Rangga sudah berada di kafe. Biasanya kafe itu juga menyediakan live music kalau diatas jam delapan malam, tapi karena mereka sampai di kafe itu masih jam tujuh, jadi belum ada live music.
Setelah memesan makanan untuk makan malam mereka, Nara pun izin ke toilet.
"Aku ke toilet dulu yah, Mas." ucap izin Nara dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Rangga.
"Eh... Tapi kayaknya tissue basah ku tinggal deh di mobil, Mas." ucap Nara saat dirinya baru berdiri.
"Ya udah, aku ambil dulu." ucap Rangga.
"Gak usah, aku aja." tolak Nara.
"Aku aja Sayang." cegah Rangga. Kenapa Rangga mencegah? Karena takut Nara melihat ponsel kedua-nya. Ya, walaupun ponsel itu sudah Rangga simpan di tempat yang menurutnya sangat aman dan tidak akan diketahui oleh Nara.
Ingin rasanya Rangga merampas kunci mobil itu dari Nara, tapi kalau ia merampas, takutnya Nara curiga ada sesuatu didalam mobil-nya. Jadi mau tidak mau Rangga pun membiarkan Nara mengambil sendiri tissue basah yang tertinggal di mobil.
Nara pun berjalan keluar dari dalam kafe menuju parkiran.
Huuuh... semoga Nara gak nemuin ponsel itu. Doa Rangga dalam hati.
Sesampainya di mobil, Nara langsung mengambil tissue basah yang tertinggal di dasbor. Saat hendak menutup kembali pintu mobil, tiba-tiba Nara mendengar suara sesuatu yang bergetar.
"Suara apaan tuh." gumam Nara sambil menajamkan pendengarannya. Karena suara getaran itu tidak mau berhenti, Nara pun menjadi penasaran, ia pun mencari-cari dimana sumber suara itu.
Sampai akhirnya ia menemukan sumber suara yang berasal dari jok belakang. Nara pun membuka pintu belakang untuk mencari sumber suara. Saat ia sudah menemukan di jok mana suara getaran itu berasal, tiba-tiba seseorang menarik tangan Nara. Siapa lagi kalau bukan Rangga.
"Astaga Mas, bikin kaget aja!" pekik Nara.
"Kamu ngapain kok lama banget ngambil tissue aja!" tanya Rangga.
"Mmmm... aku tadi kayak denger ada suara-suara yang bergetar gitu Mas dari jok itu." jawab Nara.
Rangga pun pura-pura menajamkan pendengarannya.
"Gak ada kok." ucap Rangga.
Nara pun juga menajamkan pendengarannya dan suara getaran itu memang sudah tidak ada lagi.
"Perasaan kamu aja itu Sayang, mungkin telinga kamu yang berdegung." ucap Rangga.
"Udah yuk masuk." Rangga pun menutup kembali pintu belakang kemudian pintu depan yang Nara buka lalu mengunci mobil-nya dengan remote setelah itu mereka pun kembali masuk ke kafe.
Aku beneran denger kok, suara itu jelas banget tadi. Gumam Nara dalam hati.
Huuh... Untung aja aku ponsel-nya aku pake mode getar. Gumam Rangga dalam hati.
💋💋💋
Sebelum Rangga menghampiri Nara.
Tak lama setelah Nara keluar dari kafe, Rangga pun memutuskan untuk mengikuti Nara dan memperhatikan Nara dari jauh, jaga-jaga kalau sampai Nara membuka pintu belakang. Kalau sampai Nara membuka pintu belakang, fix dia sedang mencari sesuatu. Begitulah pikir Rangga.
Dan benar saja, tak lama Rangga melihat Nara membuka pintu belakang. Melihat itu, Rangga pun langsung menghubungi Erika untuk memastikan apa Erika sedang menghubungi ponsel kedua Rangga dan ternyata nomor Erika sedang sibuk. Karena sedang sibuk, Rangga pun mengirim pesan pada Erika untuk berhenti menelpon ke ponsel-nya yang kedua.
Setelah mengirim pesan pada Erika, cepat-cepat Rangga menghampiri Nara sebelum Nara mengangkat salah satu jok belakang, dimana ia menyembunyikan ponsel kedua-nya.
💋💋💋
Bersambung...